Rabu, 30 Desember 2015

Membentuk Keluarga Romantis ?

Bagi kita yang hoby atau sejak kecil kita diajarkan tentang kisah cinta jaman kerajaan dahulu. Kisah tentang putri raja yang dipersuting oleh pangeran gagah mungkin mempengaruhi kepala kita. Namun semua cerita itu memiliki akhir yang sama. Keduanya menikah dan hidup bahagia selamanya. Semua orang ingin bahagia. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan atau kekasih yang amat sangat dicintainya? Siapa yang tidak menghendaki hidup bahagia selamanya?

Nyatanya. Kita bukan anak raja, bukan pengeran, bukan putri kerajaan. Kisah-kisah romantis mempengaruhi diri kita bahwa kita menginginkan kisah cinta kita bagaikan kisah film-film kolosal atau mungkin serial Korea. Nyatanya hampir semua orang menginginkan hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Bahkan ada yang setia sampai mati.

Nyatanya. Kita orang biasa yang tidak hanya berpikir tentang cinta. Kita juga berpikir tentang kehidupan. Kita berpikir tentang kebutuhan primer baik sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Kita berpikir tentang biaya listrik, air dan lain-lain. Ini tentang kehidupan. Kita pun juga bekerja. Maka jika kita membayangkan menikah itu membuat hidup kita seperti pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya maka kita salah.

Saya belum menikah. Ada beberapa alasan. Secara ekonomi saya bukan anak orang kaya dan saya memulai kehidupan nyata selepas SMA. Mengumpulkan biaya kuliah sendiri. Berorientasi studi. Namun saya tidak berbakat dagang. Ayah saya selalu menasehati saya bahwa menikah itu berat. Saya memahaminya ini pasti tentang ekonomi. Bro. ini tentang mindset. Ini rahasia lelaki. Lelaki kaya namun punya istri yang banyak tuntutan tentunya akan berpikir tidak cukup. Apalagi jika lelakinya tidak kaya. Anehnya bapak saya bilang ingin punya menantu seorang guru atau dosen, tapi jangan guru ngaji atau guru TK.

Masalahnya apa yang dicari? Kemakmuran atau keberkahan. Saya jadi teringat kata-kata Ust. Salim A Fillah. “Jawab dulu buat apa antum punya istri sebelum antum berpikir untuk punya istri”. Apa yang dicari dari menikah? Apakah hubungan yang halal sehingga mau ngapa-ngapain sudah sah, dapat pahala. Atauakah menikah itu sesederhana saya cinta sama kamu, kamu cinta sama aku, terus ayo menikah.

Atau mungkin ada yang berpikir ingin merasakan tahajud berdua dengan istri, lalu istri mencium tangan suami setiap hari atau hal-hal lain yang telah dicontohkan Rasulullah SAW pada istrinya. Iya benar. Siapapun menginginkan hal ini. Romantis dalam berkeluarga memberi kekuatan tersendiri. Tapi itu bukan tujuan. Itu harus menjadi sesuatu yang perlu dilakukan untuk menunjang tugas-tugas keluarga yang berat.

Jika ada yang berpikir mengapa saya belum menikah karena saya gak laku, mungkin juga. Tapi jujur, sebagai laki-laki yang dahulu pernah pengalaman sebagai lelaki brengsek dan tahu bagaimana cara merayu wanita, jika urusan untuk mencari wanita yang hanya bisa diajak romantis-romantisan itu mudah. Namun tidak untuk berkeluarga. Yang dibutuhkan dalam keluarga adalah kesamaan visi. Apakah keluarga menjadi kendaraan menuju syurga atau jalan menuju neraka. Maka berkeluarga, menikah itu bukan tujuan.

Saya tahu memikul amanah sebagai kepala keluarga bukanlah hal mudah. Itulah sebabnya kepala keluarga butuh istri sebagai motivator. Bukan hanya sebagai motivator dunia namun juga motivator akhirat.

Robbana Hablana Min Azwajina Wa Zurriyatina Qurrota a’yunin waj’alna lil muttaqina imama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar