Bagi kita yang hoby atau
sejak kecil kita diajarkan tentang kisah cinta jaman kerajaan dahulu.
Kisah tentang putri raja yang dipersuting oleh pangeran gagah mungkin
mempengaruhi kepala kita. Namun semua cerita itu memiliki akhir yang
sama. Keduanya menikah dan hidup bahagia selamanya. Semua orang ingin
bahagia. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan atau kekasih yang
amat sangat dicintainya? Siapa yang tidak menghendaki hidup bahagia
selamanya?
Nyatanya. Kita bukan anak
raja, bukan pengeran, bukan putri kerajaan. Kisah-kisah romantis
mempengaruhi diri kita bahwa kita menginginkan kisah cinta kita
bagaikan kisah film-film kolosal atau mungkin serial Korea. Nyatanya
hampir semua orang menginginkan hidup bersama dengan orang yang
dicintainya. Bahkan ada yang setia sampai mati.
Nyatanya. Kita orang biasa
yang tidak hanya berpikir tentang cinta. Kita juga berpikir tentang
kehidupan. Kita berpikir tentang kebutuhan primer baik sandang,
pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Kita berpikir tentang biaya
listrik, air dan lain-lain. Ini tentang kehidupan. Kita pun juga
bekerja. Maka jika kita membayangkan menikah itu membuat hidup kita
seperti pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya maka kita
salah.
Saya belum menikah. Ada
beberapa alasan. Secara ekonomi saya bukan anak orang kaya dan saya
memulai kehidupan nyata selepas SMA. Mengumpulkan biaya kuliah
sendiri. Berorientasi studi. Namun saya tidak berbakat dagang. Ayah
saya selalu menasehati saya bahwa menikah itu berat. Saya memahaminya
ini pasti tentang ekonomi. Bro. ini tentang mindset. Ini rahasia
lelaki. Lelaki kaya namun punya istri yang banyak tuntutan tentunya
akan berpikir tidak cukup. Apalagi jika lelakinya tidak kaya. Anehnya
bapak saya bilang ingin punya menantu seorang guru atau dosen, tapi
jangan guru ngaji atau guru TK.
Masalahnya apa yang dicari?
Kemakmuran atau keberkahan. Saya jadi teringat kata-kata Ust. Salim A
Fillah. “Jawab dulu buat apa antum punya istri sebelum antum
berpikir untuk punya istri”. Apa yang dicari dari menikah? Apakah
hubungan yang halal sehingga mau ngapa-ngapain sudah sah, dapat
pahala. Atauakah menikah itu sesederhana saya cinta sama kamu, kamu
cinta sama aku, terus ayo menikah.
Atau mungkin ada yang
berpikir ingin merasakan tahajud berdua dengan istri, lalu istri
mencium tangan suami setiap hari atau hal-hal lain yang telah
dicontohkan Rasulullah SAW pada istrinya. Iya benar. Siapapun
menginginkan hal ini. Romantis dalam berkeluarga memberi kekuatan
tersendiri. Tapi itu bukan tujuan. Itu harus menjadi sesuatu yang
perlu dilakukan untuk menunjang tugas-tugas keluarga yang berat.
Jika ada yang berpikir
mengapa saya belum menikah karena saya gak laku, mungkin juga. Tapi
jujur, sebagai laki-laki yang dahulu pernah pengalaman sebagai lelaki
brengsek dan tahu bagaimana cara merayu wanita, jika urusan untuk
mencari wanita yang hanya bisa diajak romantis-romantisan itu mudah.
Namun tidak untuk berkeluarga. Yang dibutuhkan dalam keluarga adalah
kesamaan visi. Apakah keluarga menjadi kendaraan menuju syurga atau
jalan menuju neraka. Maka berkeluarga, menikah itu bukan tujuan.
Saya tahu memikul amanah
sebagai kepala keluarga bukanlah hal mudah. Itulah sebabnya kepala
keluarga butuh istri sebagai motivator. Bukan hanya sebagai motivator
dunia namun juga motivator akhirat.
Robbana Hablana Min Azwajina
Wa Zurriyatina Qurrota a’yunin waj’alna lil muttaqina imama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar