Selasa, 03 November 2015
Minggu, 04 Oktober 2015
SHOLAT DI DALAM BUS
Saya memahami
tentang rukhsoh sholat di perjalanan. Kalau dulu transportasi masih
menggunakan unta, maka sahabat Rasulullah SAW sholat di atas unta
selama dalam perjalanan. Di zaman saat ini ketika kita harus
menggunakan transportasi yang perjalanannya sudah terjadwal dan tidak
mungkin bagu kita untuk meminta berhenti dalam perjalanan maka
rukhsos tersebut digunakan. Dalam perjalanan dari Jayapura ke
Yogyakarta misalnya dengan menggunakan pesawat terbang saya harus
sholat dalam keadaan duduk di kursi saya. Saya pernah melakukan
sholat dzuhur dan ashar di pesawat sedangkan magrib dan Isya’nya
saya sholat di mushola bandara Soekarno-Hatta ketika pesawat sedang
transit.
Saya pun juga melakukan sholat ketika dalam perjalanan
Yogyakarta-bandung dengan kereta api. Hal tersebut saya lakukan untuk
menjaga-jaga jika saya sampai di Bandung kesorean hingga waktu Ashar
telah habis. Maka saat itu saya menjamak sholat dzuhur dan ashar di
waktu dzuhur. Saya sholat duduk di dalam kereta api. Anehnya dalam
satu gerbong hanya saya yang melakukan. Terkadang saya berpikir
apakah Cuma saya sendiri yang sholat. Namun pikiran tersebut hilang
ketika saya melakukan perjalanan dari Yogyakarta-Semarang dengan bis.
Saat itu bis berangkat pukul 14.15. ketika masuk Ashar maka saya
sholat sambil duduk di dalam bis. Ketika bis sampai di Magelang ada
penumpang yang naik dan duduk di sebelah saya. Dan ia pun sholat
dalam keadaan duduk pula. Ternyata saya tidak sendirian. Kadang
muncul keragu-raguan dalam diri saya ketika mengambil rukhsoh dan
melihat saya sendirian. Memang tabiat manusia butuh teman untuk
meyakinkan.
MERAIH KEKUASAAN BUKAN TUJUAN
Gak papa ya!
Lagi-lagi kita ngomongin politik. Tapi ngomong-ngomong di sekitar
kita untuk hal-hal kecil kita sudah berpolitik loh. Coba tanya deh
sama yang pernah pacaran, pasti punya siasat, trik-trik untuk dapetin
si-doi. Itu politik juga loh. Ada juga loh yang pakai trik-trik tapi
bukan buat pacaran tetapi buat melamar si dambaan hati untuk di
jadikan istri. Sama-sama pakai siasat, sama-sama pakai trik, tetapi
tujuannya sama atau beda? Ya bedalah yang pacaran jelas belum halal
ya dosa lah! Yang melamar, kalau jadi nikah kan berpahala ibadah tuh…
Sekalian saya
minta doanya sama para pembaca semoga saya dipertemukan oleh sosok
bidadari syurga, mar’atus sholihah, perhiasan yang paling indah
yang akan selalu mendampingiku dalam menjalankan amanah-amanah di
dunia ini. Kata wali “kamu adalah amanah untukku” iya kamu… eh…
bukan kamu itu loh di belakang kamu….eh… bukan…eh.. bisa jadi.
Waduh kok jadi
ngomongin jodoh, (maklum jomblo jatuh tempo). Lanjut deh kita bahas
tentang kekuasaan. Bro dan sist sekalian… kira-kira kalau kita
nunjuk ketua kelas, kita yakin dia pemimpin kita? Pejabat di atas
kita apa itu pemimpin kita? Coba deh pelajari kisah pemimpin-pemimpin
hebat seperti jendral Sudirman. Dia pemimpin tetapi bukan penguasa
kan. Kenapa demikian… Karena penguasa konotasinya negatif.
Ini alasan
mengapa Penguasa di konotasikan negatif: Apa yang ada dalam bayangan
kalian jika ada istilah :
- Penguasa pasar
- Penguasa terminal
- Penguasa blok M
Pasti
bayangannya bukan yang pakai dasi, stelan jas sama kopiah. Hayo
jujur…..
Buat yang
pernah nonton film preman pensiun pasti ngerti maksud saya. Konotasi
negatif ini memang sulit dihindari. Maka saya masih yakin adanya
partai Islam di negeri ini bukan untuk meraih kekuasaan. Mengapa??
Karena negeri ini pun juga gak punya kuasa apa-apa sama asing? Kok
bisa? Karena rakyatnya NPWP (nomor piro wani piro). Halo rakyat yang
pernah nerima uang sogokan. Demi Allah, uang sogokan itu pasti akan
ditanya sama Allah..
Tapi saya masih
percaya. Masih ada politikus yang memiliki tujuan yang mulia. Mungkin
di antara kita ada yang menjustis mereka kotor, gak peduli. Kita
tidak pernah tahu bisa jadi ada puluhan anak yatim yang ia biayai
pendidikannya, ia yang lebih banyak sedekahnya, bisa jadi dengan
pikiran yang rumit dia lebih sering tahujudnya dibanding kita. Kita
tak pernah tahu.
Kalau bukan
kekuasaan lalu apa yang dicari? Coba buka deh Surat Yusuf. Ada kisah
dimana Nabi Yusuf As yang merasa mampu menjadi bendahara Mesir maka
ia mengajukan diri. Pasti diantara kita ada yang bilang “Dia kan
nabi, pasti dapat petunjuk Allah.” Ora ngono yo!!!
Nabi Yusuf As
ketika di bawa ke Istana ia mendapat pendidikan dari orang-orang
istana, sehingga ia menjadi orang yang cerdas. Kalau gak cerdas
bagaimana mungkin ia bisa berkata “sesungguhnya penjara lebih aku
cintai.” Ada muatan politiknya loh itu. Agar nabi Yusuf terhindar
dari bujukan-bujukan para wanita Mesir. Kita belum tentu kuat.
Ada dua pilihan
bagi kita. Kita ingin menjadi generasi pengganti atau generasi yang
diganti? Apa siap kita menjadi orang-orang yang akan mengganti mereka
yang tidak amanah dengan tugas yang diberikan. Jangan ribut mencari
pemimpin yang ideal, mengapa tidak menjadikan diri sebagai pemimpin
yang akan menggantikan mereka yang tidak layak mengatur negara ini.
Tidak harus
menjadi pucuk pimpinan. Apapun posisi kita bagi Allah itu mulia
selama kita amanah dalam menjalankan tugas kita.
Masuk Sistem atau gak?
Memasuki sistem
pasti kita terpengaruh sistem. Ibarat sabun yang bersih masuk di
tengah kotoran maka tetap kotorlah ia. Menurut saya logika ini adalah
logika penghakiman (justifikasi) dari tampilan luar melalaikan
eksistensi. Mengapa demikian? Karena sabunnya sedikit kotorannya
banyak. Lalu mengapa kita tidak menjadi sabun yang besar untuk
membersihkan kotoran yang kecil? Karena bagaimanapun eksistensi sabun
adalah pembersih kotoran.
Logika
perjuangan di luar sistem. Bro….Kalau saya mau ikut-ikutan merubah
peraturan pertandingan karate maka saya harus masuk dalam organisasi
World Karate Federation dan syaratnya banyak. Minimal Sabuk Hitam Dan
V, Pernah Ujian Sabuk Hitam Internasional misalnya, Pernah menjadi
wasit Juri tingkat WKF Championship. Kalau gak masuk WKF saya mau
usul, mau teriak, tetap saja saya gak punya wewenang apa-apa.
Mempengaruhi
penguasa, Saya bingung kalau soal ini. Bukan itu masalahnya bro. Apa
kita kira bahwa presiden kita sekarang adalah penguasa Indonesia?
Belum tentu bro. Lagian, namanya juga penguasa sulit dipengaruhi
kecuali penguasa itu orang yang sevisi sejak awal (maksudnya kalau
ente juga terlibat). Abu Sufyan aja harus dibuat bangkrut dulu baru
bisa ngalah mau buka pintu Makkah sehingga terjadi peristiwa Fathul
Makkah. Cari deh dalam Sejarah ada tokoh Quraisy yang punya kekuasaan
terus sukarela mendukung dan merubah sistem. Apa ada? Raja Najashi
saja (yang kita yakini masuk Islam) tidak merubah sistem pemerintahan
di negerinya.
Ada satu lagi
logika cabut rumput sampai ke akar. Mas bro… Kalau rumputnya sudah
subur akarnya juga sudah besar dan dalam, butuh energi besar untuk
mencabut sampai ke akar. Kalau Cuma potong rumput memang tidak ada
gunanya. Mengapa tidak memakai cara menggali tanah pelan-pelan,
merusak akar-akarnya sedikit demi sedikit seperti apa yang mereka
lakukan dengan mendangkalkan aqidah kita. Tul Gak! Trus sekarang mau
ngapain, mau biarin rumputnya tumbuh subur, gak mau mikirin yang
kecil-kecil, Allah juga menghargai loh upaya kebaikan yang
kecil-kecil. Sesungguhnya di mata Allah tidak ada hal yang sepele.
baik itu sebuah kebaikan atau keburukan. (Baca lagi deh Surah
Az-Zalzalah)
Ayyuhal
muslimun. Kita saling membutuhkan sumbangsih antum semua. Yuk
Fastabiqul khoirot.
KATANYA DAKWAH, KENAPA HARUS PARTAI?
Ini hasil
perenungan saya saja. Tidak mengutip kata-kata siapapun. Jumlah
Partai Islam dengan jumlah ormas Islam banyakan mana? Yang lebih kuat
legalitas hukumnya Ormas atau Partai? Yang bisa langsung menyentuh
ranah kebijakan agar tidak terjadi kebijakan yang salah, Ormas atau
Partai? Orang dari ormas manapun bisa saja memilih 1 partai yang
sama. Tapi jarang ada orang yang dari partai yang berbeda memilih
Ormas yang sama. Kalau benar mungkin Cuma kebetulan, kalau salah
setidaknya saya tidak memfitnah.
Langganan:
Postingan (Atom)













