Sabtu, 26 Juli 2014

MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK MUSLIM MELALUI CERITA



Karunia yang begitu besar dari Allah SWT yang telah memberikan kita kemampuan berbicara, mendengarkan, berpikir, dan merasakan dengan hati. Sungguh sangat celaka jika kita tidak mensyukurinya bahkan mengkufurinya dengan maksiat yang kita lakukan. Cerita adalah sesuatu hal yang menarik untuk di dengarkan.. Dari anak-anak, remaja, sampai orang dewasa tentunya sangat menyukai cerita. Namun cerita yang kita bahas saat ini bukanlah sembarang cerita. Bukan cerita tentang keburukan saudara kita, bukan kebohongan, fitnah ataupun ghibah.
Mari kita belajar dari anak-anak yang menjadi orang hebat di karenakan cerita.

1.   Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib adalah anak dari pamannya Nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Thalib. Jadi Ali adalah sepupu Rasulullah SAW. Ia sudah masuk agama Islam saat usia anak-anak. Sejak kecil ia selalu membersamai perjuangan Rasulullah SAW. Sejak kecil Ali bin Abi Thalib mendapatkan pelajaran dari Rasulullah SAW tentang bagaimana kisah umat-umat terdahulu. Bagaimana perilaku bani Isroil kepada para nabi-nabinya. Sejarah mencatat kisah heroik Ali bin Abi Thalib saat perang Al Ahzab (Khandaq). Ia menjadi orang yang cerdas dan pemberani dan menjadi khalifah ke empat setelah wafatnya Rasulullah SAW.

2.   Salahudin Al Ayubi
Ketika Palestina (Jerusalem) di kuasai raja Richard yang bergelar The Lion Heart kaum muslimin dalam keadaan tertindas. Sejak kecil Salahudin Al Ayubi telah dididik oleh orang tuanya tentang sejarah perjuangan dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat yang luar biasa. Hingga tertanam tekad dalam hatinya untuk membebaskan Jerusalem dan masjid Al Aqsho. Setelah dewasa ia ingin menguatkan tekad itu kepada para pemuda muslim Palestina dengan membuat sayembara penulisan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Dan yang memenangkan sayembara ini adalah Muhammad Ja’far Al Barzanji dengan kitabnya Al Barzanji. Dan inilah yang membuat semangat pemuda muslim melejit. Dengan takbir dan sholawat kaum muslimin berperang untuk merebut kembali kota Jerusalem dan masjid Al Aqsho. Dan kemenanganpun dapat di raih.

3.   Sultan Muhammad II (Muhammad Al Fatih)
Sultan Muhammad II adalah sultan dari kerajaan Ottoman Turki Usmani pusat dari kekhilafahan saat itu. Termotivasi dari hadits Rasulullah SAW

 “Kelak benteng konstantinopel (Romawi Timur) akan kalian taklukkan dan yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan”. (H.R. Ahmad)

 Beberapa pendahulunya mencoba menaklukannya namun tidak satupun ada yang berhasil. Sejak kecil Muhammad II telah dididik dengan guru-guru terbaik dengan mengajarkan kisah-kisah heroik dan tertanam tekad dalam hatinya bahwa yang dimaksud hadits ini adalah dirinya. Sultan Muhammad II tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah, sholat sunnah rawatib dan tahajud sejak aqil baligh sebagai upaya kepantasan agar Allah SWT memilihnya menjadi penakluk konstantinopel. Dan ia juga memilih prajurit dengan seleksi yang ketat. Bukan hanya masalah fisik tetapi prajurit yang di pilih adalah yang selalu tahajud setiap malam.  Sejarah mencatat Sultan Muhammad II berhasil menaklukkan konstantinopel di tahun 1453 M dengan strategi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mengangkat 72 kapal melewati bukit Galata untuk memasuki wilayah konstantinopel. Dan sekarang konstantinopel dikenal sebagai kota Istambul Turki. Muhammad II pun bergelar Muhammad Al Fatih.
Lalu apa yang saat ini telah kita ceritakan kepada anak-anak kita. Seperti apa anak-anak kita saat ini adalah sebagaimana cerita yang pernah ia dengar. Jangan salahkan negeri kita banyak koruptor jika waktu kecilnya ia mengidolakan Si kancil mencuri ketimun. Atau ada orang yang bersalah namun mencari jalan aman sebagaimana kisah Si kancil menipu buaya untuk melewati sungai. Jika kita ingin memiliki anak yang jujur ceritakanlah kisah orang-orang jujur. Jika kita ingin anak-anak kita hafidz (penghafal Qur’an) maka ceritakan tentang kisah para hafidz. Jika kita ingin anak-anak kita jadi pemberani ceritakanlah kisah para sahabat yang pemberani. Jika kita ingin anak kita mencintai negerinya ceritakanlah tentang para Pahlawan bangsa ini.
Mungkin ada yang bertanya apa yang harus kita ceritakan, dimana mencarinya?

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.(Q.S. Yusuf :3)

Kisah-kisah itu ada dalam Al Qur’an yang tiada keraguan sedikitpun di dalamnya. Sungguh lebih dari setengah isi Al Qur’an menceritakan kisah-kisah. Walaupun mendongeng juga baik untuk meningkatkan imajinasi anak-anak kita, namun jika ada kisah yang nyata dan terbukti kebenarannya mengapa bukan itu yang kita pilih. Ceritakanlah kisah-kisah dalam Al Qur’an. Jika kita bingung menceritakan justru mungkin kita yang jarang membaca Al Qur’an. Kisah para Nabi, kisang orang Sholeh bahkan kisah bangsa-bangsa yang di azab oleh Allah semua ada di dalam Al Qur’an. Bahkan di toko-toko buku saat ini sudah banyak menjual buku-buku cerita anak muslim.
Mengapa anak-anak harus mendengarkan cerita yang baik sejak kecil? Karena di usia anak-anak mengalami proses perkembangan berpikir, fisik, dan mental. Dengan menceritakan membantu anak dalam proses menerima pengetahuan, lalu dengan bertanya tentang karakter tokoh yang diceritakan anak-anak bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka pun bisa berpikir mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak boleh ditiru. Kita tidak harus memberi nasehat dan larangan secara langsung “harus begini, tidak boleh begini”. Kita bisa memberi ruang bagi anak untuk berpendapat. Sebagaimana Nabi Ibrahim As meminta pendapat kepada anaknya Nabi Ismail As.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Q.S. Ash Shafat: 37)

Di luar konteks perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim As menceritakan mimpinya pada anaknya dan meminta pendapat dari anaknya. Dan sungguh kita dapat melihat bahwa Nabi Ismail As adalah anak yang sholeh.
Dengan bercerita juga anak-anak akan merasa sangat disayangi, merasa sangat diperhatikan. Sangat jarang ditemui ada orang tua yang menyempatkan diri memangku anaknya sambil menceritakan kisah-kisah para nabi dan orang sholeh kepada anak-anaknya. Padahal sentuhan, suara, pelukan kita sangat diharapkan anak-anak. Adakah orang tua yang tidak bahagia anaknya tersenyum, tertawa bahagia karena perhatian kita. Dengan kenyamanan seperti ini Insya Allah anak-anak akan lebih mempercayai kita untuk menceritakan masalah yang mereka hadapi saat usia remaja. Jika ada yang mengatakan pendidikan anak-anak, remaja dan dewasa itu berbeda, Bukan demikian tetapi pendidikan mereka berlanjut sesuai psikologinya.
Dengan cerita anak-anak bisa belajar menyimpulkan sendiri. Dan dengan cerita membuat anak akan selalu mengingat nilai-nilai dari cerita tersebut sampai ia dewasa. Dengan cerita anak bisa menjadi sholeh ataupun salah. Dengan cerita anak bisa menjadi pemberani atau penakut. Dengan cerita anak bisa mencintai kita atau bahkan membenci kita. Karena sesungguhnya cerita kita kepada anak-anak kita membentuk kepribadian mereka sampai mereka dewasa.
Wallahu’alam bish Shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar