Sabtu, 13 September 2014

PENJARA SUCI ATAU ISTANA SUCI



Istilah ini bukan buatan saya dan bukan sebuah anekdot yang memiliki niat buruk namun sebuah untaian kata yang indah untuk menggambarkan tentang kesucian itu sendiri. Sebuah kata yang mencul dari ngobrol-ngobrol bersama guru saya yang lebih saya anggap seperti ibu saya sendiri. Ibu Sa’adah atau yang sering saya panggil ummy dan Bapak Asikin yang lebih dekat saya panggil abah. Tentang keponakannya yang sulit sekali di atur di masa SMPnya lalu disekolahkan ke sebuah Pesantren di Yogyakarta. Aku lupa pesantren apa namanya. Proses itu tidak mudah karena gejolak pertentangan itu selalu muncul dari dirinya ketika ia harus sekolah lebih setahun untuk masa penyesuaian. Namun kini perubahan besar itu terjadi. Ya kata penjara suci itu muncul darinya. Ia menjadi begitu… Subhanallah.

Mengapa penjara??? Kata penjara identik dengan buruk, kriminal, dan berbagai macam kehinaan di dalamnya. Tapi apakah kita lupa bahwa nabi Yusuf As pernah mengatakan bahwa “Saya lebih mencintai penjara”. Apakah kita lupa bahwa Imam Ahmad bin hambal, Imam Syafi’I, Ibnu Sina, Hamka, Sayyid Qutb, Syaikh Ahmad Yasin, Soekarno, Moh. Hatta, dan orang-orang besar melaui hidupnya dipenjara. Ternyata penjara tak seseram itu. Bahkan penjara sudah merubah imej menjadi lembaga pembinaan. Maka Narapidana tidak lagi disebut napi namun disebut warga binaan.

Secara fisik penjara membatasi ruang gerak dengan aturan-aturan. Kemiripan ini yang membuat identik antara penjara dan pesantren. Tentunya di pesantren juga kita mengalami hal yang sama. Aturan yang banyak, jadwal yang padat, waktu yang mengikat. Padahal semua itu berhubungan dengan persepsi atau cara pandang kita.

Namun pernahkah kita pikirkan bahwa putri-putri raja dalam dongeng itu dibatasi geraknya hanya di sekitar istananya saja. Hal ini membuatnya terjaga dari gangguan yang bisa saja mengancam kehormatan bahkan nyawanya. Bagi pengeran ia dibatasi tembok tinggi untuk fokus belajar berbagai ilmu agar ketika ia harus berhadapan dengan realita di luar tembok besar pikirannya mulai bekerja dan dapat bersikap bijaksana. Semua telah dipersiapkan dengan matang.

Dari sebuah analogi ini. Apakah kita merasa pesantren adalah penjara suci ataukah istana suci. Semua kembali pada cara pandang kita masing-masing. Aku bukanlah santri hanya seseorang yang mencoba untuk membaca realita yang terjadi disekitar dengan sudut pandang berbeda. Aku Lulusan SD sampai SMA Negeri di kota paling timur Indonesia. Kuliah di sebuah PTAIN di Kota yang sama. Tak pernah sekalipun masuk pesantren kecuali pesantren kilat. Di Kota Pelajar ini justru diamanahkan membina anak-anak di sebuah Islamic Boarding School. Saya hanya bisa mengatakan pada mereka. Kalian adalah calon pemimpin negeri ini sebagaimana Pangeran yang dididik dengan batasan sebagai latihan kedisiplinan dan bekal agama untuk menjadi generasi pengganti para pemimpin yang bobrok saat ini.

So,….. Cintai Istana ini.

Sigit Purwaka, S. pd.I
Tegalsari Jomblangan Banguntapan Bantul, 13 September 2014
Musyrif in Islamic Boarding School in SMAIT Abu Bakar Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar