Senin, 21 Maret 2016

TAPI JANGAN SAYA







Sadar atau tidak sadar kita menjadi orang-orang seperti ini.
Mungkin kita pernah berdoa, Ya Allah semoga makin banyak orang yang mendapat hidayah. Mudahkanlah perjuangan dakwah saudara-saudara kami di sana.
Lalu ketika ada ajakan dakwah yang datang untuk ke sana jawabannya “jangan saya”.

Atau mungkin kita punya teman yang pernah memuji.
“sungguh beruntung orang yang akan menjadi istrimu/suamimu.”
Tapi lagi-lagi kalimat sambungannya “tapi jangan saya”.

Atau kita pernah berdoa berikanlah pemimpin yang adil, yang jujur. Namun ketika ada ajakan atau tawaran amanah untuk menjadi pemimpin lagi-lagi jawabannya :”jangan saya”.
Dan yang berdoa agar mendapat suami/istri yang mencintai dirinya apa adanya.
Namun ketika khitbah itu datang pun jawabnya “Jangan saya”.

Yang lebih Aku khawatirkan adalah ketika kita berdoa meminta Syurga.
Ketika kita akan dimasukkan dalam syurga kita masih berkata “Jangan Saya”



Saif Zulfikar Ali



Antara kepemilikan dan pengelolaan.

Ini cuma analisis pribadi.

Saya teringat mata pelajaran ekonomi kelas I SMA dahulu. Ibu guruku mengatakan “apakah kalian ingin menjadi pemilik Mall yang besar?” Kami menjawab “Iya”.
Ada yang tahu caranya? Tanya ibu guru lagi.
Kami menjawab “beli tokonya.”
“Mahal” jawab bu guru. “Kalian cukup membeli sahamnya. Sedikit demi sedikit. Misalnya kalian membeli saham 1% dari SAGA MALL. Maka kalian adalah pemilik 1% dari SAGA MALL. Tiap tahun pemilik saham mendapat Deviden. Ya bagi hasil keuntungan lah gitu.
Bayangkan jika kalian adalah pemilik 90% saham dari sebuah perusahaan.

Dalam dunia pendidikan pun demikian. Antara pemilik lembaga dan pengelola hariannya. Ketua sekaligus pemilik yayasan misalnya. Bayangkan jika kebijakan antara pemilik dan pengelola berbeda? Begitupun di perusahaan kebijakan pemegang saham jika berbeda dengan kebijakan pengelola tentunya akan membahayakan perusahaan.

Pertanyaannya seberapa pentingnya kepemilikan itu? Monggo bayangkan jika perusahaan di Indonesia seluruh modal di danai asing. Banyak investor asing. Jika dari 100% saham, 75%nya adalah investor asing? Siapa pengendali kebijakan? Jika rakyat Indonesia yang bertindak sebagai pengelola coba pikirkan kita memajukan perusahaan siapa yang diuntungkan?, namun jika kita bekerja dengan buruk, siapa yang di PHK?

Rang kaya dan orang pintar seharusnya punya satu visi. Mau tahu problemnya? Lulusan terbaik perguruan tinggi di Indonesia banyak yang memiliki penemuan-penemuan baru. Tapi apakah ada perusahaan yang tertarik untuk melakukan produksi masal? Lalu bagaimana jika yang berani memodali dan memproduksi justru dari asing, lalu apa daya kita kehilangan jati diri bangsa. Indonesia butuh orang-orang kaya yang peduli pada produk dalam negeri. Ada sebuh impian bahwa siatu saat Indonesia akan memiliki pabrik di luar negeri yang buruhnya adalah warga negara tersebut. Aku tak ingin Indonesia bagaikan negeri pengekspor pekerja jasa, jadi buruh di negeri lain.

Aku bukanlah pakar ekonomi, bahkan aku tak pandai berdagang. Aku hanya berbagi apa yang aku tahu sekedarnya. Dan ingat. Mereka mengatakan kami mengelola perusahaan. Hal yang sering terlupa bahwa mereka pun mengelola manusia. Dan dalam mengelola kumpulan manusia harus berprinsip pada asas-asas kemanusiaan.

Senin, 07 Maret 2016

BUKAN HABIBI AINUN



Pernah nonton Habibi Ainun?
Romantis ya?
Yuk kita analisis.
Apa yang dilakukan Habibi di Jerman? Kuliah sambil Kerja
Berapa Jarak Indonesia-Jerman? Hitung sendiri ya!
Justru lebih dekat Jogja-Jayapura kan.
Berapa ongkos PP Indonesia – Jerman ketimbang Jogja-Jayapura?
Itu sebabnya Pak Habibi sangat mencintai Bu Ainun.
Seorang wanita yang mau menyertai Suaimnya bertugas di tempat yang jauh. Apa yang dilakukan pak Habibi ketika lulus. Ia merasa ilmu yang ia peroleh harus bermanfaat buat negerinya, buat bangsanya. Itu sebabnya ia ingin pulang. Namun tahu apa yang dilakukan pak Habibi di Jerman, ia berkarya, mengembangkan teknologi di Jerman. Ilmuan-ilmuan Jerman mengakuinya.

Sepertinya Fase saya kini adalah fase mencari siapa sosok ainun bagi diri saya walaupun saya jauh sekali jika mau dibandingkan dengan pak Habibi.
Pak Habibi melamar ainun dalam kondisi sederhana apa adanya. Begitupun aku. Nothing back up from my parents. So……. Siapa ?

ANGKOT NGETEM



Saya memang baru 1 tahun lebih di Jawa. Tapi ini tentang pengalaman saya tentang angkot yang ngetem. Alasan klasiknya adalah ngejar setoran. Eit…. Sabar, biar enak perbandingannya saya cerita dulu kisah saya di jayapura.

Malam minggu bagi jomblo seperti saya tentu ngenes banget. Saya ngekos berlima. Ada 2 mahasiswa stain, 2 mahasiswa uncen dan 1 sopir angkot. Sulit dijelaskan bagaimana persaudaraan ini bisa bermula. Namun kita bahas tentang sopir angkot. Saya berani bersumpah naik angkot yang paling enak itu di Jayapura. Sumpah. Apalagi jika angkotnya masih baru, mulus dan wangi. Karena di Jayapura gak ada Taxi yang umumnya berupa mobil sedan, atau mobil mewah lainnya. Maka angkot dengan mobil merk Suzuki Carry ini biasa dipanggil Taxi. Yang keren adalah ketika angkot ini baru dibeli dari dealer, masih asli gak ada yang diganti kursinya, alias kursinya masih menghadap ke depan. 7 penumpang itu sudah cukup. Inilah transportasi favorit saya sejak SD sampai Kuliah.

Soal setoran, teman saya itu sebut saja Jabar (bukan nama sebenarnya), per hari harus menyetorkan 100.000 per hari kepada Bosnya. (Ini sebelum saya ke Jogja, gak tahu sekarang berapa). Jabar yang baik hati dan peduli, selalu membantu saya, kadang saya juga dengerin curhatnya, padahal dia lebih tua dari saya. Beberapa kali saat malam minggi saya nemani dia narik angkot, saya jadi kondektur sukarela. Tapi kalau ditraktir makan nasi telor ya, maulah saya. 7 orang, masing-masing bayar 3.000 berarti jika penuh, Jabar dapat 21.000. untuk setoran setidaknya dia harus 5 kali bolak-balik angkot dalam keadaan penuh. Belum termasuk bensin. Biasanya Jabar ngisi 50.000. selebihnya baru bisa ia nikmati sendiri. Jadi kalau Jabar butuh uang 200.000 maka ia harus dapat 350.000. Berarti berapa kali bolak-balik? Minimal 16 kali bolak balik. Syukur kalau penuh, seringnya malah gak penuh. Pernah juga saya mengalami berdua kami dorong mobil angkot malam-malam karena kehabisan bensin. Sumpah. Tapi hal yang enak ketika saya omongin ke Jabar. “Mas, rejekimu itu di jalan, mau gak mau cara kamu jemput rejeki ya dengan bergerak, jalan.” Alhamdulillah Jabar mau terus berjuang. Setidaknya saya dapat pengalaman berharga bersama dia.

Beda lagi dengan di semarang. Di daerah Sukun dimana biasanya Bis menurunkan penumpang, di situ saya mendapat pengalaman sopir yang ngetem. Diem, nunggu penumpang penuh baru jalan. Rasanya pengen deh nasehatin dengan kata-kata yang sama, tapi gak mungkin kan. Kenal aja kagak. Ngetemnya nyampe setengah jam. Gila. Kadang saya pengen ninggalin atau turun saja, tapi saya gak tega. Soalnya saya juga mengerti sulitnya supir angkot. Pernah ada ibu-ibu yang nyelutuk “mas jadi jalan gak”. Eh sopirnya malah marah. “Yo wes, kalau ra sabar mudun wae.” Spontan saya dan semua penumpang turun. Kosong, momplong. Saya agak berjalan agak jauh dan menyetop angkot yang lewat. Saya tanya “bapak gak ikut ngetem?” tahu apa jawabnya? Jawabannya “rejeki Allah yang ngatur, yang penting jalan terus, yakin di pinggir jalan pasti ada penumpang.” Ternyata Angkot di Semarang modelnya miring hadap-hadapan kalau full muat 14 orang. Gila…..! Penumpang kan juga butuh kenyamanan.

Kadang kita menjadi orang-orang yang khawatir. Seakan rejeki kita hanya di situ. Berbeda jika itu merupakan tanggung jawab. Misal Polisi di tugaskan kemana-mana. Ia harus menjalani, karena ada beban amanah di situ bukan sekedar megngais rejeki. Aku mungkin belum berjiwa wirausaha, tapi yang berjiwa wirausaha gak kan khawatir dimanapun ia berada. Siapa yang mau menemani saya ke Jayapura? Kebetulan saya ada tugas Negara di Jayapura.

Senin, 15 Februari 2016

UNTUKMU WAHAI CALON ISTRIKU

Aku terlahir dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Keluarga yang bervisi sederhana, anak yang sholeh. Ya aku adalah visi dari keluarga ini. Impian dari bapak dan mamaku. Mamaku yang selalu mendokan semua harapannya yang semuanya untukku. Agar aku jadi anak yang sholeh, anak yang pintar, anak yang pemberani, anak yang berpendidikan. Mulailah aku mengenyam pendidikan Agama dari TPA. TPA yang berdiri dengan menumpang rumah warga yang dimulai sejak tahun 1995 berbuah sebuah masjid di tahun 2001. Ya tahun dimana mamaku meninggal di masjid itu juga.

Mamaku mengajarkanku untuk hidup hemat, terkadang pelit. Ternyata aku baru tahu jika selama ini mamaku yang membiayai adik bungsunya kuliah di Jogja. Setelah mamaku meninggal, bapakku menikah lagi di tahun 2004. Iya semua kondisinya berubah. Mendadak saya punya adik.

Di tahun 2006 setelah saya lulus SMA saya pun meninggalkan rumah dan mencoba hidup mandiri. Alasannya, saya tidak diizinkan kuliah. Saya bersikeras ingin kuliah, dan saya pun diusir dari rumah. Sampai sekarang saya tidak pernah menginap di rumah itu lagi. Karena bapakku tak pernah memintaku untuk tinggal di rumah. Tahun 2007 rumah itu dijual. Bapakku, ibu tiriku dan adik tiriku mengontrak rumah.

Sebagian hasil penjualannya dibelikan motor, Motor itu yang aku jaga dan aku pakai agar tidak lenyap begitu saja. Saya pakai kuliah, ngojek, ngajar privat dan juga pernah dipakai untuk pacaran.

Saya bekerja menjadi cleaning service selama kuliah dengan gaji 300.000. Di tahun 2010 saya menjadi guru honorer dengan gaji 600.000 sebulan. Hingga akhirnya saya tinggalkan semuanya dan mengabdi di SDIT dengan gaji 1.100.000. Pendapatan yang fluktuatif.

Karena pernah berbeda pendapat dengan yayasan, saya pun mengundurkan diri dari SDIT dan bekerja sebagai tukang ojek. Hingga saya menjadi staf di STAIN. Saya pun ditugaskan untuk kuliah di Jogja mengambil S2.

Hidup saya berliku-liku dan pendapatan saya fluktuatif. Saya hanya punya keyakinan jika saya menjalani dengan ikhlas karena Allah, Allah pasti ngasih rejeki.
Saya tahu, masih banyak hal yang saya ingin ceritakan namun rasanya blog ini tak cukup.
Saya ingin membangun keluarga apalagi umur saya menjelang 27 tahun. Jika menunggu saya kaya, entah kapan saya akan menikah. Saya tahu di awal-awal pernikahan hidup kita akan sedikit sulit. Namun jika ini karena niat ibadah, Allah gak akan menyia-nyiakan hambanya.

Saya percaya, hidup saya selama ini hanya bergantung pada pertolongan Allah. Maukah engkau menikah denganku? Maukah kau berjuang bersamaku?Maukah kau membentuk keluarga yang diberkahi Allah bersamaku?
Aku mungkin tidak bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi Allah akan memberi kebahagiaan itu.

Sabtu, 30 Januari 2016

Tidak ada alasan

Ada hal aneh yang terjadi dalam diriku. Aku tidak punya alasan mengapa aku tertarik padamu. Bukan karena cantiknya dirimu, spesialnya dirimu, cerdasnya dirimu, berbakatnya dirimu, sholihahnya dirimu. Aku tak tahu. Sejak pertama melihatmu di Stadium General Pascasarjana 2014 yang lalu aku tertarik padamu. Diam-diam mencari tahu. Stalker. Selama bisa diakses tidak ada salahnya kan. Banyak ide kita yang berbeda.

Dahulu, cukup lama aku terjerembab di dunia hitam dan mengetahui seperti apa pola pembusukannya. Dan aku akui juga pernah salah. Namun bukankah orang baik bukanlah orang yang tak pernah salah. Namun orang yang mau memperbaiki kesalahan. Dan Subhanallah. Berkumpul dengan anak-anak yang berhati bersih membuat diriku terasa disiram. Maaf, pengalaman masa laluku membuatmu terkejut. Namun aku sudah memutuskan jalan ini. Jalan kebenaran. Standarnya ya Al-Qur'an dan Hadis. Perbanyak mempelajari siroh. Dan saya bersyukur disaat hampanya diri ini atas rasa kekotoran yang menempel pada diri ada kitab yang memberiku semangat untuk bangkit. Buku usang yang pernah kebanjiran dengan kertas coklatnya. Kitab Riyadhus Sholihin. Bab 1 Niat, Bab 2 Taubat, bab 3 Sabar. Saya memulai hidup yang baru.

Tempat yang baru, yang saya harapkan juga adalah cinta yang baru. Maaf aku tak pernah mengatakan aku mencintaimu. Karena bukan haknya. Bagaimana mungkin saya mengatakan cinta kepada orang yang bukan istri saya. Tidak romantis, tidak pengertian, tidak perhatian. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Cerewet, suka bercanda. Saya tidak bisa berpura-pura kalem, sok cool. Saya tahu dimana tempatnya saya harus nampak berwibawa. Saya pun tahu dimana saya bisa berbicara dengan serius, tegas, santun dan meyakinkan. Semua berasal dari hati. Semua masalah waktu. Biarkan Allah yang mempertemukan kita jika berjodoh. Jika memang tidak, yakinlah Allah tahu yang terbaik buat kita. Maaf, atas sikapku selama ini.

Apapun kata-katamu, jawaban dari hal-hal yang tidak aku pernah tanyakan aku hargai. Belum waktunya aku berbicara. Biarkan berjalan dengan apa adanya. Fokus pada kuliahmu, bisnismu, orang tuamu. Kita akan lihat seperti apa jalan yang Allah beri.

Selasa, 05 Januari 2016

Saya suka bercerita tetapi tidak pandai menulis cerita

Sejak kecil saya punya kebiasaan khusus bersama teman-teman. Untuk orang-orang di kalangan Papua atau daerah Indonesia timur pasti terbiasa dengan mop. Biasanya kami berkumpul lalu satu persatu kawan akan bercerita hal-hal yang lucu dan kami tertawa bersama. Saya pun juga suka bercerita mop. Bahkan sekarang kumpulan cerita-cerita mop itu sudah difilmkan oleh salah satu home production di Kota Merauke Papua.

Kita sering lihat Arie Kriting atau Abdur di acara stand up comedy. Ada statemen yang menarik dari Abdur yang mengutip kata Arie Kriting, “sebenarnya kita yang dari timur itu punya bakat untuk mengungkapkan hal-hal yang lucu namun tidak banyak yang bisa menjadi public speaker”. Artinya hanya sedikit yang berani tampil di public menjadi pembicara yang terstruktur. Karena stand up comedy sedikit berbeda dengan mop.
Bicara tentang bercerita, bakat anak-anak Indonesia timur ini bisa dikembangkan untuk menjadi pendongeng. Karena kemampuan dasarnya ada. Ini pula yang saya rasakan. Saya bukan orang yang pandai bercerita. Saya pun masih mencoba-coba. Kenangan saya ketika SD dan memiliki guru yang pandai bercerita membuat semua dongeng-dongeng itu masih melekat erat dalam benak saya. Bapak saya pun juga suka bercerita. Tapi jangan kira saya punya buku cerita. Saya suka baca buku yang ada gambarnya. Dan saya punya kebiasaan buruk, kalau lagi nonton rame-rame sama teman dan ternyata filmnya saya sudah nonton kadang saya bercerita alur ceritanya. Sering teman-teman bilang “E… Sigit ko diam! kalo ko su nonton ko diam saja. Tong mau nonton bukan mau dengar ko pu cerita.”

Bersyukurnya berarti ingatan saya akan cerita lumayan kuat. Saya mulai membaca buku cerita dari perpustakaan daerah. Buku yang menarik saya baca adalah kisah 4 imam mazhab, kisah sahabat, Ada juga komik Boy Action, Kungfu Boy, dan Doraemon. Namun saya melihat perkembangannya kini sedikit guru yang melupakan pentingnya bercerita. Padahal jika guru bisa bercerita dan itu tertanam dalam benak siswa itu akan lebih kuat ketimbang pengaruh televisi. Saya tertarik ketika menonton Kak Bimo di TVRI sedang mendongeng. Saya pun mulai semangat untuk bercerita. Saya pun mengajar di SDIT Qurrota A’yun Abepura. Dan kesukaan saya adalah duduk melingkar bersama anak-anak dan mulai bercerita. Saya agak gak terima jika disebut mendongeng. Karena rata-rata yang saya ceritakan adalah kisah para Nabi dan orang-orang sholih.

Namun aktivitas saya di SDIT Qurrota A’yun tidak lama. Saya lama tidak bercerita lagi. Tapi Ust. Sunardi membagi pengalamannya tentang dirinya yang selalu bercerita sebelum anaknya tidur. Bersyukur saya sampai di Yogyakarta. Pernah sekali melihat bagaimana Kak Bimo mendongeng. Walaupun belum sempat beli bukunya kak Bimo. Tapi saya ingin bisa membawa ilmu ini ke Jayapura. Saya pun kini mengajar di SDIT Khoiru Ummah Sleman. Kemarin, 4 Desember 2015 untuk pertama kalinya saya bercerita di depan 95 siswa-siswi. Alhamdulillah mereka antusias dan senang sekali. Dan mulai semester ini juga saya memulai mengajar PAI. Semoga barokah.

Satu kelemahan saya yang perlu saya akui. Saya tidak pandai menulis cerita tapi saya berharap bisa berdakwah dengan bercerita. Dan kini mulai banyak membaca buku lagi. Ingin rasanya konsep Siroh Nabawiyah bisa menjadi hal menarik ketika diceritakan pada anak-anak.