Mamaku.
Astuti Purwaningsih Binti Durrachman, Lahir di Sleman 31 Desember 1963. Mamaku
yang melahirkanku setelah mengandungku 9 bulan 20 hari (Saya hampir tidak
dilahirkan karena tidak ada kontraksi, kata mamaku saat lahir aku tidak
menangis itu yang membuat panik dokter, setelah di tepok pantatnya baru aku
nangis) . Mamaku yang menyusui aku dengan ASI lalu susu Dancow. Mamaku yang
menggandeng tanganku dan menemaniku belajar berjalan. Mamaku yang menyiapkan
segala sesuatu untukku. Ia mengajariku tentang keinginan dan kebutuhan.
Mamaku
yang memikirkan adik-adiknya disana. Sosok mandiri, pemberani. Mamaku yang tak
pernah meninggalkan sholat 5 waktu. Mamaku yang selalu lama dalam berdoa karena
diantara doa-doa panjangnya ditujukan untukku. Mama yang selalu banyak meminta
untukku bahkan sedikit sekali ia meminta untuk dirinya sendiri.
Mama
yang selalu menghargai pilihanku (walaupun salah) lalu mengajariku tentang arti
sebuah resiko. Mama yang selalu memilihkan yang terbaik untukku. Aku selalu
meminta apa yang aku suka, namun mamaku selalu membelikan apa yang aku
butuhkan. Aku meminta sepeda, memintaVideo game, meminta mainan, meminta makan
di CFC, tapi tidak dikabulkan permintaanku. Tetapi aku selalu punya sepatu
baru, tas sekolah baru, buku baru, seragam baru. Mama mengajarkanku akan
pendidikan lebih penting dari segalanya.
Mama
yang selalu mencubitku ketika aku bolos sekolah karena takut diimunisasi, aku
yang bolos ngaji lalu main sama anak komplek sebelah. Tapi doa di setiap selesai
sholatnya terus dicurahka untukku. “Ya Allah, jadikanlah sigit Anak yang soleh,
anak yang berbakti pada orang tua, yang pinter, yang menjaga nama baik
keluarga. Tunjukilah sigit di jalan yag benar selamatkan sigit jika ia di jalan
yang salah. Jagalah sigit ya Allah walaupun aku sudah tak lagi bersamanya.”
Mamaku
yang berpuasa 3 hari selama aku ujian Ebtanas SD. Mamaku yang menemaniku
mendaftar di SMP. Yang menjagaku di saat aku sakit, yang membelikan apa yang
aku mau jika sudah saatnya. Di kelas 5 SD aku dibelikan sepeda.
Mamaku
yang amanah dan disukai kalangan ibu-ibu majelis taklim. Mama yang mau
dijadikan ketua majelis taklim namun menolak karena menghargai orang yang lebih
tua. Mamaku yang sangat suka bernyanyi. Mamaku suka bernyanyi/karaoke di rumah
tetanggaku (Bu Emy Kadir Hasan). Tetangga juga sahabat mamaku. Mamaku yang suka
masak Papeda dan bubur Manado dan mengajak ibu-ibu untuk makan rame-rame di
rumah.
Mamaku
yang menemaniku tidur setiap malam. Suatu saat beberapa hari sebelum kepergiannya
ia tidur mengelus kepalaku saat aku tidur (namun belum tertidur pulas) lalu
berkata “Ya Rabb jadikan anakku orang besar paling tidak sarjana, jadikan ia
orang yang disukai banyak orang bukan orang yang dibenci, Ya Allah jika Engkau
berkehendak aku ingin menemaninya saat ia menikah.”
Mamaku
yang bersilaturahim dengan tetangga-tetangga denga kalimat “Alhamdulillah mbak,
saya sudah gak punya tanggungan lagi. Saya lega sebentar lagi saya akan pergi
jauh.” Saat itu orang tua saya sedang mengurus proses Mutasi ke Kebumen,
mungkin tetangga pikirannya mama akan pindah ke jawa. Rupanya itu salam
perpisahan.
Di
kekhusyuaan sholat Isya berjamaah di malam kedua Ramadhan 1421 H, 17 November
2001 di Masjid An Nur BTN Kamkey. Sebelum berangkat ke Masjid bapak sempat berpikir
untuk tidak ke Masjid karena Pemadaman Listrik saat itu. “Udah ma, gak usah ke
Masjid, mati lampu gini, paling gak ada yang traweh.” “Enak aja, Traweh gak ada
kaitannya sama lampu. Ayo berangkat.” Akhirnya saya, bapak, dan mama berangkat
ke Masjid untuk Sholat Traweh.
Di
Masjid saya berwudhu di tempat Wudhu di Masjid. Tempat Wudhu itu baru seminggu
selesai di bangun. Dan sedang diisi air. Saat rokaat terakhir lampu pun
menyala. Saat itu hujan rintik-rintik namun diiringi petir. Selepas sholat Isya
panitia melaporkan keadaan kas Masjid dan penceramaah tarawih saat itu.
Bude
Karyani bercerita: “Habis sholat isya itu mamamu bilang ia ngantuk, lalu saya
bilang kalau ngantuk wudhu aja lagi. Lalu mamamu ke tempat wudhu seketika itu
bak wudhu itu pecah, rubuh menimpa mamamu. Andaikan saya waktu itu tidak
menyuruhnya wudhu”
Aku
fokus mencatat ceramah karena tugas dari guru agamaku. Tiba-tiba seperti suara
petir yang keras. Aku menoleh ke samping, guyuran air seperti ombak yang besar
dari arah tempat wudhu masuk ke dalam masjid. Seketika itu jamaah kaget dan
berlarian. Seseorang jamaah berteriak “ada orang. Ada orang” sambil menunjuk
tumpukan batu di tempat wudhu itu. Ya aku kenal itu sarung mamaku. Aku lemas,
aku menangis, itu mamaku, itu mamaku. Bapakku bersama bapak-bapak yang lain
mengangkat batu-batu itu dan menggendong mamaku. Baju koko bapakku yang aku
belikan di hari ulang tahun bapakku penuh dilumuri darah. Aku tak sanggup aku
melihat darah keluar dari hidung dan telinga mamaku. Ya Allah selamatkan mamaku.
Dan Sholat tarawih tidak terlaksana saat itu.
Bapakku
dan bapak-bapak lainnya menggendong jasad mamaku sambil mencari mobil untuk ke
rumah sakit. Suami bu Chris pas ada di rumah bersedia mobilnya dipakai untuk
mengantar mamaku ke rumah sakit. Dan sesampainya di rumah sakit Innalillahi Wa
Inna Ilaihi Raji’un. Mamaku meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Terimakasih
buat tetangga-tetangga yang sudah membantu proses penyelenggaraan Jenazah
mamaku. Terima kasih Pak H Rustan yang mengurusi Pemakaman, Terima Kasih Pak
Kadir Hasan yang menjaga liang kubur mamaku agar tidak longsor padahal saat itu
hujan deras. Terima kasih semuanya. Semoga Allah membalas kebaikan ini dengan
mengumpulkan kita semua disyurga-Nya kelak.
Mama,
Aku sayang mama, AKu rindu mama, Aku ingin bersamamu di Syurga nanti.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar