Dalam hitungan hari kita akan melihat
sebuah momen penting di negeri kita. Sebuah momen yang akan mengubah wajah
Indonesia untuk lima tahun mendatang. Ada yang memandang biasa-biasa saja, ada
pula yang serius menghadapinya. Karena lima menit kita berada di dalam bilik
suara akan berpengaruh pada Indonesia lima tahun mendatang. Inilah Pemilihan
Umum Presiden Republik Indonesia yang akan dilaksanakan tanggal 9 Juli
mendatang.
Di momen inilah kita akan memilih pemimpin
negeri ini. Baik dan buruknya negeri ini bergantung pada pemimpinnya. Kita
telah memiliki contoh pemimpin yang baik dan menjadi teladan. Siapa lagi jika
bukan Nabi Muhammad SAW. Bahkan telah ada sebelumnya Nabi Yusuf As dan Nabi
Sulaiman As yang telah memberikan contoh teladan kepemimpinan yang baik. Kita
tidak kekurangan referensi tentang pemimpin terbaik sepanjang masa. Itu ada
dalam Al Qur’an dan Hadits juga riwayat para sahabat.
Sebagai umat Islam, kita harus memilih
pemimpin yang terbaik. Karena setiap perbuatan kita pasti akan kita pertanggung
jawabkan di akhirat apalagi jika menyangkut kemaslahatan umat. Sungguh ironis
jika pesta demokrasi dalam memilih pemimpin ini diwarnai dengan suap-menyuap,
membeli suara, politik uang dan sebagainya yang sebenarnya hati kecil kita
mengetahui bahwa ini adalah dosa besar. Jika kita bertanya pada diri kita bahwa
kita menginginkan pemimpin yang jujur, bersih, sholeh, amanah dan peduli dengan
nasib rakyat. Lalu pertanyaannya apakah dengan keadaan diri kita saat ini kita
pantas mendapatkan pemimpin itu. Apakah pantas orang yang suaranya dibeli
dengan sejumlah uang mendapatkan pemimpin yang jujur. Apakah pantas orang yang
diam atau tidak ikut memilih mendapatkan pemimpin yang baik sedangkan ia hanya
diam.
Kadang kita hanya beristikharah dalam
hal memilih jodoh karena memikirkan kehidupan kita ke depan karena menikah
adalah untuk jangka waktu yang panjang. Sedangkan dalam memilih pemimpin kita
berkompromi dengan amplop haram itu. Seharusnya kita lebih serius beristikharah
untuk memilih pemimpin. Agar pemimpin yang terpilih nanti bukan hanya pemimpin
pilihan rakyat namun juga pemimpin pilihan Allah.
1.
Pilihlah yang
baik pemahaman agamanya dan cinta kepada Allah SWT.
Apabila Allah
menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka
orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan
peradilan. Juga Allah jadikan harta-benda di tangan orang-orang yang dermawan.
Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan
pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. DijadikanNya
orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di
tangan orang-orang kikir. (HR. Ad-Dailami)
Secara sederhana
pilihlah pemimpin yang lebih mencintai Allah dari apapun di dunia ini. Pemimpin
yang memahami agama ini, takut pada TuhanNya dan selalu merasa diawasi oleh
Allah. Bijaksana dalam mengambil keputusan yaitu melihat apakah keputusannya mashlahat
bagi ummat atau mudhorot bagi ummat, bukan mementingkan dirinya sendiri.
Mungkin sulit
bagi kita mengukur pemahaman Islam seseorang namun kita bisa melihat dari
beberapa indikator salah satunya adalah sholat. Apakah calon pemimpin itu
sholat berjamaah di masjid. Lalu bagaimana interaksinya dengan Al Qur’an.
Siapakah yang tidak bahagia jika kita memiliki pemimpin yang sholeh apalagi
jika hafidz Qur’an, dan bijaksana dalam memimpin.
2.
Yang rendah hati
Pilihlah
pemimpin yang “low profile” yang tidak
merasa dirinya lebih tinggi daripada yang lainnya. Jangan memilih pemimpin yang
ketika berjalan di panas matahari dipayungi oleh bawahannya. Apalagi jika
bergaul hanya dengan kalangan atas. Jika masih menjadi calon saja sudah merasa
lebih tinggi daripada orang lain apa jadinya jika ia sudah menjadi pemimpin.
Berhati-hatilah kita dalam memilih. Bagaimana mungkin ia bisa menyuarakan
aspirasi rakyat jika sejak awal sudah ada sekat dengan rakyat kecil.
3.
Yang tidak
banyak berjanji
Di masa-masa ini
caleg-caleg sedang menebar janji. Jangan sampai kita termakan janji-janji yang
tidak rasional. Pilihlah caleg yang tidak berjanji muluk-muluk atau kalaupun
berjanji, janjinya cukup rasional. Semoga kita bisa menjadi pemilih cerdas.
4.
Yang tidak
menyogok untuk memilihnya
Dan yang ini
yang sangat penting dan sering terjadi “Money
politic”. Entah darimana mulainya kadang masih ada masyarakat yang
menentukan pilihannya berdasarkan siapa yang memberi uang. Apakah kita lupa
bahwa ini adalah sogokan atau penyuapan.
Allah melaknat
penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka.
(HR. Ahmad)
Jika Allah
melaknat berarti itu adalah perbuatan dosa. Lalu jika kita memilih pemimpin
atas dasar dosa yang kita perbuat, lalu kebaikan apa yang kita harapkan dari
pemimpin bangsa ini yang sudah kita pilih. Lalu mengapa kita mengeluh akan
kesulitan hidup kita sedangkan kita sendiri yang menyebabkannya. Karena kondisi
bangsa kita saat ini adalah sebab dari pilihan kita lima tahun yang lalu. Carilah
pemimpin yang baik itu.
Bagaimana kita bisa tahu dimana pemimpin
yang baik itu? Kita harus mencarinya. Karena pemimpin yang baik itu tidak akan
datang atau muncul dengan sendirinya tanpa dicari. Sebagaimana sahabat Salman
Al Farisi yang mencari pemimpin ummat yaitu Nabi Muhammad Saw. Jika Salman Al
Farisi bisa bersemangat mencari sosok pemimpin terbaik dengan perjalanan yang
jauh lalu mengapa kita masih sulit mencari, padahal informasi sudah mudah di
dapat. Di Koran, televisi, internet, dan lain-lain. Atau mungkin bisa saja
pemimpin yang baik itu adalah tetangga kita sendiri.
Pentingnya kita memahami siapa yang kita
pilih agar kita tidak menyesal nantinya. Karena kesalahan kita memilih akan berdampak
pada semua orang. Maka jangan salahkan jika ada yang komentar “mau pemilu berapa kalipun kami tetap miskin”.
Bisa saja itu juga adalah salah kita karena salah dalam memilih pemimpin. Jika
diantara kita ada yang berpikir golput atau tidak ingin memilih. Hati-hati,
karena pemimpin yang buruk itu tetap memiliki pendukung dan berusaha dengan
cara apapun untuk menang dan dengan aksi golput kita sudah memudahkan langkah
pemimpin yang buruk itu untuk menang dan menjadi pemimpin kita.
Ada benarnya ungkapan Ustadz Yusuf
Mansyur yang mengatakan “kita bingung memilih pemimpin yang terbaik bisa
jadi karena kita belum pantas mendapatkan pemimpin yang baik itu. Kita belum
pantas mendapat pemimpin yang baik itu karena kita sendiri yang belum baik.
Belum baik ilmu agamanya, belum baik ibadahnya, atau bahkan belum baik
akhlaknya”.
Lalu bagaimana jika menurut kita tidak
ada pemimpin yang terbaik sebagaimana teori diatas? Qoidah ushul jika yang ada hanyalah yang buruk maka pilihlah yang
paling kecil mudhorotnya atau yang paling kecil keburukannya. Maka jangan
sampai kita tidak memilih. Jika diantara kita masih merasa berat untuk memilih
dan menganggap bahwa pemimpin yang ideal bagi bangsa ini sudah tidak ada.
Jangan mengeluh, mintalah petunjuk Allah SWT. Lalu persiapkalah diri kita atau
anak-anak kita untuk menjadi pemimpin yang ideal itu di masa mendatang.
Semoga Allah SWT melindungi kita semua
dan memenangkan para pemimpin yang baik yang akan memimpin bangsa ini. Dan
Allah memberi pemimpin yang amanah dalam melaksanakan tugasnya atas dasar cinta
kepada Allah dan cinta kepada Negara ini Indonesia. Kesempurnaan hanyalah milik
Allah SWT. Wallahu ‘alam bish showwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar