Sabtu, 13 September 2014

KITA MENJADI SESUATU BUKAN KARENA DIRI KITA SENDIRI



Pernahkah kita melihat tahu isi. Sebuah makanan gorengan yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Enak rasanya. Pecinta gorengan pasti akrab dengan tahu isi. Bahkan tahu isi bisa juga dijadikan teman makan nasi ketika virus kanker (kantong kering) di tanggal tua menyerang dompet kita. Namun pernahkah kita berpikir siapa saja yang terlibat dalam proses terjadinya tahu isi???

Mari kita analisis:
Untuk mendapatkan tahu kita harus membelinya di pasar dari penjual tahu, penjual tahu mendapatkan tahu dari pabrik tahu yang pegawainya terdiri dari banyak orang, Tahu itu berasal dari kedelai yang dibeli dari penjual kedelai, Penjual kedelai mendapatkan kedelai petani kedelai, Petani kedelai butuh bibit, pupuk dan itu di dapat penjual dan seterusnya. Coba bayangkan untuk mendatangkan tahu berapa banyak keterlibatan orang lain. Itu baru tahu, belum taugenya, terigunya, minyak gorengnya. Bagi yang memahami hukum sebab akibat akan mudah mengerti hal ini.

Mungkin ada yang bertanya apaan sih hal beginian dipikirin. Bukan tentang tahu isi yang saya harapkan untuk kita pikirkan namun hal lain yang bisa saja merupakan analogi dari kasus yang sama.

Saat ini ada diantara kita yang telah mendapatkan sesuatu hal yang dirasanya baik. Rizki yang baik, Jodoh yang baik, dan Jabatan yang baik. Pernahkah kita berpikir apa yang kita dapatkan saat ini adalah jasa dari orang yang membantu kita dengan tulus baik langsung maupun tidak langsung.

Jasa ini bisa berupa bantuan, saran, motivasi, dukungan, bahkan ada juga yang berupa cacian, makian, ejekan bahkan kekecewaan. Manusia adalah pembelajar jika ia ingin terus bergerak maju. Mulai agak mudeng????? Ok kita lanjut.

Pernahkah kita merenung apa yang kita capai hari ini adalah andil dari orang lain walaupun ia tidak berperan langsung. Misalnya orang yang mendapatkan Istri yang Sholihah bersyukur karena ia pernah kecewa di tolak oleh wanita yang dicintainya. Andaikan waktu itu ia diterima ia tak kan pernah mendapatkan wanita sesholehah istri yang ia dapatkan saat ini. Begitupun dalam kasus yang lainnya. Saya tidak mungkin ada di Jogja jika bukan karena Jasa Atasan saya juga dukungan kawan-kawan dan penolakan wanita yang ingin saya nikahi. Bagi saya semua akan menjadi berkah jika kita ikhlas.

Ust. Yusuf Mansyur pernah bercerita. Ia bertemu seorang penjual bubur yang ikut sholat berjamaah dengan tato ditangannya. Ust Yusuf bertanya :” maaf ni bang, saya demen banget lihat abang sholat berjamaah di masjid. Kalau boleh tahu bang pengen tahu sejarah tu tato.” Lalu apa jawab dari si penjual bubur itu. “Saya dulu preman ustadz, Ni badan penuh tato, lalu sesuatu menimpa saya dan saya di tolong oleh Allah. Dan saya berterima kasih karena hidayah ini datang justru dari do’a-do’a muslimin dan muslimat yang tidak saya kenal. Saya bersyukur sekali”.
“Maksud ente do’a yang mane?”
“ Allahummghfir lilmuslimin wal muslimat, wal mukminin wal mu’minat”
Bukankah itu do’a yang sering kita baca. Dampaknya luar biasa. Dan Allah punya cara yang tidak biasa ketika memberikan jalan.

Apa jadinya kita saat ini tentunya bukan karena rencana-rencana dan dari tangan kita sendiri. Apa yang kita dapatkan saat ini karena apa yang kita alami dengan orang lain melalui tangan-tangan yang tak terlihat yaitu kekuasaan Allah yang tak pernah kita pikirkan. Maka berterima kasihlah kepada orang yang pernah menyakitimu dan mengecewakanmu. Karena melalui itu Allah telah menyelamatkanmu. Dan yang tak pernah dilupakan adalah kebaikan-kebaikan orang lain yang telah berperan membawamu menuju kondisi saat ini.

SO… BERSYUKUR TIADA HENTI……
Sabar membuatmu Bersyukur. Syukur membuatmu Bersabar!


Sigit Purwaka, S. Pd.I
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi PGMI Konsentrasi PAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar