Sabtu, 26 Juli 2014

MEMILIH PEMIMPIN MENURUT PANDANGAN ISLAM



Dalam hitungan hari kita akan melihat sebuah momen penting di negeri kita. Sebuah momen yang akan mengubah wajah Indonesia untuk lima tahun mendatang. Ada yang memandang biasa-biasa saja, ada pula yang serius menghadapinya. Karena lima menit kita berada di dalam bilik suara akan berpengaruh pada Indonesia lima tahun mendatang. Inilah Pemilihan Umum Presiden Republik Indonesia yang akan dilaksanakan tanggal 9 Juli mendatang.
Di momen inilah kita akan memilih pemimpin negeri ini. Baik dan buruknya negeri ini bergantung pada pemimpinnya. Kita telah memiliki contoh pemimpin yang baik dan menjadi teladan. Siapa lagi jika bukan Nabi Muhammad SAW. Bahkan telah ada sebelumnya Nabi Yusuf As dan Nabi Sulaiman As yang telah memberikan contoh teladan kepemimpinan yang baik. Kita tidak kekurangan referensi tentang pemimpin terbaik sepanjang masa. Itu ada dalam Al Qur’an dan Hadits juga riwayat para sahabat.
Sebagai umat Islam, kita harus memilih pemimpin yang terbaik. Karena setiap perbuatan kita pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat apalagi jika menyangkut kemaslahatan umat. Sungguh ironis jika pesta demokrasi dalam memilih pemimpin ini diwarnai dengan suap-menyuap, membeli suara, politik uang dan sebagainya yang sebenarnya hati kecil kita mengetahui bahwa ini adalah dosa besar. Jika kita bertanya pada diri kita bahwa kita menginginkan pemimpin yang jujur, bersih, sholeh, amanah dan peduli dengan nasib rakyat. Lalu pertanyaannya apakah dengan keadaan diri kita saat ini kita pantas mendapatkan pemimpin itu. Apakah pantas orang yang suaranya dibeli dengan sejumlah uang mendapatkan pemimpin yang jujur. Apakah pantas orang yang diam atau tidak ikut memilih mendapatkan pemimpin yang baik sedangkan ia hanya diam.
Kadang kita hanya beristikharah dalam hal memilih jodoh karena memikirkan kehidupan kita ke depan karena menikah adalah untuk jangka waktu yang panjang. Sedangkan dalam memilih pemimpin kita berkompromi dengan amplop haram itu. Seharusnya kita lebih serius beristikharah untuk memilih pemimpin. Agar pemimpin yang terpilih nanti bukan hanya pemimpin pilihan rakyat namun juga pemimpin pilihan Allah.

1.      Pilihlah yang baik pemahaman agamanya dan cinta kepada Allah SWT.
Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Juga Allah jadikan harta-benda di tangan orang-orang yang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. DijadikanNya orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir. (HR. Ad-Dailami)

Secara sederhana pilihlah pemimpin yang lebih mencintai Allah dari apapun di dunia ini. Pemimpin yang memahami agama ini, takut pada TuhanNya dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Bijaksana dalam mengambil keputusan yaitu melihat apakah keputusannya mashlahat bagi ummat atau mudhorot bagi ummat, bukan mementingkan dirinya sendiri.
Mungkin sulit bagi kita mengukur pemahaman Islam seseorang namun kita bisa melihat dari beberapa indikator salah satunya adalah sholat. Apakah calon pemimpin itu sholat berjamaah di masjid. Lalu bagaimana interaksinya dengan Al Qur’an. Siapakah yang tidak bahagia jika kita memiliki pemimpin yang sholeh apalagi jika hafidz Qur’an, dan bijaksana dalam memimpin.

2.      Yang rendah hati
Pilihlah pemimpin yang “low profile” yang tidak merasa dirinya lebih tinggi daripada yang lainnya. Jangan memilih pemimpin yang ketika berjalan di panas matahari dipayungi oleh bawahannya. Apalagi jika bergaul hanya dengan kalangan atas. Jika masih menjadi calon saja sudah merasa lebih tinggi daripada orang lain apa jadinya jika ia sudah menjadi pemimpin. Berhati-hatilah kita dalam memilih. Bagaimana mungkin ia bisa menyuarakan aspirasi rakyat jika sejak awal sudah ada sekat dengan rakyat kecil.

3.      Yang tidak banyak berjanji
Di masa-masa ini caleg-caleg sedang menebar janji. Jangan sampai kita termakan janji-janji yang tidak rasional. Pilihlah caleg yang tidak berjanji muluk-muluk atau kalaupun berjanji, janjinya cukup rasional. Semoga kita bisa menjadi pemilih cerdas.

4.      Yang tidak menyogok untuk memilihnya
Dan yang ini yang sangat penting dan sering terjadi “Money politic”. Entah darimana mulainya kadang masih ada masyarakat yang menentukan pilihannya berdasarkan siapa yang memberi uang. Apakah kita lupa bahwa ini adalah sogokan atau penyuapan.
Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka.  
(HR. Ahmad)
Jika Allah melaknat berarti itu adalah perbuatan dosa. Lalu jika kita memilih pemimpin atas dasar dosa yang kita perbuat, lalu kebaikan apa yang kita harapkan dari pemimpin bangsa ini yang sudah kita pilih. Lalu mengapa kita mengeluh akan kesulitan hidup kita sedangkan kita sendiri yang menyebabkannya. Karena kondisi bangsa kita saat ini adalah sebab dari pilihan kita lima tahun yang lalu. Carilah pemimpin yang baik itu.

Bagaimana kita bisa tahu dimana pemimpin yang baik itu? Kita harus mencarinya. Karena pemimpin yang baik itu tidak akan datang atau muncul dengan sendirinya tanpa dicari. Sebagaimana sahabat Salman Al Farisi yang mencari pemimpin ummat yaitu Nabi Muhammad Saw. Jika Salman Al Farisi bisa bersemangat mencari sosok pemimpin terbaik dengan perjalanan yang jauh lalu mengapa kita masih sulit mencari, padahal informasi sudah mudah di dapat. Di Koran, televisi, internet, dan lain-lain. Atau mungkin bisa saja pemimpin yang baik itu adalah tetangga kita sendiri.   
Pentingnya kita memahami siapa yang kita pilih agar kita tidak menyesal nantinya. Karena kesalahan kita memilih akan berdampak pada semua orang. Maka jangan salahkan jika ada yang komentar “mau pemilu berapa kalipun kami tetap miskin”. Bisa saja itu juga adalah salah kita karena salah dalam memilih pemimpin. Jika diantara kita ada yang berpikir golput atau tidak ingin memilih. Hati-hati, karena pemimpin yang buruk itu tetap memiliki pendukung dan berusaha dengan cara apapun untuk menang dan dengan aksi golput kita sudah memudahkan langkah pemimpin yang buruk itu untuk menang dan menjadi pemimpin kita.
Ada benarnya ungkapan Ustadz Yusuf Mansyur yang mengatakan “kita bingung memilih pemimpin yang terbaik bisa jadi karena kita belum pantas mendapatkan pemimpin yang baik itu. Kita belum pantas mendapat pemimpin yang baik itu karena kita sendiri yang belum baik. Belum baik ilmu agamanya, belum baik ibadahnya, atau bahkan belum baik akhlaknya”.
Lalu bagaimana jika menurut kita tidak ada pemimpin yang terbaik sebagaimana teori diatas? Qoidah ushul jika yang ada hanyalah yang buruk maka pilihlah yang paling kecil mudhorotnya atau yang paling kecil keburukannya. Maka jangan sampai kita tidak memilih. Jika diantara kita masih merasa berat untuk memilih dan menganggap bahwa pemimpin yang ideal bagi bangsa ini sudah tidak ada. Jangan mengeluh, mintalah petunjuk Allah SWT. Lalu persiapkalah diri kita atau anak-anak kita untuk menjadi pemimpin yang ideal itu di masa mendatang.
Semoga Allah SWT melindungi kita semua dan memenangkan para pemimpin yang baik yang akan memimpin bangsa ini. Dan Allah memberi pemimpin yang amanah dalam melaksanakan tugasnya atas dasar cinta kepada Allah dan cinta kepada Negara ini Indonesia. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Wallahu ‘alam bish showwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar