Pernahkah kita
melihat tahu isi. Sebuah makanan gorengan yang banyak diminati masyarakat
Indonesia. Enak rasanya. Pecinta gorengan pasti akrab dengan tahu isi. Bahkan
tahu isi bisa juga dijadikan teman makan nasi ketika virus kanker (kantong
kering) di tanggal tua menyerang dompet kita. Namun pernahkah kita berpikir
siapa saja yang terlibat dalam proses terjadinya tahu isi???
Mari kita
analisis:
Untuk
mendapatkan tahu kita harus membelinya di pasar dari penjual tahu, penjual tahu
mendapatkan tahu dari pabrik tahu yang pegawainya terdiri dari banyak orang,
Tahu itu berasal dari kedelai yang dibeli dari penjual kedelai, Penjual kedelai
mendapatkan kedelai petani kedelai, Petani kedelai butuh bibit, pupuk dan itu
di dapat penjual dan seterusnya. Coba bayangkan untuk mendatangkan tahu berapa
banyak keterlibatan orang lain. Itu baru tahu, belum taugenya, terigunya,
minyak gorengnya. Bagi yang memahami hukum sebab akibat akan mudah mengerti hal
ini.
Mungkin ada
yang bertanya apaan sih hal beginian dipikirin. Bukan tentang tahu isi yang
saya harapkan untuk kita pikirkan namun hal lain yang bisa saja merupakan
analogi dari kasus yang sama.
Saat ini ada
diantara kita yang telah mendapatkan sesuatu hal yang dirasanya baik. Rizki
yang baik, Jodoh yang baik, dan Jabatan yang baik. Pernahkah kita berpikir apa
yang kita dapatkan saat ini adalah jasa dari orang yang membantu kita dengan
tulus baik langsung maupun tidak langsung.
Jasa ini bisa
berupa bantuan, saran, motivasi, dukungan, bahkan ada juga yang berupa cacian,
makian, ejekan bahkan kekecewaan. Manusia adalah pembelajar jika ia ingin terus
bergerak maju. Mulai agak mudeng????? Ok kita lanjut.
Pernahkah kita
merenung apa yang kita capai hari ini adalah andil dari orang lain walaupun ia
tidak berperan langsung. Misalnya orang yang mendapatkan Istri yang Sholihah
bersyukur karena ia pernah kecewa di tolak oleh wanita yang dicintainya.
Andaikan waktu itu ia diterima ia tak kan pernah mendapatkan wanita sesholehah
istri yang ia dapatkan saat ini. Begitupun dalam kasus yang lainnya. Saya tidak
mungkin ada di Jogja jika bukan karena Jasa Atasan saya juga dukungan
kawan-kawan dan penolakan wanita yang ingin saya nikahi. Bagi saya semua akan
menjadi berkah jika kita ikhlas.
Ust. Yusuf
Mansyur pernah bercerita. Ia bertemu seorang penjual bubur yang ikut sholat
berjamaah dengan tato ditangannya. Ust Yusuf bertanya :” maaf ni bang, saya
demen banget lihat abang sholat berjamaah di masjid. Kalau boleh tahu bang
pengen tahu sejarah tu tato.” Lalu apa jawab dari si penjual bubur itu. “Saya
dulu preman ustadz, Ni badan penuh tato, lalu sesuatu menimpa saya dan saya di
tolong oleh Allah. Dan saya berterima kasih karena hidayah ini datang justru
dari do’a-do’a muslimin dan muslimat yang tidak saya kenal. Saya bersyukur
sekali”.
“Maksud ente
do’a yang mane?”
“ Allahummghfir
lilmuslimin wal muslimat, wal mukminin wal mu’minat”
Bukankah itu
do’a yang sering kita baca. Dampaknya luar biasa. Dan Allah punya cara yang
tidak biasa ketika memberikan jalan.
Apa jadinya
kita saat ini tentunya bukan karena rencana-rencana dan dari tangan kita
sendiri. Apa yang kita dapatkan saat ini karena apa yang kita alami dengan
orang lain melalui tangan-tangan yang tak terlihat yaitu kekuasaan Allah yang
tak pernah kita pikirkan. Maka berterima kasihlah kepada orang yang pernah
menyakitimu dan mengecewakanmu. Karena melalui itu Allah telah menyelamatkanmu.
Dan yang tak pernah dilupakan adalah kebaikan-kebaikan orang lain yang telah
berperan membawamu menuju kondisi saat ini.
SO… BERSYUKUR
TIADA HENTI……
Sabar membuatmu
Bersyukur. Syukur membuatmu Bersabar!
Sigit Purwaka,
S. Pd.I
Pascasarjana
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi PGMI Konsentrasi PAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar