Persiapan Menyambut Ramadhan
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan
sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tinggal dalam hitungan hari,
bulan yang sangat dinanti akan tiba yaitu bulan Ramadhan. Sayangnya
mayoritas kita lebih mempersiapkan diri dengan menyambut Idul Fitri
daripada menyambut bulan Ramadhan. Atau mungkin diantara kita malah
merasa datagnya bulan Ramadhan akan mendatangkan bayak beban. Semoga
kita terlindung dari sifat tersebut.
Untuk itu di bulan Rajab dan Sya’ban ini kita harus mempersiapkan diri
kita agar bulan istimewa ini tidak berlalu begitu saja. Kita berharap
amalan ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini harus lebih baik daripada
tahun yang lalu. Jika puasa kita di Ramadhan yang lalu belum terlalu
baik dan terkadang masih ada rasa marah atau pandangan yang tak terjaga
maka kita bertekad di Ramadhan tahun ini ibadah puasa kita menjadi lebih
baik. Karena bisa saja ini menjadi Ramadhan yang terakhir buat kita.
Adapun yang perlu kita persiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan adalah
sebagai berikut :
Persiapan Nafsiyah (kejiwaan), adalah persiapan–persiapan yang dilakukan
untuk menyiapkan jiwa dan moral kita, sehingga secara kejiwaan kita
sudah siap menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan hati gembira, dan
menyadari sepenuhnya bahwa Ramadhan adalah bulan untuk mendekatkan diri
pada Allah SWT. Kesiapan jiwa yang sempurna, hingga tercipata sebuah
persepsi di dalam diri kita, bahwa Ramadhan bukanlah bulan penuh beban,
melainkan bulan untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas ubudiyah dan
meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT.
Cara melatih diri kita agar siap menyambut bulan Ramadhan adalah dengan
memperbayak amalan sunnah. Baik sholat-sholat sunnah, puasa sunnah,
memperbanyak istighfar atau segera meminta maaf atas segala dosa yang
pernah kita lakukan kepada orang lain.
Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban terdapat suatu amalan yang dapat
dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding
bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan Dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘ alaihi
wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka
Beliau pun tidak berpuasa sampai kami katakan bahwa beliau tidak
berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada
bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih
banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” ( HR. Bukhari no. 1969 dan
Muslim no. 1156).
Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “ Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban
seluruhnya . Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja. ” (HR .
Muslim no . 1156) . Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “ Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh
selain pada bulan Sya’ ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan
Ramadhan .” ( HR. Abu Daud dan An Nasa ’i . Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shahih)
Hal lain yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak bacaan AL Qur’an
kita, selain itu alangkah baiknya jika kita juga belajar memperbaiki
bacaan Al Qur’an kita. Lakukan secara perlahan namun terus meningkat
sehingga ketika bulan Ramadhan tiba kita bisa mengkhatamkan bacaan Al
Qur’an kita tidak hanya sekali. Selain bacaan Al Qur’an lebih baik lagi
jika kita menambah hafalan Al Qur’an kita. Agar hafalan Al Qur’an kita
tidak hilang, kita bisa menggunakan hafalan kita untuk sholat dhuha,
atau tahajud sebagai persiapan untuk melaksanakan sholat tarawih dan
sholat sunnah lainnya selama sebulan.
Persiapan Fikriyah (ilmu), agar kita dapat melakukan aktivitas kebaikan
di bulan Ramadhan secara optimal maka diperlukan pemahaman yang mendalam
mengenai fiqh ash-shiyâm. Oleh karena itu, persiapan fikriyah tidak
kalah pentingnya bagi seorang Mukmin agar ia benar-benar mendapatkan
rahmat, berkah, dan ampunan dari Allah SWT. Dengan pemahaman fiqh
ash-shiyâm yang baik, dia akan memahami dengan benar, mana perbuatan
yang dapat merusak nilai shiyamnya dan mana perbuatan yang dapat
meningkatkan nilai dan kualitas shiyamnya.
Untuk menambah ilmu kita tentang ibadah di bulan Ramadhan maka kita
perlu banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan ibadah di bulan
Ramadhan atau banyak mendengar ceramah-ceramah dari ulama-ulama agar
dengan bertambahnya ilmu kita maka kualitas ibadah kita di bulan
Ramadhan tahun ini lebih baik dari sebelumnya.
Persiapan Jasadiyah (fisik), Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas
Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik, baik untuk melaksanakan
shiyamnya, tarawihnya, tilawahnya dan aktifitas ibadah lainnya. Dengan
kondisi fisik yang baik, tentunya seseorang akan dapat melakukan
ibadah-ibadah tersebut tanpa satupun yang terlewatkan. Sebab, bila
kondisi fisik tidak prima akan terbuka peluang untuk tidak
melaksanakannya amaliyah tersebut dengan maksimal, bahkan dapat
terlewatkan begitu saja. Padahal bila ibadah-ibadah itu terlewatkan,
nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain.
Persiapan fisik yang bisa kita lakukan adalah dengan berolahraga ringan
setiap hari, menjaga kesehatan juga menjaga pola makan. Tentunya kita
tidak menginginkan ibadah puasa kita menjadi terganggu karena sakit.
Memperbanyak puasa sunnah juga berguna untuk melatih kondisi lambung
kita. Sehingga ketika berpuasa di bulan Ramadhan telah terbiasa dan
tidak terasa berat.
Persiapan Materi, Persiapan materi di sini, bukanlah persiapan yang
ditujukan untuk membeli pakaian baru, mengumpulkan bekal perjalanan
pulang kampung atau untuk membeli kue-kue iedul fitri. Akan tetapi,
persiapan materi di sini adalah persiapan materi yang ditujukan untuk
infaq, shadaqah dan zakat. Sebab, nilai balasan infaq, shadaqah dan
zakat akan dilipat gandakan sebagaimana kehendak Allah SWT. Karenanya,
mempersiapkan materi di sini mesti dilakukan sedini mungkin, agar dapat
dimenej dengan sebaik-baiknya.
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(Q.S. Al Baqarah: 261)
Tidak akan pernah harta yang disedekahkan kecuali ia
bertambah…bertambah…bertambah…”(H.R. at-Tirmidzi)
Melihat dalil di atas tentunya kita tidak akan menyia-nyiakan ksempatan
untuk memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. Apalagi pahala selama
bulan Ramadhan dilipat gandakan. Menabunglah untuk sedekah di bulan
Ramadhan itulah cara melatih diri kita untuk menyambut bulan ramadhan
juga sebagai media untuk menahan diri kita agar tidak boros.
Persiapan Keluarga juga perlu diperhatikan untuk menyambut bulan
Ramadhan. Keluarga yang dicintai Allah adalah keluarga yang seluruh
anggota keluarganya mencintai Allah dan Rasulnya. Mulailah
mengkondisikan rumah senyaman mungkin agar khusyuk untuk tilawah bersama
keluarga di rumah. Hiasi rumah dengan hiasan yang menambah semangat dan
memotivasi diri kita, anak dan istri kita agar semangat dalam
beribadah.
Marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri kita untuk menyambut bulan
yang sangat istimewa yaitu bulan Ramadhan mulai dari sekarang. Jangan
sampai kita terkejut dengan datangnya bulan Ramadhan sehingga ibadah
kita menjadi tidak maksimal. Semoga Allah menerima amal ibadah kita
sebagai hamba yang berbahagia menyambut bulan Ramadhan dan memperoleh
keridhoan Allah SWT dalam menjalankan segala ibadah di bulan Ramadhan
dan juga memperoleh kemenangan hakiki di hari yang fitri nanti.
Wallahu’alam bish showwab.
Penulis adalah Alumni STAIN Al-Fatah Jayapura Th. 2011 dan Guru PAI di
SMA Muhammadiyah Jayapura
Tidak ada komentar:
Posting Komentar