Sabtu, 21 Maret 2015

KOK MIRIP FILM




Seorang anak laki-laki yang ditinggal ibunya ketika ia masuk usia baligh. Banyak hal baru yang ia pelajari. Si anak tidak pernah tidur sendiri selama ini. Selalu ada ibunya disampingnya. Selepas ibunya menghadap Rabb pemilik jiwa si anak pun tidak tidur sendiri ia tidur berdua bersama ayahnya. Ganjil rasanya. Si anak yang tidak pernah mencuci akhirnya mencuci. Si anak yang tak pernah memasak akhirnya belajar masak.

Suatu hari di sekolah, teman-temannya menggalang dana duka untuknya. Uang yang dikumpulkan dari pelayat pun juga ada. Sekitar 2 juta lebih. Uang itu terasa berharga di tahun 2001. Ayahnya berkata pada si anak. “Nak, kita serahkan semua uang itu untuk masjid atas nama ibumu agar menjadi amal jariyah buat ibumu.” Si Anak ikhlas melepaskan. Namun sesungguhnya si anak mendapatkan sesuatu yang lebih berharga yaitu doa dari orang-orang sekitarnya.

Jauh di masa depan ketika si anak berusia 22 tahun. Ketika ia berbuat dosa lalu bertaubat dengan sholat taubat selama 40 hari. Ia menonton film dalam mihrab cinta dan sebuah adegan yang mirip terjadi. Ketika waktu dzuhur ia ke masjid untuk sholat berjama’ah. Ternyata imam masjidnya sedang keluar. Entah mengapa hari itu ia salah kostum. Ia memakai sarung, baju koko, dan kopiah. Ia pun di dorong menjadi imam. Kata-kata dalam hatinya “Ya rabb, sholat hamba mungkin tidak Engkau terima jika Engkau belum mengampuni hamba, Tapi terimalah sholat orang-orang dibelakang hamba.” Tak lama berselang hari, ia diminta ceramah. Makin malu ia. Ia teringat kata-kata Aa’ Gym “kita baik bukan karena kita memang baik, tetapi karena Allah menutupi aib kita.”

Ketika di usia 25 tahun. Ketika orang yang ia cintai akan menikah dengan orang lain. Bahkan menurut kabar orang lain sudah menikah sirri. Wanita itu masih saja menemuinya. Ia mengatakan “dek, pernikahan bukan tentang dua hati tetapi tentang dua keluarga. Jangan jadikan saya sebagai perusak hubungan orang lain. Ikuti apa kata orang tuamu. Terimalah, Insya Allah lelaki itu yang terbaik buatmu.” Beberapa bulan kemudian dialog yang sama juga muncul di film Ketika Tuhan Jatuh Cinta yang dibintangi reza Rahardian. “Neng, ikuti kata abah ya, semoga pilihan abah ialah yang terbaik buat neng. Akang doakan agar neng bahagia.”

Di usia memasuki 26 tahun. Ia menonton film tenggelamnya kapan van der wijk. Ia melihat sosok zainudin dalam film itu sedikit mirip dengannya. Zainudin dilahirkan dan dibesarkan di Makassar. Di Makassar ia dibilang orang padang namun saat ia pergi kekampung halaman ayahnya di Padang ia dibilang orang Makassar. Mirip dengan si Anak yang kini sudah dewasa. Ayahnya berdarah sunda kelahiran kebumen, ibunya berdarah jawa kelahiran Pontianak. Apalagi si anak. Ia kelahiran Jayapura. Asal usul sukunya tidak jelas, tradisinya pun tidak jelas. Galau yang ia hadapi pun sama. Ia pernah mutung bahkan tidak bisa membuat tugas makalah ketika ia ditinggal menikah oleh orang yang dicintainya. Namun sahabatnya memberikan kalimat motivasi yang luar biasa. Seperti kata-kata di film. “Kamu galau begini sedangkan dia sedang menikmati malam pertama. Move on. Kamu buktikan pada dia bahwa kamu bisa menjadi orang hebat, orang yang ada di atas sedangkan ia nanti hanya memandangmu dengan menengadahkan kepala.”

He Lies



Daddy is my sweetest daddy in the world
Daddy is the most handsome
The smartest, the most clever,
The kindness
He drops me off at school
And even buys me ice cream
He teach me math
He is my superman
Daddy want to me do well at school
Daddy is just great but he lies
He lies about having a job
He lies about having money
He lies that he is not tired
He lies that he is not hungry
He lies that we have anything
He lies about his happiness
He lies because of me


BANGGA


Bangga itu fitrah. Kok bisa. Kalau di KBBI offline bangga itu artinya besar hati, merasa gagah, merasa senang (atas prestasi). Arti lainnya juga memuji-muji. Jika membanggakan diri sendiri berarti memuji-muji diri sendiri. Jangan-jangan ada korelasinya dengan percaya diri ya. Sejak kecil kita sudah memiliki rasa bangga yang diawali dengan rasa cinta. Cinta kepada ayah bunda membuat kita bangga jadi anaknya. 

Yang tidak boleh adalah menampakkan rasa membangga-banggakan diri seakan dirinya telah mencapai puncak. Sedangkan yang lain masih dibawahnya. Batasannya jelas. Bangga itu berasal dari kata senang. Ia berada di titik tengah antara Bahagia dan Takabur. Bangga bisa memberikan kepercayaan diri namun kehilangan rasa bangga membuat kita kehilangan rasa bahagia. Bayangkan jika kita sudah gak bangga lagi jadi anak dari orang tua kita. Atau gak bangga lagi jadi suami dari istri kita. Bahaya tu.

Minggu, 14 September 2014

Ketika yang terjadi adalah Jiwa-jiwa Yang Tersandera

Pernahkah kita melihat seseorang yang jahat berubah menjadi baik atau orang baik menjadi jahat. Yah. Lagi-lagi justifikasi. Banyak yang mengecap orang jahat akan selamanya jahat dan yang baik akan selamanya baik. Secara tidak langsung kita telah menutup kesempatan orang untuk berubah. Yang benar adalah tidak ada orang jahat yang permanen dan tidak ada orang baik yang permanen.

Bagi yang menyadari akan mengatakan tak ada manusia di dunia ini yang luput dari dosa dan kesalahan. Tak ada manusia di dunia ini yang pernah bebas dari pernah menzholimi orang lain. Kita tak pernah tahu hati siapa yang pernah kita sakiti. Permasalahannya dimana jiwa kita? Apakah jiwa kita ini kita bawa dalam proses perbaikan diri ataukah menjadi jiwa-jiwa yang terpenjara dalam keburukaan sebelumnya dan tak pernah move on dalam kebaikan.

Sama dengan saya, saya pun bukan makhluk sempurna. Tulisan ini sama sekali tidak berniat mengajari hanya sebagai sebuah refleksi dari apa yang saya lihat dan rasakan selama ini. Jiwa-jiwa terpenjara itu nampak ketika ia tidak semakin memperbaiki diri. Justru merasa kotor dan tak akan pernah bersih. Lalu tugas siapa untuk menolong mereka yang jiwa-jiwanya terpenjara menjadi jiwa yang bebas dan kembali pada kefitrahan.

Pernahkah kita memikirkan perasaan seorang pendosa besar ketika ia ingin berubah namun sulit rasanya. Apalagi jika ia masih bujangan. Setiap orang menginginkan jodoh yang baik walaupun ia sadar bahwa dirinya belum baik. Yang dirasakannya adalah kegundahan seakan kehilangan kepantasan pada dirinya. Kegundahan yang sama yang kadang menggoda seorang hamba untuk memenjarakan jiwanya dalam kurungan syaitan. Berat…

Siapa bilang taubat itu mudah? Sesudah taubat maka urusan beres. Ternyata belum. Bahkan tak ada seorang pendosa pun yang bertaubat yang tahu apakah taubatnya diterima oleh Allah atau tidak. Harapan dan harapan terus di sampaiakan dalam setiap doanya. Yang sudah bertaubat saja masih galau lalu bagaimana yang tidak bertaubat?

Ya, Benar. Taubat itu harus diikuti dengan perbaikan diri. Perbaikan diri inilah yang sulit. Ya, karena lingkungan masih ada yang membicarakan keburukannya yang bisa saja membuat jiwanya kembali terpenjara. Disinilah ujian taubat sebenarnya. Jika ia bisa senantiasa memperbaiki diri. Proses panjang itu sendiri yang akan merubah imejnya sehingga menutupi masa kelamnya dulu.

Ujian kedua pun tiba. Namun saya sulit menuliskan sebuah kesimpulan sehingga membuka peluang kepada pembaca untuk menyampaikan pendapatnya yang Insya Allah membuka jiwa-jiwa yang terpenjara itu.


Jika ada mantan pendosa besar, ia mantan pemabuk, mantan pezina, mantan pembunuh lalu ia bertaubat dan memperbaiki dirinya selama bertahun-tahun. Apakah ia pantas mendapat pendamping hidup yang sholeh atau sholehah?  

Sabtu, 13 September 2014

KITA MENJADI SESUATU BUKAN KARENA DIRI KITA SENDIRI



Pernahkah kita melihat tahu isi. Sebuah makanan gorengan yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Enak rasanya. Pecinta gorengan pasti akrab dengan tahu isi. Bahkan tahu isi bisa juga dijadikan teman makan nasi ketika virus kanker (kantong kering) di tanggal tua menyerang dompet kita. Namun pernahkah kita berpikir siapa saja yang terlibat dalam proses terjadinya tahu isi???

Mari kita analisis:
Untuk mendapatkan tahu kita harus membelinya di pasar dari penjual tahu, penjual tahu mendapatkan tahu dari pabrik tahu yang pegawainya terdiri dari banyak orang, Tahu itu berasal dari kedelai yang dibeli dari penjual kedelai, Penjual kedelai mendapatkan kedelai petani kedelai, Petani kedelai butuh bibit, pupuk dan itu di dapat penjual dan seterusnya. Coba bayangkan untuk mendatangkan tahu berapa banyak keterlibatan orang lain. Itu baru tahu, belum taugenya, terigunya, minyak gorengnya. Bagi yang memahami hukum sebab akibat akan mudah mengerti hal ini.

Mungkin ada yang bertanya apaan sih hal beginian dipikirin. Bukan tentang tahu isi yang saya harapkan untuk kita pikirkan namun hal lain yang bisa saja merupakan analogi dari kasus yang sama.

Saat ini ada diantara kita yang telah mendapatkan sesuatu hal yang dirasanya baik. Rizki yang baik, Jodoh yang baik, dan Jabatan yang baik. Pernahkah kita berpikir apa yang kita dapatkan saat ini adalah jasa dari orang yang membantu kita dengan tulus baik langsung maupun tidak langsung.

Jasa ini bisa berupa bantuan, saran, motivasi, dukungan, bahkan ada juga yang berupa cacian, makian, ejekan bahkan kekecewaan. Manusia adalah pembelajar jika ia ingin terus bergerak maju. Mulai agak mudeng????? Ok kita lanjut.

Pernahkah kita merenung apa yang kita capai hari ini adalah andil dari orang lain walaupun ia tidak berperan langsung. Misalnya orang yang mendapatkan Istri yang Sholihah bersyukur karena ia pernah kecewa di tolak oleh wanita yang dicintainya. Andaikan waktu itu ia diterima ia tak kan pernah mendapatkan wanita sesholehah istri yang ia dapatkan saat ini. Begitupun dalam kasus yang lainnya. Saya tidak mungkin ada di Jogja jika bukan karena Jasa Atasan saya juga dukungan kawan-kawan dan penolakan wanita yang ingin saya nikahi. Bagi saya semua akan menjadi berkah jika kita ikhlas.

Ust. Yusuf Mansyur pernah bercerita. Ia bertemu seorang penjual bubur yang ikut sholat berjamaah dengan tato ditangannya. Ust Yusuf bertanya :” maaf ni bang, saya demen banget lihat abang sholat berjamaah di masjid. Kalau boleh tahu bang pengen tahu sejarah tu tato.” Lalu apa jawab dari si penjual bubur itu. “Saya dulu preman ustadz, Ni badan penuh tato, lalu sesuatu menimpa saya dan saya di tolong oleh Allah. Dan saya berterima kasih karena hidayah ini datang justru dari do’a-do’a muslimin dan muslimat yang tidak saya kenal. Saya bersyukur sekali”.
“Maksud ente do’a yang mane?”
“ Allahummghfir lilmuslimin wal muslimat, wal mukminin wal mu’minat”
Bukankah itu do’a yang sering kita baca. Dampaknya luar biasa. Dan Allah punya cara yang tidak biasa ketika memberikan jalan.

Apa jadinya kita saat ini tentunya bukan karena rencana-rencana dan dari tangan kita sendiri. Apa yang kita dapatkan saat ini karena apa yang kita alami dengan orang lain melalui tangan-tangan yang tak terlihat yaitu kekuasaan Allah yang tak pernah kita pikirkan. Maka berterima kasihlah kepada orang yang pernah menyakitimu dan mengecewakanmu. Karena melalui itu Allah telah menyelamatkanmu. Dan yang tak pernah dilupakan adalah kebaikan-kebaikan orang lain yang telah berperan membawamu menuju kondisi saat ini.

SO… BERSYUKUR TIADA HENTI……
Sabar membuatmu Bersyukur. Syukur membuatmu Bersabar!


Sigit Purwaka, S. Pd.I
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi PGMI Konsentrasi PAI

PENJARA SUCI ATAU ISTANA SUCI



Istilah ini bukan buatan saya dan bukan sebuah anekdot yang memiliki niat buruk namun sebuah untaian kata yang indah untuk menggambarkan tentang kesucian itu sendiri. Sebuah kata yang mencul dari ngobrol-ngobrol bersama guru saya yang lebih saya anggap seperti ibu saya sendiri. Ibu Sa’adah atau yang sering saya panggil ummy dan Bapak Asikin yang lebih dekat saya panggil abah. Tentang keponakannya yang sulit sekali di atur di masa SMPnya lalu disekolahkan ke sebuah Pesantren di Yogyakarta. Aku lupa pesantren apa namanya. Proses itu tidak mudah karena gejolak pertentangan itu selalu muncul dari dirinya ketika ia harus sekolah lebih setahun untuk masa penyesuaian. Namun kini perubahan besar itu terjadi. Ya kata penjara suci itu muncul darinya. Ia menjadi begitu… Subhanallah.

Mengapa penjara??? Kata penjara identik dengan buruk, kriminal, dan berbagai macam kehinaan di dalamnya. Tapi apakah kita lupa bahwa nabi Yusuf As pernah mengatakan bahwa “Saya lebih mencintai penjara”. Apakah kita lupa bahwa Imam Ahmad bin hambal, Imam Syafi’I, Ibnu Sina, Hamka, Sayyid Qutb, Syaikh Ahmad Yasin, Soekarno, Moh. Hatta, dan orang-orang besar melaui hidupnya dipenjara. Ternyata penjara tak seseram itu. Bahkan penjara sudah merubah imej menjadi lembaga pembinaan. Maka Narapidana tidak lagi disebut napi namun disebut warga binaan.

Secara fisik penjara membatasi ruang gerak dengan aturan-aturan. Kemiripan ini yang membuat identik antara penjara dan pesantren. Tentunya di pesantren juga kita mengalami hal yang sama. Aturan yang banyak, jadwal yang padat, waktu yang mengikat. Padahal semua itu berhubungan dengan persepsi atau cara pandang kita.

Namun pernahkah kita pikirkan bahwa putri-putri raja dalam dongeng itu dibatasi geraknya hanya di sekitar istananya saja. Hal ini membuatnya terjaga dari gangguan yang bisa saja mengancam kehormatan bahkan nyawanya. Bagi pengeran ia dibatasi tembok tinggi untuk fokus belajar berbagai ilmu agar ketika ia harus berhadapan dengan realita di luar tembok besar pikirannya mulai bekerja dan dapat bersikap bijaksana. Semua telah dipersiapkan dengan matang.

Dari sebuah analogi ini. Apakah kita merasa pesantren adalah penjara suci ataukah istana suci. Semua kembali pada cara pandang kita masing-masing. Aku bukanlah santri hanya seseorang yang mencoba untuk membaca realita yang terjadi disekitar dengan sudut pandang berbeda. Aku Lulusan SD sampai SMA Negeri di kota paling timur Indonesia. Kuliah di sebuah PTAIN di Kota yang sama. Tak pernah sekalipun masuk pesantren kecuali pesantren kilat. Di Kota Pelajar ini justru diamanahkan membina anak-anak di sebuah Islamic Boarding School. Saya hanya bisa mengatakan pada mereka. Kalian adalah calon pemimpin negeri ini sebagaimana Pangeran yang dididik dengan batasan sebagai latihan kedisiplinan dan bekal agama untuk menjadi generasi pengganti para pemimpin yang bobrok saat ini.

So,….. Cintai Istana ini.

Sigit Purwaka, S. pd.I
Tegalsari Jomblangan Banguntapan Bantul, 13 September 2014
Musyrif in Islamic Boarding School in SMAIT Abu Bakar Yogyakarta