Seorang anak
laki-laki yang ditinggal ibunya ketika ia masuk usia baligh. Banyak hal baru
yang ia pelajari. Si anak tidak pernah tidur sendiri selama ini. Selalu ada
ibunya disampingnya. Selepas ibunya menghadap Rabb pemilik jiwa si anak pun
tidak tidur sendiri ia tidur berdua bersama ayahnya. Ganjil rasanya. Si anak
yang tidak pernah mencuci akhirnya mencuci. Si anak yang tak pernah memasak
akhirnya belajar masak.
Suatu hari di
sekolah, teman-temannya menggalang dana duka untuknya. Uang yang dikumpulkan
dari pelayat pun juga ada. Sekitar 2 juta lebih. Uang itu terasa berharga di
tahun 2001. Ayahnya berkata pada si anak. “Nak, kita serahkan semua uang itu
untuk masjid atas nama ibumu agar menjadi amal jariyah buat ibumu.” Si Anak
ikhlas melepaskan. Namun sesungguhnya si anak mendapatkan sesuatu yang lebih
berharga yaitu doa dari orang-orang sekitarnya.
Jauh di masa
depan ketika si anak berusia 22 tahun. Ketika ia berbuat dosa lalu bertaubat
dengan sholat taubat selama 40 hari. Ia menonton film dalam mihrab cinta dan
sebuah adegan yang mirip terjadi. Ketika waktu dzuhur ia ke masjid untuk sholat
berjama’ah. Ternyata imam masjidnya sedang keluar. Entah mengapa hari itu ia
salah kostum. Ia memakai sarung, baju koko, dan kopiah. Ia pun di dorong
menjadi imam. Kata-kata dalam hatinya “Ya rabb, sholat hamba mungkin tidak
Engkau terima jika Engkau belum mengampuni hamba, Tapi terimalah sholat
orang-orang dibelakang hamba.” Tak lama berselang hari, ia diminta ceramah.
Makin malu ia. Ia teringat kata-kata Aa’ Gym “kita baik bukan karena kita
memang baik, tetapi karena Allah menutupi aib kita.”
Ketika di usia
25 tahun. Ketika orang yang ia cintai akan menikah dengan orang lain. Bahkan
menurut kabar orang lain sudah menikah sirri. Wanita itu masih saja menemuinya.
Ia mengatakan “dek, pernikahan bukan tentang dua hati tetapi tentang dua
keluarga. Jangan jadikan saya sebagai perusak hubungan orang lain. Ikuti apa
kata orang tuamu. Terimalah, Insya Allah lelaki itu yang terbaik buatmu.”
Beberapa bulan kemudian dialog yang sama juga muncul di film Ketika Tuhan Jatuh
Cinta yang dibintangi reza Rahardian. “Neng, ikuti kata abah ya, semoga pilihan
abah ialah yang terbaik buat neng. Akang doakan agar neng bahagia.”
Di usia
memasuki 26 tahun. Ia menonton film tenggelamnya kapan van der wijk. Ia melihat
sosok zainudin dalam film itu sedikit mirip dengannya. Zainudin dilahirkan dan
dibesarkan di Makassar. Di Makassar ia dibilang orang padang namun saat ia
pergi kekampung halaman ayahnya di Padang ia dibilang orang Makassar. Mirip
dengan si Anak yang kini sudah dewasa. Ayahnya berdarah sunda kelahiran
kebumen, ibunya berdarah jawa kelahiran Pontianak. Apalagi si anak. Ia
kelahiran Jayapura. Asal usul sukunya tidak jelas, tradisinya pun tidak jelas.
Galau yang ia hadapi pun sama. Ia pernah mutung bahkan tidak bisa membuat tugas
makalah ketika ia ditinggal menikah oleh orang yang dicintainya. Namun
sahabatnya memberikan kalimat motivasi yang luar biasa. Seperti kata-kata di
film. “Kamu galau begini sedangkan dia sedang menikmati malam pertama. Move on.
Kamu buktikan pada dia bahwa kamu bisa menjadi orang hebat, orang yang ada di
atas sedangkan ia nanti hanya memandangmu dengan menengadahkan kepala.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar