Sabtu, 23 Agustus 2014

Kita Semua adalah Da'i

Istilah da’i ataupun dakwah telah menjadi familiar di telinga kita. Secara sadar ataupun tidak kita telah menyempitkan makna dakwah dan da’i itu sendiri. Banyak diantara kita menganggap bahwa dakwah adalah aktifitas dimana seorang ustadz sedang memberikan ceramah kepada para jamaahnya yang jumlahnya sangat banyak atau aktifitas pengajian-pengajian di masjid ataupun kegiatan sejenisnya. Maka, yang dianggap da’i adalah ustadz, syaikh, mubaligh, kyai, dan ulama-ulama yang tinggi ilmunya atau lulusan pondok pesantren. Pengertian ini tidak salah bahkan benar adanya, hanya saja kita menyempitkan makna da’i itu sendiri dan merasa bahwa tanggung jawab dakwah hanya terletak pada mereka. Sedangkan kita umat islam yang tidak bergelut dalam dunia pesantren seakan terbebas dari amanah dakwah itu sendiri.
Makna dakwah yang lebih luas adalah mengajak manusia kepada Allah dengan hikamah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan thagut ( yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah agar mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Dan setiap orang yang melakukan aktifitas ini adalah da’i. Sekecil apapun yang kita lakukan dalam mengajak orang lain dalam kebaikan adalah dakwah. Banyak hal yang bisa kita lakukan dan sudah seharusnya kita pahami bahwa setiap kita adalah da’i. Walaupun kita memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu tetapi dalam konsep keteladanan kita telah menjadi sarana dakwah itu sendiri. Maksudnya andaikan kita adalah pegawai di kantor, lalu kita menunjukkan perilaku disiplin di kantor lalu diikuti oleh orang lain maka kita telah menjadi da’i dengan keteladanan. Dan tidak hanya disitu, proses dakwah harus terus berlangsung hingga orang yang kita dakwahi mau mendekatkan diri kepada Allah swt dengan menjalankan ibadah wajib dan sunnah, menjauhi perbuatan makruh dan subhat, dan meninggalkan yang haram.
Sesungguhnya kewajiban berdakwah telah ada dalam Al Qur’an sebagaimana Allah berfirman :
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An Nahl ayat 125)

“Demi Masa. Sungguh,manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan saling menasehati untuk kesabaran” (QS. Al Ashr ayat 1-3)
Dengan demikian kita memahami bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk tidak tidak berdakwah. Allah telah memberikan segala potensi dalam diri kita dan potensi itu harus dipergunakan dalam jalan dakwah. Rasulullah SAW bersabda:
Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (H.R. Bukhori & Muslim)

Apakah kita hanya sibuk dengan kesalehan pribadi kita seraya berharap mendapat syurganya Allah swt sedangkan membiarkan saudara-saudara muslim kita tersesat dalam kemaksiatan. Marilah kita instropeksi diri. Sebenarnya siapa yang salah hingga saudara-saudara muslim kita sampai berzina, mencuri, mengedarkan barang terlarang, berjudi, bahkan sampai murtad? Pernahkah kita melakukan sesuatu untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar? Pernahkah ada sebersit perasaan peduli pada mereka? Kita patut bersyukur telah memperoleh hidayah untuk beriman dan beribadah kepada Allah. Dan sudah saatnya rasa syukur kita diaplikasikan dengan mengajak saudara-saudara kita untuk kembali pada jalan Allah. Kalaupun sulit setidaknya kita sesama muslim saling menasehati dalam kebaikan.
Setelah kita memahami bahwa kita semua adalah da’I maka kita tentu harus menunjukkan akhlak yang baik dan senantiasa terus menggali ilmu agama dean mengamalkannya. Agar setiap ibadah yang kita lakukan adalah karena kepahaman bukan taklid. Begitu pula saat kita sebagai da’i menyampaikan dakwah tentu harus dengan keteladanan. Jangan sampai kita menyampaikan apa yang tidak kita lakukan. Allah swt berfirman :
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjaka. (QS. Ash Shaff ayat 2-3)

Terkadang setelah membaca ayat ini nyali kita menjadi ciut dan beranggapan lebih baik nanti kalau saya sudah baik amalannya baru saya berdakwah. Tidak seperti itu. Ayat ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri. Keluarkan seluruh kemampuan kita untuk berdakwah. Kita bisa berdakwah dengan memberikan nasihat kepada teman dekat kita, diskusi, berceramah, bahkan dengan karya tulispun bisa menjadi sarana dakwah. Kini sudah banyak beredar buku-buku islami, baik buku non fiksi maupun fiksi seperti cerpen dan novel.
Da’i bukanlah orang suci yang tidak memiliki kesalahan. Da’I juga manusia yang sering melakukan kesalahan. Namun orang yang benar bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah. Tetapi orang yang benar adalah mereka yang menyadari kesalahannya dan memperbaiki kesalahannya. Karena kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar