Istilah da’i ataupun dakwah telah menjadi familiar di telinga kita.
Secara sadar ataupun tidak kita telah menyempitkan makna dakwah dan da’i
itu sendiri. Banyak diantara kita menganggap bahwa dakwah adalah
aktifitas dimana seorang ustadz sedang memberikan ceramah kepada para
jamaahnya yang jumlahnya sangat banyak atau aktifitas
pengajian-pengajian di masjid ataupun kegiatan sejenisnya. Maka, yang
dianggap da’i adalah ustadz, syaikh, mubaligh, kyai, dan ulama-ulama
yang tinggi ilmunya atau lulusan pondok pesantren. Pengertian ini tidak
salah bahkan benar adanya, hanya saja kita menyempitkan makna da’i itu
sendiri dan merasa bahwa tanggung jawab dakwah hanya terletak pada
mereka. Sedangkan kita umat islam yang tidak bergelut dalam dunia
pesantren seakan terbebas dari amanah dakwah itu sendiri.
Makna
dakwah yang lebih luas adalah mengajak manusia kepada Allah dengan
hikamah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan thagut (
yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah agar mereka keluar
dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Dan setiap orang yang
melakukan aktifitas ini adalah da’i. Sekecil apapun yang kita lakukan
dalam mengajak orang lain dalam kebaikan adalah dakwah. Banyak hal yang
bisa kita lakukan dan sudah seharusnya kita pahami bahwa setiap kita
adalah da’i. Walaupun kita memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu
tetapi dalam konsep keteladanan kita telah menjadi sarana dakwah itu
sendiri. Maksudnya andaikan kita adalah pegawai di kantor, lalu kita
menunjukkan perilaku disiplin di kantor lalu diikuti oleh orang lain
maka kita telah menjadi da’i dengan keteladanan. Dan tidak hanya disitu,
proses dakwah harus terus berlangsung hingga orang yang kita dakwahi
mau mendekatkan diri kepada Allah swt dengan menjalankan ibadah wajib
dan sunnah, menjauhi perbuatan makruh dan subhat, dan meninggalkan yang
haram.
Sesungguhnya kewajiban berdakwah telah ada dalam Al Qur’an sebagaimana Allah berfirman :
“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah
yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An
Nahl ayat 125)
“Demi Masa. Sungguh,manusia berada dalam
kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan
saling menasehati untuk kesabaran” (QS. Al Ashr ayat 1-3)
Dengan
demikian kita memahami bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk tidak
tidak berdakwah. Allah telah memberikan segala potensi dalam diri kita
dan potensi itu harus dipergunakan dalam jalan dakwah. Rasulullah SAW
bersabda:
Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai
saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (H.R. Bukhori &
Muslim)
Apakah kita hanya sibuk dengan kesalehan pribadi kita
seraya berharap mendapat syurganya Allah swt sedangkan membiarkan
saudara-saudara muslim kita tersesat dalam kemaksiatan. Marilah kita
instropeksi diri. Sebenarnya siapa yang salah hingga saudara-saudara
muslim kita sampai berzina, mencuri, mengedarkan barang terlarang,
berjudi, bahkan sampai murtad? Pernahkah kita melakukan sesuatu untuk
mengembalikan mereka ke jalan yang benar? Pernahkah ada sebersit
perasaan peduli pada mereka? Kita patut bersyukur telah memperoleh
hidayah untuk beriman dan beribadah kepada Allah. Dan sudah saatnya rasa
syukur kita diaplikasikan dengan mengajak saudara-saudara kita untuk
kembali pada jalan Allah. Kalaupun sulit setidaknya kita sesama muslim
saling menasehati dalam kebaikan.
Setelah kita memahami bahwa kita
semua adalah da’I maka kita tentu harus menunjukkan akhlak yang baik dan
senantiasa terus menggali ilmu agama dean mengamalkannya. Agar setiap
ibadah yang kita lakukan adalah karena kepahaman bukan taklid. Begitu
pula saat kita sebagai da’i menyampaikan dakwah tentu harus dengan
keteladanan. Jangan sampai kita menyampaikan apa yang tidak kita
lakukan. Allah swt berfirman :
Wahai orang-orang yang beriman!
Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? (Itu)
sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjaka. (QS. Ash Shaff ayat 2-3)
Terkadang setelah membaca
ayat ini nyali kita menjadi ciut dan beranggapan lebih baik nanti kalau
saya sudah baik amalannya baru saya berdakwah. Tidak seperti itu. Ayat
ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa memperbaiki
diri. Keluarkan seluruh kemampuan kita untuk berdakwah. Kita bisa
berdakwah dengan memberikan nasihat kepada teman dekat kita, diskusi,
berceramah, bahkan dengan karya tulispun bisa menjadi sarana dakwah.
Kini sudah banyak beredar buku-buku islami, baik buku non fiksi maupun
fiksi seperti cerpen dan novel.
Da’i bukanlah orang suci yang tidak
memiliki kesalahan. Da’I juga manusia yang sering melakukan kesalahan.
Namun orang yang benar bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah.
Tetapi orang yang benar adalah mereka yang menyadari kesalahannya dan
memperbaiki kesalahannya. Karena kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar