Senin, 21 Maret 2016

Antara kepemilikan dan pengelolaan.

Ini cuma analisis pribadi.

Saya teringat mata pelajaran ekonomi kelas I SMA dahulu. Ibu guruku mengatakan “apakah kalian ingin menjadi pemilik Mall yang besar?” Kami menjawab “Iya”.
Ada yang tahu caranya? Tanya ibu guru lagi.
Kami menjawab “beli tokonya.”
Mahal” jawab bu guru. “Kalian cukup membeli sahamnya. Sedikit demi sedikit. Misalnya kalian membeli saham 1% dari SAGA MALL. Maka kalian adalah pemilik 1% dari SAGA MALL. Tiap tahun pemilik saham mendapat Deviden. Ya bagi hasil keuntungan lah gitu.
Bayangkan jika kalian adalah pemilik 90% saham dari sebuah perusahaan.

Dalam dunia pendidikan pun demikian. Antara pemilik lembaga dan pengelola hariannya. Ketua sekaligus pemilik yayasan misalnya. Bayangkan jika kebijakan antara pemilik dan pengelola berbeda? Begitupun di perusahaan kebijakan pemegang saham jika berbeda dengan kebijakan pengelola tentunya akan membahayakan perusahaan.

Pertanyaannya seberapa pentingnya kepemilikan itu? Monggo bayangkan jika perusahaan di Indonesia seluruh modal di danai asing. Banyak investor asing. Jika dari 100% saham, 75%nya adalah investor asing? Siapa pengendali kebijakan? Jika rakyat Indonesia yang bertindak sebagai pengelola coba pikirkan kita memajukan perusahaan siapa yang diuntungkan?, namun jika kita bekerja dengan buruk, siapa yang di PHK?

Rang kaya dan orang pintar seharusnya punya satu visi. Mau tahu problemnya? Lulusan terbaik perguruan tinggi di Indonesia banyak yang memiliki penemuan-penemuan baru. Tapi apakah ada perusahaan yang tertarik untuk melakukan produksi masal? Lalu bagaimana jika yang berani memodali dan memproduksi justru dari asing, lalu apa daya kita kehilangan jati diri bangsa. Indonesia butuh orang-orang kaya yang peduli pada produk dalam negeri. Ada sebuh impian bahwa siatu saat Indonesia akan memiliki pabrik di luar negeri yang buruhnya adalah warga negara tersebut. Aku tak ingin Indonesia bagaikan negeri pengekspor pekerja jasa, jadi buruh di negeri lain.

Aku bukanlah pakar ekonomi, bahkan aku tak pandai berdagang. Aku hanya berbagi apa yang aku tahu sekedarnya. Dan ingat. Mereka mengatakan kami mengelola perusahaan. Hal yang sering terlupa bahwa mereka pun mengelola manusia. Dan dalam mengelola kumpulan manusia harus berprinsip pada asas-asas kemanusiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar