Istilah ini
bukan buatan saya dan bukan sebuah anekdot yang memiliki niat buruk namun
sebuah untaian kata yang indah untuk menggambarkan tentang kesucian itu
sendiri. Sebuah kata yang mencul dari ngobrol-ngobrol bersama guru saya yang
lebih saya anggap seperti ibu saya sendiri. Ibu Sa’adah atau yang sering saya
panggil ummy dan Bapak Asikin yang lebih dekat saya panggil abah. Tentang
keponakannya yang sulit sekali di atur di masa SMPnya lalu disekolahkan ke
sebuah Pesantren di Yogyakarta. Aku lupa pesantren apa namanya. Proses itu
tidak mudah karena gejolak pertentangan itu selalu muncul dari dirinya ketika
ia harus sekolah lebih setahun untuk masa penyesuaian. Namun kini perubahan
besar itu terjadi. Ya kata penjara suci itu muncul darinya. Ia menjadi begitu…
Subhanallah.
Mengapa
penjara??? Kata penjara identik dengan buruk, kriminal, dan berbagai macam
kehinaan di dalamnya. Tapi apakah kita lupa bahwa nabi Yusuf As pernah
mengatakan bahwa “Saya lebih mencintai penjara”. Apakah kita lupa bahwa Imam
Ahmad bin hambal, Imam Syafi’I, Ibnu Sina, Hamka, Sayyid Qutb, Syaikh Ahmad
Yasin, Soekarno, Moh. Hatta, dan orang-orang besar melaui hidupnya dipenjara.
Ternyata penjara tak seseram itu. Bahkan penjara sudah merubah imej menjadi
lembaga pembinaan. Maka Narapidana tidak lagi disebut napi namun disebut warga
binaan.
Secara fisik
penjara membatasi ruang gerak dengan aturan-aturan. Kemiripan ini yang membuat
identik antara penjara dan pesantren. Tentunya di pesantren juga kita mengalami
hal yang sama. Aturan yang banyak, jadwal yang padat, waktu yang mengikat.
Padahal semua itu berhubungan dengan persepsi atau cara pandang kita.
Namun pernahkah
kita pikirkan bahwa putri-putri raja dalam dongeng itu dibatasi geraknya hanya
di sekitar istananya saja. Hal ini membuatnya terjaga dari gangguan yang bisa
saja mengancam kehormatan bahkan nyawanya. Bagi pengeran ia dibatasi tembok
tinggi untuk fokus belajar berbagai ilmu agar ketika ia harus berhadapan dengan
realita di luar tembok besar pikirannya mulai bekerja dan dapat bersikap
bijaksana. Semua telah dipersiapkan dengan matang.
Dari sebuah
analogi ini. Apakah kita merasa pesantren adalah penjara suci ataukah istana
suci. Semua kembali pada cara pandang kita masing-masing. Aku bukanlah santri
hanya seseorang yang mencoba untuk membaca realita yang terjadi disekitar
dengan sudut pandang berbeda. Aku Lulusan SD sampai SMA Negeri di kota paling
timur Indonesia. Kuliah di sebuah PTAIN di Kota yang sama. Tak pernah sekalipun
masuk pesantren kecuali pesantren kilat. Di Kota Pelajar ini justru diamanahkan
membina anak-anak di sebuah Islamic Boarding School. Saya hanya bisa mengatakan
pada mereka. Kalian adalah calon pemimpin negeri ini sebagaimana Pangeran yang
dididik dengan batasan sebagai latihan kedisiplinan dan bekal agama untuk
menjadi generasi pengganti para pemimpin yang bobrok saat ini.
So,….. Cintai
Istana ini.
Sigit Purwaka,
S. pd.I
Tegalsari
Jomblangan Banguntapan Bantul, 13 September 2014
Musyrif in
Islamic Boarding School in SMAIT Abu Bakar Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar