Sabtu, 26 Juli 2014

MENYIAPKAN DIRI UNTUK BERBAGI DI BULAN SUCI



Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bulan yang dinantikan kini akan tiba yaitu bulan Ramadhan. Salah satu persiapan yang harus kita lakukan adalah persiapan maliyah (materi). Mengapa persiapan ini dibutuhkan. Karena selain ibadah puasa dan sholat tarawih, ada ibadah lain yang sangat penting yaitu zakat, sedekah dan silaturahim. Sholat dan puasa mengatur hubungan kita kepada Allah sedangkan zakat, sedekah dan silaturahim mengatur hubungan kita kepada sesama manusia.
Jika diantara kita merasa bahwa sedekah itu sulit, maka kami sarankan kepada anda yang bakhil agar cukup bersedekah dengan senyuman.
“Senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (H.R. TIrmidzi)
Walaupun hadits diatas menerangkan bahwa senyum saja bisa bernilai sedekah namun bukan berarti kita hanya cukup tersenyum saja. Mengapa? Apakah ketika saudara kita dalam kesulitan masihkah kita tersenyum? Tentu tidak. Jika kita mengakui Allah SWT sebagai Tuhan kita dan nabi Muhammad SAW sebagai rasul yang diutus-Nya, hati kita pasti tergerak untuk membantu. Dengan membantu saudara kita kita telah berbagi senyuman kepada mereka.
Di bulan Ramadhan ini Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang telah diwajibkan kepada setiap muslim untuk dilaksanakan khususnya zakat fitrah. Yang membedakan antara zakat dan sedekah adalah ketentuannya. Zakat hukumnya wajib sebagaimana tercantum dalam rukun Islam. Syaratnya orang yang berzakat adalah orang yang telah memenuhi syaratnya. Untuk zakat fitrah diwajibkan kepada tiap individu di dalam bulan Ramadhan jika memiliki kecukupan untuk hari idul fitri. Sedangkan zakat mal ada batasan minimal(nisab) seseorang untuk mendapatkan status wajib zakat.
Zakat berdasarkan ijtihad ulama juga kini mengalami pengembangan. Saat ini dikenal ada istilah zakat emas dan perak /uang, zakat binatang ternak, zakat kekayaan dagang, Zakat pertanian, Zakat produksi hewani, zakat barang tambang dan hasil laut, zakat investasi, zakat pencarian dan profesi, zakat saham dan obligasi.
Adapun zakat-zakat tersebut memiki ketentuan batas besaran (nisab) dan waktu sehingga dapat dikatakan wajib zakat. Maka mulai sekarang segeralah berhitung seberapa banyak harta yang kita miliki, apakah kita wajib zakat atau tidak. Jangan sampai keborosan dan kekikiran kita membuat kita melalaikan perintah Allah yang wajib ini. Marilah kita siapkan diri kita untuk berzakat.
Berbeda dengan zakat, sedekah tidak memiliki ketentuan jumlah dan batasan waktu untuk bersedekah. Berapa saja dan kapan saja kita bisa bersedekah. Apalagi jika kita bersedekah di bulan Ramadhan.
Rasulullah bersabda : “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Setiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus kali lipat” (HR. Bukhari-Muslim)
Luar biasa pahala yang bisa kita peroleh di bulan Ramadhan. Saya rasa dengan pahala berlipat ganda dan moment ini hanya datang sekali dalam setahun selama sebulan tentunya sayang untuk disia-siakan. Sisihkan rezki yang kita miliki untuk membantu saudara-saudara kita.
Fenomena di kota kita saat ini, hampir di setiap masjid menyediakan takjil (makanan untuk berbuka puasa). Apakah kita hanya menjadi penikmat atau juga ingin turut berpartisipasi menyisihkan rezki kita untuk berbagi dengan sesama walau hanya dengan makanan kecil untuk berbuka puasa.
Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
 Mungkin diantara kita berpikir darimana kita bisa bersedekah sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup saja sulit. Ironis memang karena kondisi umat Islam di negeri ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2011 jumlah penduduk miskin di negara kita 30.018.930 jiwa. Marilah kita percaya janji Allah dalam Al Qur’an. 
Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (Q.S. Ath Thalaaq:7)
Ibaratnya seseorang memancing ikan kecil butuh umpan agar ia mendapat ikan. Jika menginginkan ikan yang lebih besar maka umpannya juga harus besar. Jika seseorang butuh rezki dari Allah maka ia perlu sedekah sebagaimana fungsi sedekah sebagai pembuka pintu datangnya rezki. Dengan menafkahkan rezki yang kita miliki itu sama artinya kita juga telah mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Lihatlah masih banyak orang yang jauh lebih membutuhkan daripada kita. Dengan bersedekah kita telah menolong saudara kita, mewujudkan rasa syukur kita, dan kita telah membuka pintu rezky buat kita.
“Dan Allah senatiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.”(H.R.Muslim)

Terkadang kita berpikir secara matematis terkait dengan harta yang kita miliki sehingga kita sulit berbagi. Jika kita memiliki uang Rp. 100.000,- lalu kita sedekahkan Rp. 10.000,- tentunya uang kita tersisa Rp. 90.000,-. Berpikir demikian adalah sangat rasional dan tidak ada salahnya karena manusia harus memiliki perncanaan. Jika kita mengingat kembali bahwasannya hidup manusia hanyalah sementara di dunia ini dan jika kita telah dipanggil Allah maka yang Rp. 90.000,- tersebut tidak bisa kita bawa ke alam barzakh, justru yang Rp. 10.000,- akan menemani kita sebagai amal kebaikan. Bukankan hanya amal yang akan menemani kita di alam akhirat. Maka hakikat sebenarnya harta kita bukanlah harta yang kita simpan tapi harta kita sebenarnya adalah harta yang kita nafkahkan di jalan Allah.
“Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan…kecuali ia bertambah…bertambah…bertambah” (H.R. Tirmidzi)
Allah tidak akan menyusahkan hambanya karena ia bersedekah. Jika kata bersedekah begitu rumit maka gantilah dengan kata berbagi. Karena jika kita berbagi dengan teman kita, atau saudara kita itu juga bernilai sedekah. Mulailah kita jika memperoleh rezky dari Allah berbagilah dengan orang lain apakah itu tetangga, teman, atau siapapun yang berhak dan lebih utama bagi orang yang sangat membutuhkan. Contoh sederhana dalam berbagi adalah Fulan membeli makanan berupa kue seharga Rp. 10.000,-  agar ia bisa memakannya bersama teman-temannya daripada ia makan bakso untuk dirinya sendiri. Sederhana bukan.
Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yag membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”(Q.S. Al-An’am:160)
Mungkin diantara kita pernah membaca buku atau mendengar ceramahnya Ustadz Yusuf Mansyur tentang keajaiban sedekah. Atau mungkin kita pernah mendengar istilah matematika sedekah 
segala ibadah di bulan Ramadhan dan juga memperoleh kemenangan hakiki di hari yang fitri. Wallahu’alam bish showwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar