Jumat, 01 Agustus 2014

Yang ku ingat tentang mama


Mamaku. Astuti Purwaningsih Binti Durrachman, Lahir di Sleman 31 Desember 1963. Mamaku yang melahirkanku setelah mengandungku 9 bulan 20 hari (Saya hampir tidak dilahirkan karena tidak ada kontraksi, kata mamaku saat lahir aku tidak menangis itu yang membuat panik dokter, setelah di tepok pantatnya baru aku nangis) . Mamaku yang menyusui aku dengan ASI lalu susu Dancow. Mamaku yang menggandeng tanganku dan menemaniku belajar berjalan. Mamaku yang menyiapkan segala sesuatu untukku. Ia mengajariku tentang keinginan dan kebutuhan.

Mamaku yang memikirkan adik-adiknya disana. Sosok mandiri, pemberani. Mamaku yang tak pernah meninggalkan sholat 5 waktu. Mamaku yang selalu lama dalam berdoa karena diantara doa-doa panjangnya ditujukan untukku. Mama yang selalu banyak meminta untukku bahkan sedikit sekali ia meminta untuk dirinya sendiri.

Mama yang selalu menghargai pilihanku (walaupun salah) lalu mengajariku tentang arti sebuah resiko. Mama yang selalu memilihkan yang terbaik untukku. Aku selalu meminta apa yang aku suka, namun mamaku selalu membelikan apa yang aku butuhkan. Aku meminta sepeda, memintaVideo game, meminta mainan, meminta makan di CFC, tapi tidak dikabulkan permintaanku. Tetapi aku selalu punya sepatu baru, tas sekolah baru, buku baru, seragam baru. Mama mengajarkanku akan pendidikan lebih penting dari segalanya.

Mama yang selalu mencubitku ketika aku bolos sekolah karena takut diimunisasi, aku yang bolos ngaji lalu main sama anak komplek sebelah. Tapi doa di setiap selesai sholatnya terus dicurahka untukku. “Ya Allah, jadikanlah sigit Anak yang soleh, anak yang berbakti pada orang tua, yang pinter, yang menjaga nama baik keluarga. Tunjukilah sigit di jalan yag benar selamatkan sigit jika ia di jalan yang salah. Jagalah sigit ya Allah walaupun aku sudah tak lagi bersamanya.”

Mamaku yang berpuasa 3 hari selama aku ujian Ebtanas SD. Mamaku yang menemaniku mendaftar di SMP. Yang menjagaku di saat aku sakit, yang membelikan apa yang aku mau jika sudah saatnya. Di kelas 5 SD aku dibelikan sepeda.

Mamaku yang amanah dan disukai kalangan ibu-ibu majelis taklim. Mama yang mau dijadikan ketua majelis taklim namun menolak karena menghargai orang yang lebih tua. Mamaku yang sangat suka bernyanyi. Mamaku suka bernyanyi/karaoke di rumah tetanggaku (Bu Emy Kadir Hasan). Tetangga juga sahabat mamaku. Mamaku yang suka masak Papeda dan bubur Manado dan mengajak ibu-ibu untuk makan rame-rame di rumah.

Mamaku yang menemaniku tidur setiap malam. Suatu saat beberapa hari sebelum kepergiannya ia tidur mengelus kepalaku saat aku tidur (namun belum tertidur pulas) lalu berkata “Ya Rabb jadikan anakku orang besar paling tidak sarjana, jadikan ia orang yang disukai banyak orang bukan orang yang dibenci, Ya Allah jika Engkau berkehendak aku ingin menemaninya saat ia menikah.”

Mamaku yang bersilaturahim dengan tetangga-tetangga denga kalimat “Alhamdulillah mbak, saya sudah gak punya tanggungan lagi. Saya lega sebentar lagi saya akan pergi jauh.” Saat itu orang tua saya sedang mengurus proses Mutasi ke Kebumen, mungkin tetangga pikirannya mama akan pindah ke jawa. Rupanya itu salam perpisahan.

Di kekhusyuaan sholat Isya berjamaah di malam kedua Ramadhan 1421 H, 17 November 2001 di Masjid An Nur BTN Kamkey. Sebelum berangkat ke Masjid bapak sempat berpikir untuk tidak ke Masjid karena Pemadaman Listrik saat itu. “Udah ma, gak usah ke Masjid, mati lampu gini, paling gak ada yang traweh.” “Enak aja, Traweh gak ada kaitannya sama lampu. Ayo berangkat.” Akhirnya saya, bapak, dan mama berangkat ke Masjid untuk Sholat Traweh.

Di Masjid saya berwudhu di tempat Wudhu di Masjid. Tempat Wudhu itu baru seminggu selesai di bangun. Dan sedang diisi air. Saat rokaat terakhir lampu pun menyala. Saat itu hujan rintik-rintik namun diiringi petir. Selepas sholat Isya panitia melaporkan keadaan kas Masjid dan penceramaah tarawih saat itu.

Bude Karyani bercerita: “Habis sholat isya itu mamamu bilang ia ngantuk, lalu saya bilang kalau ngantuk wudhu aja lagi. Lalu mamamu ke tempat wudhu seketika itu bak wudhu itu pecah, rubuh menimpa mamamu. Andaikan saya waktu itu tidak menyuruhnya wudhu”

Aku fokus mencatat ceramah karena tugas dari guru agamaku. Tiba-tiba seperti suara petir yang keras. Aku menoleh ke samping, guyuran air seperti ombak yang besar dari arah tempat wudhu masuk ke dalam masjid. Seketika itu jamaah kaget dan berlarian. Seseorang jamaah berteriak “ada orang. Ada orang” sambil menunjuk tumpukan batu di tempat wudhu itu. Ya aku kenal itu sarung mamaku. Aku lemas, aku menangis, itu mamaku, itu mamaku. Bapakku bersama bapak-bapak yang lain mengangkat batu-batu itu dan menggendong mamaku. Baju koko bapakku yang aku belikan di hari ulang tahun bapakku penuh dilumuri darah. Aku tak sanggup aku melihat darah keluar dari hidung dan telinga mamaku. Ya Allah selamatkan mamaku. Dan Sholat tarawih tidak terlaksana saat itu.

Bapakku dan bapak-bapak lainnya menggendong jasad mamaku sambil mencari mobil untuk ke rumah sakit. Suami bu Chris pas ada di rumah bersedia mobilnya dipakai untuk mengantar mamaku ke rumah sakit. Dan sesampainya di rumah sakit Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. Mamaku meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Terimakasih buat tetangga-tetangga yang sudah membantu proses penyelenggaraan Jenazah mamaku. Terima kasih Pak H Rustan yang mengurusi Pemakaman, Terima Kasih Pak Kadir Hasan yang menjaga liang kubur mamaku agar tidak longsor padahal saat itu hujan deras. Terima kasih semuanya. Semoga Allah membalas kebaikan ini dengan mengumpulkan kita semua disyurga-Nya kelak.

Mama, Aku sayang mama, AKu rindu mama, Aku ingin bersamamu di Syurga nanti.


Di malam 6 syawal 1435 H, 1 Agustus 2014   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar