Saat ini kita berada pada bulan Rajab
dimana ini adalah bulan yang sangat isimewa. Keistimewaan itu berasal dari
sebuah peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 27 Rajab 2 tahun sebelum Nabi
Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Peristiwa tersebut adalah peristiwa Isra’ dan
Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Makkah menuju Masjid Al Aqsho
di Palestina. Kejadian ini juga diabadikan dalam Surat Al Isra ayat pertama.
Pada peristiwa ini Rasulullah SAW menerima perintah secara langsung dari Allah
yaitu Sholat. Berbeda dengan perintah Allah seperti puasa dan zakat yang
melalui perantaraan malaikat Jibril Sholat memiliki nilai yang luar biasa.
Sholat merupakan rukun Islam kedua
setelah mengucapkan 2 kalimat syahadat. Sebuah perintah sebagai pembuktian dari
persaksian kita bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah SWT
dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Secara gambling sebagai umat Islam
dan mengaku berTuhan kepada Allah tentunya akan melaksanakan sholat. Selain itu
sholat juga adalah ibadah pertama yang akan dihisab di yaumul akhir kelak.
Sholat juga merupakan tiang agama juga sebagai pembeda antara orang mukmin dan
orang kafir.
Sebagai hamba Allah yang dhoif (lemah)
tentunya kita sadar bahwa apapun milik kita saat ini pada hakikatnya bukan
milik kita melainkan milik Allah SWT. Sejak kecil kita diajarkan oleh orang tua
kita ataupun guru kita jika kita memperoleh nikmat hendaknya mengucapkan
Alhamdulillah sebagai tanda kesyukuran kita kepada Allah SWT. Kita sadar
ataupun tidak bahwasannya nikmat Allah selalu mengalir setiap detik.
“Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar Rahman:13)
Adanya
kita di dunia ini, apapun yang terjadi pada diri kita apakah kita dalam keadaan
memperoleh kebahagiaan ataupun kesusahan tersimpan hikmah yang patut kita
syukuri. Ketika memperoleh kebahagiaan jagalah hati kita bahwa ini adalah
nikmat dari Allah SWT dan jika kita mengalami kesulitan maka syukurilah bahwa
ini adalah cara Allah agar kita mendekatkan diri pada-Nya. Lihatlah ke atas
agar kita optimis dan lihatlah ke bawah agar kita bersyukur.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih". (Q.S. Ibrahim:7)
Dari
ayat tersebut menunjukkan pentingnya bersyukur kepada Allah. Kaitannya dengan
sholat. Sebagai mukmin kita meyakini bahwa rasa syukur tidak bisa hanya
ditunjukkan dengan ucapan hamdallah saja. Salah satunya adalah dengan
melaksanakan sholat. Mengapa sholat bisa dijadikan indikator rasa syukur kita
kepada Allah. Sholat adalah ibadah utama dimana seorang manusia dekat dengan
Tuhan-Nya.
“ Maka bertasbihlah
dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud
(shalat),” (Q.S. Al Hijr: 98)
“ Segala puji bagi
Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al Fatihah:2)
Salah
satu rukun sholat adalah surat Al-Fatihah. Surat yang wajib dibaca dalam setiap
sholat. Saat sholat kita mengakui segala kelemahan kita dan senantiasa
memuji-Nya paling sedikit 17 kali dalam sehari. Sungguh jika kita memaknai arti
dari setiap bacaan sholat kita kita akan merasa kecil dihadapan Allah SWT. Saat
sujud, inilah posisi kita yang menunjukkan bahwa kita harus tunduk kepada Allah
SWT. Sungguh orang-orang yang melaksanakan sholat dengan khusyuk telah
menunjukkan tanda kesyukurannya kepada Allah.
Jika
saat ini banyak kaum muslimin dan muslimat sibuk bekerja atau sibuk dengan
aktivitasnya hingga lalai pada kewajiban Sholat. Hingga muncul istilah subuh
kesiangan, dzuhur kerepotan, ashar diperjalanan, magrib kecapean, dan isya’ ketiduran. Akhirnya tidak satu sholatpun yang
dikerjakan.
Melalaikan
sholat sama saja dengan mengabaikan hak Allah atas kita sebagaimana tujuan kita
diciptakan di dunia ini untuk menyembah Allah. Melalaikan sholat berarti kita
tidak mau menyembah Tuhan yang telah memberi kita mata, hidung, telinga,
tangan, kaki, nafas kehidupan dan nikmat-nikmat lainnya. Kita dilahirkan dalam
keadaan yang baik, dirawat oleh orang tua yag baik, diajarkan ilmu-ilmu agama
hingga kita mengenal agama ini. Sedangkan di sana ada bayi yang dibuang oleh
ibunya sendiri, ia tidak dirawat apalagi dikenalkan dengan agama. Kondisinya
jauh lebih memprihatinkan daripada kondisi kita saat ini. Masihkah kita tidak
mau bersyukur.
Melalaikan
sholat sama artinya dengan tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah
berikan. Apa pantas kita telah memperoleh kebaikan dunia, nikmat yang banyak,
lalu waktu kita habis hanya untuk urusan dunia sedangkan sedikitpun waktu tidak
kita berikan kepada Allah.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama
yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian Itulah agama yang lurus. (Q.S. Al Bayyinah:5)
Ada
sebuah kondisi dalam masyarakat kita yang sering beranggapan bahwa orang yang
tidak sholat justru lebih kaya secara materi daripada kaum muslimin sehingga
memberikan kesimpulan bahwa sholat tidak ada hubungannya dengan rejeki dan juga
tidak ada hubungannya dengan syukur.
Allah
SWT bersifat Ar Rahman (Maha Pemurah). Semua makhluk di dunia ini telah dijamin
rizkinya oleh Allah SWT. Namun ada nikmat yang tidak semua orang bisa
memilikinya yaitu nikmat Iman dan Islam. Abu Thalib, paman nabi Muhammad SAW
telah banyak berkorban untuk nabi, melindungi nabi, namun nikmat Iman dan Islam
tidak diperolehnya sampai hembusan nafas terakhirnya. Saat ini kita telah
memperoleh nikmat Iman dan Islam apakah kita masih tidak bersyukur?
Sebuah
contoh dalam masyarakat kita ada seseorang yang sholeh dan selalu tidak pernah
ketinggalan sholat fardhu berjamaah di masjid. Anggaplah ia si fulan. Si fulan
adalah pengangguran yang setiap hari berdoa agar bisa mendapatkan pekerjaan,
dan rizki yang cukup. Hingga Allah pun mengabulkan doa si fulan. Ia mendapatkan
pekerjaan. Awal-awal ia bekerja ia masih istiqomah agar tidak meninggalkan
sholat berjamaah. Hingga pekerjaannya semakin baik, gajinya pun naik namun
dengan sedikit ujian yaitu ia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia sudah tidak
lagi sholat berjamaah di masjid. Awalnya ia sholat sendiri hingga akhirnya
sering mengulur waktu sholat dan malah melalaikan sholat. Hingga suatu hari ia
di-PHK.
Si fulan kehilangan dua unsur penting dalam
dirinya yaitu syukur dan istiqomah. Kebanyakan dari kita mungkin juga termasuk
saya sering lupa ketika diberi nikmat oleh Allah. Sering mengulur waktu sholat
atau mungkin malah melalaikan sholat.
Maka kecelakaanlah bagi
orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Q.S. Al Ma’un
: 4-5)
Jika
akhirnya kita mendapat kesulitan karena melalaikan perintah Allah SWT berarti
sesuai dengan janji Allah dalam Q.S. Ibrahim ayat 7 di atas. Ambillah hikmahnya
semuanya ditetapkan Allah agar kita senantiasa mengingat Allah SWT.
Para
pembaca yang dirahmati Allah. Marilah kita ingat-ingat kembali nikmat-nikmat
Allah yang tak terhitung yang telah diberikan-Nya kepada kita. Tentunya kita
tidak ingin disebut hamba yang yang tidak pandai berterima kasih kepada Allah
SWT. Marilah kita tunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala
nikmat yang telah diberikan-Nya dengan mendirikan sholat dengan khusyu’.
Meningkatkan kualitas sholat kita dan senantiasa mengharap petunjuk-Nya dalam
menjalani kehidupan ini. Wallahu’alam
bish Shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar