Karunia yang begitu besar dari Allah SWT yang telah memberikan kita
kemampuan berbicara, mendengarkan, berpikir, dan merasakan dengan hati. Sungguh
sangat celaka jika kita tidak mensyukurinya bahkan mengkufurinya dengan maksiat
yang kita lakukan. Cerita adalah sesuatu hal yang menarik untuk di dengarkan..
Dari anak-anak, remaja, sampai orang dewasa tentunya sangat menyukai cerita.
Namun cerita yang kita bahas saat ini bukanlah sembarang cerita. Bukan cerita
tentang keburukan saudara kita, bukan kebohongan, fitnah ataupun ghibah.
Mari kita belajar dari anak-anak yang menjadi orang hebat di
karenakan cerita.
1.
Ali bin Abi
Thalib
Ali bin Abi Thalib adalah anak dari pamannya Nabi Muhammad SAW yang
bernama Abu Thalib. Jadi Ali adalah sepupu Rasulullah SAW. Ia sudah masuk agama
Islam saat usia anak-anak. Sejak kecil ia selalu membersamai perjuangan
Rasulullah SAW. Sejak kecil Ali bin Abi Thalib mendapatkan pelajaran dari
Rasulullah SAW tentang bagaimana kisah umat-umat terdahulu. Bagaimana perilaku
bani Isroil kepada para nabi-nabinya. Sejarah mencatat kisah heroik Ali bin Abi
Thalib saat perang Al Ahzab (Khandaq). Ia menjadi orang yang cerdas dan
pemberani dan menjadi khalifah ke empat setelah wafatnya Rasulullah SAW.
2.
Salahudin Al
Ayubi
Ketika
Palestina (Jerusalem) di kuasai raja Richard yang bergelar The Lion Heart kaum
muslimin dalam keadaan tertindas. Sejak kecil Salahudin Al Ayubi telah dididik
oleh orang tuanya tentang sejarah perjuangan dakwah Rasulullah SAW dan para
sahabat yang luar biasa. Hingga tertanam tekad dalam hatinya untuk membebaskan
Jerusalem dan masjid Al Aqsho. Setelah dewasa ia ingin menguatkan tekad itu
kepada para pemuda muslim Palestina dengan membuat sayembara penulisan sejarah
hidup Nabi Muhammad SAW. Dan yang memenangkan sayembara ini adalah Muhammad
Ja’far Al Barzanji dengan kitabnya Al Barzanji. Dan inilah yang membuat
semangat pemuda muslim melejit. Dengan takbir dan sholawat kaum muslimin berperang
untuk merebut kembali kota Jerusalem dan masjid Al Aqsho. Dan kemenanganpun
dapat di raih.
3.
Sultan Muhammad
II (Muhammad Al Fatih)
Sultan Muhammad
II adalah sultan dari kerajaan Ottoman Turki Usmani pusat dari kekhilafahan
saat itu. Termotivasi dari hadits Rasulullah SAW
“Kelak benteng konstantinopel (Romawi
Timur) akan kalian taklukkan dan yang menaklukkannya adalah sebaik-baik
pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan”. (H.R. Ahmad)
Beberapa pendahulunya mencoba menaklukannya
namun tidak satupun ada yang berhasil. Sejak kecil Muhammad II telah dididik
dengan guru-guru terbaik dengan mengajarkan kisah-kisah heroik dan tertanam
tekad dalam hatinya bahwa yang dimaksud hadits ini adalah dirinya. Sultan
Muhammad II tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah, sholat sunnah rawatib
dan tahajud sejak aqil baligh sebagai upaya kepantasan agar Allah SWT
memilihnya menjadi penakluk konstantinopel. Dan ia juga memilih prajurit dengan
seleksi yang ketat. Bukan hanya masalah fisik tetapi prajurit yang di pilih
adalah yang selalu tahajud setiap malam.
Sejarah mencatat Sultan Muhammad II berhasil menaklukkan konstantinopel
di tahun 1453 M dengan strategi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Mengangkat 72 kapal melewati bukit Galata untuk memasuki wilayah
konstantinopel. Dan sekarang konstantinopel dikenal sebagai kota Istambul
Turki. Muhammad II pun bergelar Muhammad Al Fatih.
Lalu apa yang
saat ini telah kita ceritakan kepada anak-anak kita. Seperti apa anak-anak kita
saat ini adalah sebagaimana cerita yang pernah ia dengar. Jangan salahkan
negeri kita banyak koruptor jika waktu kecilnya ia mengidolakan Si kancil
mencuri ketimun. Atau ada orang yang bersalah namun mencari jalan aman
sebagaimana kisah Si kancil menipu buaya untuk melewati sungai. Jika
kita ingin memiliki anak yang jujur ceritakanlah kisah orang-orang jujur. Jika
kita ingin anak-anak kita hafidz (penghafal Qur’an) maka ceritakan tentang
kisah para hafidz. Jika kita ingin anak-anak kita jadi pemberani ceritakanlah
kisah para sahabat yang pemberani. Jika kita ingin anak kita mencintai
negerinya ceritakanlah tentang para Pahlawan bangsa ini.
Mungkin ada yang bertanya apa yang harus kita ceritakan, dimana
mencarinya?
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan
Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya
adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.(Q.S.
Yusuf :3)
Kisah-kisah itu ada dalam Al Qur’an yang tiada keraguan sedikitpun
di dalamnya. Sungguh lebih dari setengah isi Al Qur’an menceritakan
kisah-kisah. Walaupun mendongeng juga baik untuk meningkatkan imajinasi
anak-anak kita, namun jika ada kisah yang nyata dan terbukti kebenarannya
mengapa bukan itu yang kita pilih. Ceritakanlah kisah-kisah dalam Al Qur’an.
Jika kita bingung menceritakan justru mungkin kita yang jarang membaca Al
Qur’an. Kisah para Nabi, kisang orang Sholeh bahkan kisah bangsa-bangsa yang di
azab oleh Allah semua ada di dalam Al Qur’an. Bahkan di toko-toko buku saat ini
sudah banyak menjual buku-buku cerita anak muslim.
Mengapa anak-anak harus mendengarkan cerita yang baik sejak kecil?
Karena di usia anak-anak mengalami proses perkembangan berpikir, fisik, dan
mental. Dengan menceritakan membantu anak dalam proses menerima pengetahuan,
lalu dengan bertanya tentang karakter tokoh yang diceritakan anak-anak bisa
berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka pun bisa berpikir mana yang
boleh ditiru dan mana yang tidak boleh ditiru. Kita tidak harus memberi nasehat
dan larangan secara langsung “harus begini, tidak boleh begini”. Kita bisa
memberi ruang bagi anak untuk berpendapat. Sebagaimana Nabi Ibrahim As meminta
pendapat kepada anaknya Nabi Ismail As.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar." (Q.S. Ash Shafat: 37)
Di luar konteks perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim As. Nabi
Ibrahim As menceritakan mimpinya pada anaknya dan meminta pendapat dari anaknya.
Dan sungguh kita dapat melihat bahwa Nabi Ismail As adalah anak yang sholeh.
Dengan bercerita juga anak-anak akan merasa sangat disayangi,
merasa sangat diperhatikan. Sangat jarang ditemui ada orang tua yang
menyempatkan diri memangku anaknya sambil menceritakan kisah-kisah para nabi
dan orang sholeh kepada anak-anaknya. Padahal sentuhan, suara, pelukan kita
sangat diharapkan anak-anak. Adakah orang tua yang tidak bahagia anaknya
tersenyum, tertawa bahagia karena perhatian kita. Dengan kenyamanan seperti ini
Insya Allah anak-anak akan lebih mempercayai kita untuk menceritakan masalah
yang mereka hadapi saat usia remaja. Jika ada yang mengatakan pendidikan
anak-anak, remaja dan dewasa itu berbeda, Bukan demikian tetapi pendidikan
mereka berlanjut sesuai psikologinya.
Dengan cerita anak-anak bisa belajar menyimpulkan sendiri. Dan
dengan cerita membuat anak akan selalu mengingat nilai-nilai dari cerita
tersebut sampai ia dewasa. Dengan cerita anak bisa menjadi sholeh ataupun
salah. Dengan cerita anak bisa menjadi pemberani atau penakut. Dengan cerita
anak bisa mencintai kita atau bahkan membenci kita. Karena sesungguhnya cerita
kita kepada anak-anak kita membentuk kepribadian mereka sampai mereka dewasa.
Wallahu’alam bish Shawwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar