Sabtu, 26 Juli 2014

MENGAMBIL HIKMAH DARI KISAH KAUM-KAUM YANG DIMUSNAHKAN



Akhir-akhir ini negeri kita sedang dilanda musibah. Tidak hanya banjir di ibukota namun juga kota-kota lainnya di Indonesia juga di landa banjir. Bukan hanya itu erupsi gunung kelud yang sangat dahsyat yang dampaknya berupa hujan abu dirasakan di seluruh pulau jawa. Hampir setiap hari kita menonton berita tentang musibah-musibah yang melanda negeri ini. Bahkan baru-baru ini terjadi banjir dan longsor di kota kita tercinta Jayapura.
Ada apa dengan semua ini. Mengapa musibah bertubi-tubi datang keseluruh pelosok negeri kita. Ratusan bahkan ribuan jiwa telah menjadi korban. Mari kita intropeksi diri kita masing-masing. Mungkin ada dosa dalam diri kita namun karena terbiasa membuat dosa tersebut menjadi tidak terasa. Inilah yang kita takutka kita berdosa namun tidak merasa berdosa. Mari kita mengambil pelajaran dengan membandingkan diri kita dengan umat-umat terdahulu.

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?[649]. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S.At Taubah :70)

 Kaum ‘Aad adalah kaum Nabi Hud As, Kaum Tsamud adalah kaum Nabi Shaleh As, dan penduduk madyan adalah kaumnya Nabi Syu’aib As. Kaum-kaum tersebut telah menerima seruan tauhid yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut di sembah melainkan Allah. Namun kaum-kaum tersebut bukan hanya berbuat syirik dengan menyembah berhala mereka juga malakukan maksiat dan berbuat kerusakan.
Kaum ‘Aad memiliki kelebihan yang luar biasa. Mereka adalah ahli pertukangan, bertubuh besar dan bisa membuat bangunan-bangunan yang tinggi. Jika saat ini banyak insinyur, pakar teknik sipil bisa merancang bangunan pencakar langit dengan teknologi yang dan alat-alat yang banyak. Justru kaum ‘Aad sudah bisa membuat bangunan pencakar langit padahal belum ada universitas-universitas teknik, belum juga ada alat-alat modern namun hasil karya mereka masih kokoh peninggalannya sampai saat ini. Manakah yang lebih luar biasa. Teknologi pembangunan infra struktur kita saat ini tidak bisa menandingi karya dari kaum ‘Aad.
Atau kita ingin menandingi kaum Tsamud umatnya Nabi Shaleh As. Kaum tsamud memiliki kelebihan menjadikan gunung-gunung batu menjadi rumahnya. Gunung-gunung batu itu mereka pahat sehingga menjadi kamar-kamar dan membentuk rumah. Belum pernah ada kita temukan di masa modern ini ada orang yang sanggup membuat rumah dengan memahat gunung. Luar biasa nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.
Ataukah kita ingin menandingi kaum Sodom umatnya Nabi Luth As. Dengan bebasnya menggembar-gemborkan kebebasan berekspresi, kebebasan beraktifitas, bahkan melakukan hal-hal yang yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka bahkan binatangpun tidak ada yang melakukannya. Yaitu berhubungan layaknya pasangan suami istri namun dengan sejenis. Laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan.  Na’udzubillahi mindzalik.

Astaghfirullahal’adzim. Allahumma inna na’udzubika min annusyrika bika syai’an na’lamuhu wanastaghfiruka lima la na’lamuhu. (Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Ya Allah kami berlindung pada Engkau dari syirik terhadap Engkau yang kami sadari, dan kami memohon ampun dari sesuatu yang kami tidak ketahui).

Kaum ‘Aad dengan kehebatannya membuat bangunan tinggi telah syirik kepada Allah SWT. Mereka menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Begitupun dengan kaum tsamud yang bisa mengukir gunung untuk dijadikan tempat tinggal yang tak bisa tertandingi juga telah syirik kepada Allah SWT. Mereka bukan hanya tidak menyembah Allah malah juga mendustakan para nabi dan ajaran yang dibawanya.

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya (Q.S. Al A’raaf:65)
Lalu apakah jawab kaum ‘Aad kepada Nabinya:

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta”. (Q.S. Al A’raaf:66)

Maka Allah pun mengazab kaum ‘Aad dengan angin kencang yang dingin selama selama tujuh hari tujuh malam, sehingga mereka binasa semuanya. Kaum Tsamud yang sombong tidak mau menyembah Allahpun di azab dengan petir yang dahsyat memusnahkan semua manusia di negeri itu. Juga bagaimana Allah mengazab kaumnya Nabi Luth As dengan membalik negeri mereka dan dihujani dengan batu-batu.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,(Q.S. Hud:82)

Kita tahu bahwa kita tidak bisa menandingi kaum ‘Aad dan kaum Tsamud tapi bisa jadi kesombongan kita sama atau bahkan melebihi mereka. Harta yang kita miliki bukanlah harta yang ada bersama kita saat ini. Rumah, tanah, perniagaan, usaha, tabungan semua itu bukan mutlak milik kita karena setelah kita wafat maka itu semua menjadi milik ahli waris. Jangan sampai kita merasa nyaman dengan nikmat yang Allah berikan kita lupa bahwa Allahpun berhak mengambilnya dari kita. Kita nyaman dengan rumah yang tidak pernah kebanjiran, jangan sombong. Bisa jadi Allah mengambilnya dengan cara gempa bumi atau kebakaran.
Bisa jadi kita tidak pula menyembah berhala. Namun hati kita sering lalai dari mengingat Allah. (Ya Allah Ampunilah kami yang sering lalai dari mengingat-Mu). Kita sering mendahulukan urusan dunia daripada urusan akhirat. Lebih memikirkan diri sendiri ketimbang orang disekitarnya.
Dan rusaknya negeri ini adalah keinginan golongan pengikut kaum Sodom (kaumnya Nabi Luth As) untuk memperoleh eksistensi di tengah masyarakat. Entah darimana mulanya kini kita sering melihat “wanita jadi-jadian (aslinya laki-laki) yang menawarkan dirinya pada laki-laki” Na’udzubillah.
“Lindungi kami Ya Allah dari perbuatan-perbuatan tersebut.” Mari kita lihat kota kita, masih ada orang yang meminum khamr (minuman keras), prostitusi dilegalkan, orang-orang membuang sampah di kali, antar sesama tetangga saling memfitnah, mudahnya cacian kebun binatang keluar dari lisan, dan lain-lain. Jika bukan karena kasih sayang Allah dan cintanya Allah kepada kita hamba-Nya tentunya kita sudah memperoleh azab yang sama dirasakan kaum-kaum yang dimusnahkan dahulu. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita semua, memberi ketabahan kepada mereka yang ditimpa musibah, mengetuk hati-hati kita untuk membantu, dan menjauhkan musibah dari kita dan dari negeri yang kita cintai Indonesia. Wallahu ‘alam bish Shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar