Minggu, 04 Oktober 2015

MERAIH KEKUASAAN BUKAN TUJUAN

Gak papa ya! Lagi-lagi kita ngomongin politik. Tapi ngomong-ngomong di sekitar kita untuk hal-hal kecil kita sudah berpolitik loh. Coba tanya deh sama yang pernah pacaran, pasti punya siasat, trik-trik untuk dapetin si-doi. Itu politik juga loh. Ada juga loh yang pakai trik-trik tapi bukan buat pacaran tetapi buat melamar si dambaan hati untuk di jadikan istri. Sama-sama pakai siasat, sama-sama pakai trik, tetapi tujuannya sama atau beda? Ya bedalah yang pacaran jelas belum halal ya dosa lah! Yang melamar, kalau jadi nikah kan berpahala ibadah tuh…

Sekalian saya minta doanya sama para pembaca semoga saya dipertemukan oleh sosok bidadari syurga, mar’atus sholihah, perhiasan yang paling indah yang akan selalu mendampingiku dalam menjalankan amanah-amanah di dunia ini. Kata wali “kamu adalah amanah untukku” iya kamu… eh… bukan kamu itu loh di belakang kamu….eh… bukan…eh.. bisa jadi.

Waduh kok jadi ngomongin jodoh, (maklum jomblo jatuh tempo). Lanjut deh kita bahas tentang kekuasaan. Bro dan sist sekalian… kira-kira kalau kita nunjuk ketua kelas, kita yakin dia pemimpin kita? Pejabat di atas kita apa itu pemimpin kita? Coba deh pelajari kisah pemimpin-pemimpin hebat seperti jendral Sudirman. Dia pemimpin tetapi bukan penguasa kan. Kenapa demikian… Karena penguasa konotasinya negatif.

Ini alasan mengapa Penguasa di konotasikan negatif: Apa yang ada dalam bayangan kalian jika ada istilah :
  1. Penguasa pasar
  2. Penguasa terminal
  3. Penguasa blok M
Pasti bayangannya bukan yang pakai dasi, stelan jas sama kopiah. Hayo jujur…..

Buat yang pernah nonton film preman pensiun pasti ngerti maksud saya. Konotasi negatif ini memang sulit dihindari. Maka saya masih yakin adanya partai Islam di negeri ini bukan untuk meraih kekuasaan. Mengapa?? Karena negeri ini pun juga gak punya kuasa apa-apa sama asing? Kok bisa? Karena rakyatnya NPWP (nomor piro wani piro). Halo rakyat yang pernah nerima uang sogokan. Demi Allah, uang sogokan itu pasti akan ditanya sama Allah..

Tapi saya masih percaya. Masih ada politikus yang memiliki tujuan yang mulia. Mungkin di antara kita ada yang menjustis mereka kotor, gak peduli. Kita tidak pernah tahu bisa jadi ada puluhan anak yatim yang ia biayai pendidikannya, ia yang lebih banyak sedekahnya, bisa jadi dengan pikiran yang rumit dia lebih sering tahujudnya dibanding kita. Kita tak pernah tahu.

Kalau bukan kekuasaan lalu apa yang dicari? Coba buka deh Surat Yusuf. Ada kisah dimana Nabi Yusuf As yang merasa mampu menjadi bendahara Mesir maka ia mengajukan diri. Pasti diantara kita ada yang bilang “Dia kan nabi, pasti dapat petunjuk Allah.” Ora ngono yo!!!
Nabi Yusuf As ketika di bawa ke Istana ia mendapat pendidikan dari orang-orang istana, sehingga ia menjadi orang yang cerdas. Kalau gak cerdas bagaimana mungkin ia bisa berkata “sesungguhnya penjara lebih aku cintai.” Ada muatan politiknya loh itu. Agar nabi Yusuf terhindar dari bujukan-bujukan para wanita Mesir. Kita belum tentu kuat.
Ada dua pilihan bagi kita. Kita ingin menjadi generasi pengganti atau generasi yang diganti? Apa siap kita menjadi orang-orang yang akan mengganti mereka yang tidak amanah dengan tugas yang diberikan. Jangan ribut mencari pemimpin yang ideal, mengapa tidak menjadikan diri sebagai pemimpin yang akan menggantikan mereka yang tidak layak mengatur negara ini.

Tidak harus menjadi pucuk pimpinan. Apapun posisi kita bagi Allah itu mulia selama kita amanah dalam menjalankan tugas kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar