Ini cuma
analisis pribadi.
Saya teringat
mata pelajaran ekonomi kelas I SMA dahulu. Ibu guruku mengatakan
“apakah kalian ingin menjadi pemilik Mall yang besar?” Kami
menjawab “Iya”.
Ada yang tahu
caranya? Tanya ibu guru lagi.
Kami menjawab
“beli tokonya.”
“Mahal”
jawab bu guru. “Kalian cukup membeli sahamnya. Sedikit demi
sedikit. Misalnya kalian membeli saham 1% dari SAGA MALL. Maka kalian
adalah pemilik 1% dari SAGA MALL. Tiap tahun pemilik saham mendapat
Deviden. Ya bagi hasil keuntungan lah gitu.
Bayangkan jika
kalian adalah pemilik 90% saham dari sebuah perusahaan.
Dalam dunia
pendidikan pun demikian. Antara pemilik lembaga dan pengelola
hariannya. Ketua sekaligus pemilik yayasan misalnya. Bayangkan jika
kebijakan antara pemilik dan pengelola berbeda? Begitupun di
perusahaan kebijakan pemegang saham jika berbeda dengan kebijakan
pengelola tentunya akan membahayakan perusahaan.
Pertanyaannya
seberapa pentingnya kepemilikan itu? Monggo bayangkan jika perusahaan
di Indonesia seluruh modal di danai asing. Banyak investor asing.
Jika dari 100% saham, 75%nya adalah investor asing? Siapa pengendali
kebijakan? Jika rakyat Indonesia yang bertindak sebagai pengelola
coba pikirkan kita memajukan perusahaan siapa yang diuntungkan?,
namun jika kita bekerja dengan buruk, siapa yang di PHK?
Rang kaya dan
orang pintar seharusnya punya satu visi. Mau tahu problemnya? Lulusan
terbaik perguruan tinggi di Indonesia banyak yang memiliki
penemuan-penemuan baru. Tapi apakah ada perusahaan yang tertarik
untuk melakukan produksi masal? Lalu bagaimana jika yang berani
memodali dan memproduksi justru dari asing, lalu apa daya kita
kehilangan jati diri bangsa. Indonesia butuh orang-orang kaya yang
peduli pada produk dalam negeri. Ada sebuh impian bahwa siatu saat
Indonesia akan memiliki pabrik di luar negeri yang buruhnya adalah
warga negara tersebut. Aku tak ingin Indonesia bagaikan negeri
pengekspor pekerja jasa, jadi buruh di negeri lain.
Aku bukanlah
pakar ekonomi, bahkan aku tak pandai berdagang. Aku hanya berbagi apa
yang aku tahu sekedarnya. Dan ingat. Mereka mengatakan kami mengelola
perusahaan. Hal yang sering terlupa bahwa mereka pun mengelola
manusia. Dan dalam mengelola kumpulan manusia harus berprinsip pada
asas-asas kemanusiaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar