Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.
Bulan yang dinantikan kini akan tiba yaitu bulan Ramadhan. Salah satu persiapan
yang harus kita lakukan adalah persiapan maliyah
(materi). Mengapa persiapan ini dibutuhkan. Karena selain ibadah puasa dan
sholat tarawih, ada ibadah lain yang sangat penting yaitu zakat, sedekah dan
silaturahim. Sholat dan puasa mengatur hubungan kita kepada Allah sedangkan
zakat, sedekah dan silaturahim mengatur hubungan kita kepada sesama manusia.
Jika diantara kita merasa bahwa sedekah
itu sulit, maka kami sarankan kepada anda yang bakhil agar cukup bersedekah
dengan senyuman.
“Senyum
di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.”
(H.R. TIrmidzi)
Walaupun hadits diatas menerangkan bahwa
senyum saja bisa bernilai sedekah namun bukan berarti kita hanya cukup
tersenyum saja. Mengapa? Apakah ketika saudara kita dalam kesulitan masihkah
kita tersenyum? Tentu tidak. Jika kita mengakui Allah SWT sebagai Tuhan kita dan
nabi Muhammad SAW sebagai rasul yang diutus-Nya, hati kita pasti tergerak untuk
membantu. Dengan membantu saudara kita kita telah berbagi senyuman kepada
mereka.
Di bulan Ramadhan ini Zakat merupakan
salah satu rukun Islam yang telah diwajibkan kepada setiap muslim untuk
dilaksanakan khususnya zakat fitrah. Yang membedakan antara zakat dan sedekah
adalah ketentuannya. Zakat hukumnya wajib sebagaimana tercantum dalam rukun
Islam. Syaratnya orang yang berzakat adalah orang yang telah memenuhi
syaratnya. Untuk zakat fitrah diwajibkan kepada tiap individu di dalam bulan
Ramadhan jika memiliki kecukupan untuk hari idul fitri. Sedangkan zakat mal ada
batasan minimal(nisab) seseorang untuk mendapatkan status wajib zakat.
Zakat berdasarkan ijtihad ulama juga
kini mengalami pengembangan. Saat ini dikenal ada istilah zakat emas dan perak
/uang, zakat binatang ternak, zakat kekayaan dagang, Zakat pertanian, Zakat
produksi hewani, zakat barang tambang dan hasil laut, zakat investasi, zakat
pencarian dan profesi, zakat saham dan obligasi.
Adapun zakat-zakat tersebut memiki
ketentuan batas besaran (nisab) dan waktu sehingga dapat dikatakan wajib zakat.
Maka mulai sekarang segeralah berhitung seberapa banyak harta yang kita miliki,
apakah kita wajib zakat atau tidak. Jangan sampai keborosan dan kekikiran kita
membuat kita melalaikan perintah Allah yang wajib ini. Marilah kita siapkan
diri kita untuk berzakat.
Berbeda dengan zakat, sedekah tidak
memiliki ketentuan jumlah dan batasan waktu untuk bersedekah. Berapa saja dan
kapan saja kita bisa bersedekah. Apalagi jika kita bersedekah di bulan
Ramadhan.
Rasulullah bersabda : “Setiap amal
anak keturunan Adam dilipatgandakan. Setiap satu kebaikan sepuluh lipat
gandanya hingga tujuh ratus kali lipat” (HR. Bukhari-Muslim)
Luar biasa pahala yang bisa
kita peroleh di bulan Ramadhan. Saya rasa dengan pahala berlipat ganda dan
moment ini hanya datang sekali dalam setahun selama sebulan tentunya sayang
untuk disia-siakan. Sisihkan rezki yang kita miliki untuk membantu
saudara-saudara kita.
Fenomena di kota kita saat
ini, hampir di setiap masjid menyediakan takjil (makanan untuk berbuka puasa).
Apakah kita hanya menjadi penikmat atau juga ingin turut berpartisipasi
menyisihkan rezki kita untuk berbagi dengan sesama walau hanya dengan makanan
kecil untuk berbuka puasa.
“Siapa memberi makan orang yang
berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa
mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (H.R.
Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Mungkin
diantara kita berpikir darimana kita bisa bersedekah sedangkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup saja sulit. Ironis memang karena kondisi umat Islam di negeri
ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2011
jumlah penduduk miskin di negara kita 30.018.930 jiwa. Marilah kita percaya
janji Allah dalam Al Qur’an.
”Dan
orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan
kelapangan sesudah kesempitan” (Q.S. Ath Thalaaq:7)
Ibaratnya seseorang memancing ikan kecil
butuh umpan agar ia mendapat ikan. Jika menginginkan ikan yang lebih besar maka
umpannya juga harus besar. Jika seseorang butuh rezki dari Allah maka ia perlu
sedekah sebagaimana fungsi sedekah sebagai pembuka pintu datangnya rezki.
Dengan menafkahkan rezki yang kita miliki itu sama artinya kita juga telah
mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Lihatlah masih banyak orang yang
jauh lebih membutuhkan daripada kita. Dengan bersedekah kita telah menolong
saudara kita, mewujudkan rasa syukur kita, dan kita telah membuka pintu rezky
buat kita.
“Dan
Allah senatiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.”(H.R.Muslim)
Terkadang kita berpikir secara matematis
terkait dengan harta yang kita miliki sehingga kita sulit berbagi. Jika kita
memiliki uang Rp. 100.000,- lalu kita sedekahkan Rp. 10.000,- tentunya uang
kita tersisa Rp. 90.000,-. Berpikir demikian adalah sangat rasional dan tidak
ada salahnya karena manusia harus memiliki perncanaan. Jika kita mengingat
kembali bahwasannya hidup manusia hanyalah sementara di dunia ini dan jika kita
telah dipanggil Allah maka yang Rp. 90.000,- tersebut tidak bisa kita bawa ke
alam barzakh, justru yang Rp. 10.000,- akan menemani kita sebagai amal
kebaikan. Bukankan hanya amal yang akan menemani kita di alam akhirat. Maka
hakikat sebenarnya harta kita bukanlah harta yang kita simpan tapi harta kita
sebenarnya adalah harta yang kita nafkahkan di jalan Allah.
“Tidak
akan berkurang harta yang disedekahkan…kecuali ia
bertambah…bertambah…bertambah”
(H.R. Tirmidzi)
Allah tidak akan menyusahkan hambanya
karena ia bersedekah. Jika kata bersedekah begitu rumit maka gantilah dengan
kata berbagi. Karena jika kita berbagi dengan teman kita, atau saudara kita itu
juga bernilai sedekah. Mulailah kita jika memperoleh rezky dari Allah
berbagilah dengan orang lain apakah itu tetangga, teman, atau siapapun yang
berhak dan lebih utama bagi orang yang sangat membutuhkan. Contoh sederhana
dalam berbagi adalah Fulan membeli makanan berupa kue seharga Rp. 10.000,- agar ia bisa memakannya bersama
teman-temannya daripada ia makan bakso untuk dirinya sendiri. Sederhana bukan.
Barang
siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya;
dan barang siapa yag membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan
melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan).”(Q.S. Al-An’am:160)
Mungkin diantara kita pernah membaca
buku atau mendengar ceramahnya Ustadz Yusuf Mansyur tentang keajaiban sedekah.
Atau mungkin kita pernah mendengar istilah matematika sedekah
segala ibadah di bulan Ramadhan dan juga
memperoleh kemenangan hakiki di hari yang fitri. Wallahu’alam bish showwab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar