Sabtu, 26 Juli 2014

SHOLAT SEBAGAI TANDA KESYUKURAN KEPADA ALLAH SWT



Saat ini kita berada pada bulan Rajab dimana ini adalah bulan yang sangat isimewa. Keistimewaan itu berasal dari sebuah peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 27 Rajab 2 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Peristiwa tersebut adalah peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Makkah menuju Masjid Al Aqsho di Palestina. Kejadian ini juga diabadikan dalam Surat Al Isra ayat pertama. Pada peristiwa ini Rasulullah SAW menerima perintah secara langsung dari Allah yaitu Sholat. Berbeda dengan perintah Allah seperti puasa dan zakat yang melalui perantaraan malaikat Jibril Sholat memiliki nilai yang luar biasa.
Sholat merupakan rukun Islam kedua setelah mengucapkan 2 kalimat syahadat. Sebuah perintah sebagai pembuktian dari persaksian kita bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Secara gambling sebagai umat Islam dan mengaku berTuhan kepada Allah tentunya akan melaksanakan sholat. Selain itu sholat juga adalah ibadah pertama yang akan dihisab di yaumul akhir kelak. Sholat juga merupakan tiang agama juga sebagai pembeda antara orang mukmin dan orang kafir.
Sebagai hamba Allah yang dhoif (lemah) tentunya kita sadar bahwa apapun milik kita saat ini pada hakikatnya bukan milik kita melainkan milik Allah SWT. Sejak kecil kita diajarkan oleh orang tua kita ataupun guru kita jika kita memperoleh nikmat hendaknya mengucapkan Alhamdulillah sebagai tanda kesyukuran kita kepada Allah SWT. Kita sadar ataupun tidak bahwasannya nikmat Allah selalu mengalir setiap detik.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar Rahman:13)

Adanya kita di dunia ini, apapun yang terjadi pada diri kita apakah kita dalam keadaan memperoleh kebahagiaan ataupun kesusahan tersimpan hikmah yang patut kita syukuri. Ketika memperoleh kebahagiaan jagalah hati kita bahwa ini adalah nikmat dari Allah SWT dan jika kita mengalami kesulitan maka syukurilah bahwa ini adalah cara Allah agar kita mendekatkan diri pada-Nya. Lihatlah ke atas agar kita optimis dan lihatlah ke bawah agar kita bersyukur.
 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim:7)

Dari ayat tersebut menunjukkan pentingnya bersyukur kepada Allah. Kaitannya dengan sholat. Sebagai mukmin kita meyakini bahwa rasa syukur tidak bisa hanya ditunjukkan dengan ucapan hamdallah saja. Salah satunya adalah dengan melaksanakan sholat. Mengapa sholat bisa dijadikan indikator rasa syukur kita kepada Allah. Sholat adalah ibadah utama dimana seorang manusia dekat dengan Tuhan-Nya.

“ Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),” (Q.S. Al Hijr: 98)

“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al Fatihah:2)

Salah satu rukun sholat adalah surat Al-Fatihah. Surat yang wajib dibaca dalam setiap sholat. Saat sholat kita mengakui segala kelemahan kita dan senantiasa memuji-Nya paling sedikit 17 kali dalam sehari. Sungguh jika kita memaknai arti dari setiap bacaan sholat kita kita akan merasa kecil dihadapan Allah SWT. Saat sujud, inilah posisi kita yang menunjukkan bahwa kita harus tunduk kepada Allah SWT. Sungguh orang-orang yang melaksanakan sholat dengan khusyuk telah menunjukkan tanda kesyukurannya kepada Allah.
Jika saat ini banyak kaum muslimin dan muslimat sibuk bekerja atau sibuk dengan aktivitasnya hingga lalai pada kewajiban Sholat. Hingga muncul istilah subuh kesiangan, dzuhur kerepotan, ashar diperjalanan, magrib kecapean, dan isya’ ketiduran. Akhirnya tidak satu sholatpun yang dikerjakan.
Melalaikan sholat sama saja dengan mengabaikan hak Allah atas kita sebagaimana tujuan kita diciptakan di dunia ini untuk menyembah Allah. Melalaikan sholat berarti kita tidak mau menyembah Tuhan yang telah memberi kita mata, hidung, telinga, tangan, kaki, nafas kehidupan dan nikmat-nikmat lainnya. Kita dilahirkan dalam keadaan yang baik, dirawat oleh orang tua yag baik, diajarkan ilmu-ilmu agama hingga kita mengenal agama ini. Sedangkan di sana ada bayi yang dibuang oleh ibunya sendiri, ia tidak dirawat apalagi dikenalkan dengan agama. Kondisinya jauh lebih memprihatinkan daripada kondisi kita saat ini. Masihkah kita tidak mau bersyukur.
Melalaikan sholat sama artinya dengan tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Apa pantas kita telah memperoleh kebaikan dunia, nikmat yang banyak, lalu waktu kita habis hanya untuk urusan dunia sedangkan sedikitpun waktu tidak kita berikan kepada Allah.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (Q.S. Al Bayyinah:5)

Ada sebuah kondisi dalam masyarakat kita yang sering beranggapan bahwa orang yang tidak sholat justru lebih kaya secara materi daripada kaum muslimin sehingga memberikan kesimpulan bahwa sholat tidak ada hubungannya dengan rejeki dan juga tidak ada hubungannya dengan syukur.
Allah SWT bersifat Ar Rahman (Maha Pemurah). Semua makhluk di dunia ini telah dijamin rizkinya oleh Allah SWT. Namun ada nikmat yang tidak semua orang bisa memilikinya yaitu nikmat Iman dan Islam. Abu Thalib, paman nabi Muhammad SAW telah banyak berkorban untuk nabi, melindungi nabi, namun nikmat Iman dan Islam tidak diperolehnya sampai hembusan nafas terakhirnya. Saat ini kita telah memperoleh nikmat Iman dan Islam apakah kita masih tidak bersyukur?
Sebuah contoh dalam masyarakat kita ada seseorang yang sholeh dan selalu tidak pernah ketinggalan sholat fardhu berjamaah di masjid. Anggaplah ia si fulan. Si fulan adalah pengangguran yang setiap hari berdoa agar bisa mendapatkan pekerjaan, dan rizki yang cukup. Hingga Allah pun mengabulkan doa si fulan. Ia mendapatkan pekerjaan. Awal-awal ia bekerja ia masih istiqomah agar tidak meninggalkan sholat berjamaah. Hingga pekerjaannya semakin baik, gajinya pun naik namun dengan sedikit ujian yaitu ia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia sudah tidak lagi sholat berjamaah di masjid. Awalnya ia sholat sendiri hingga akhirnya sering mengulur waktu sholat dan malah melalaikan sholat. Hingga suatu hari ia di-PHK.
 Si fulan kehilangan dua unsur penting dalam dirinya yaitu syukur dan istiqomah. Kebanyakan dari kita mungkin juga termasuk saya sering lupa ketika diberi nikmat oleh Allah. Sering mengulur waktu sholat atau mungkin malah melalaikan sholat.

 Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (Q.S. Al Ma’un : 4-5)

Jika akhirnya kita mendapat kesulitan karena melalaikan perintah Allah SWT berarti sesuai dengan janji Allah dalam Q.S. Ibrahim ayat 7 di atas. Ambillah hikmahnya semuanya ditetapkan Allah agar kita senantiasa mengingat Allah SWT.
Para pembaca yang dirahmati Allah. Marilah kita ingat-ingat kembali nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung yang telah diberikan-Nya kepada kita. Tentunya kita tidak ingin disebut hamba yang yang tidak pandai berterima kasih kepada Allah SWT. Marilah kita tunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya dengan mendirikan sholat dengan khusyu’. Meningkatkan kualitas sholat kita dan senantiasa mengharap petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan ini. Wallahu’alam bish Shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar