Sabtu, 21 Maret 2015

SIAPA PERMAISURI HATIKU



Mungkin ia bukan orang yang aku kenal sebelumnya. Mungkin ia orang yang tak pernah kulihat. Mungkin ia bukan orang yang sempurna. Mungkin juga ia bukan orang yang selalu kusebut namanya dalam doa. Mungkin ia juga bukan orang yang pernah aku cintai sebelumnya. Hanya sebuah keyakinan bahwa semua diniatkan sebagai ibadah.

Gila. Mungkin ada yang mengatakan bagaimana bisa menikah tanpa cinta. Jawabannya salah. Karena menikah di awal cinta bukan menikah setelah mencinta. Cinta yang baru direncanakan mulai ditanam disaat kalimat sakral itu selesai diucapkan. Maka cinta itu tumbuh dalam keberkahan Allah. Cinta yang tumbuh disirami oleh doa’-doa’ para sahabat dan kawan-kawan yang menghadiri momen bahagia itu.

Apakah mungkin cinta yang tumbuh dalam keberkahan Allah itu bisa mati? Manusia mungkin bisa mati tetapi cinta itu tak akan mati. Ingatkah kita pada Rasulullah SAW yang tetap mencintai Khadijah walaupun jasad Khadijah telah menyatu dengan tanah.

Jodoh itu sekufu. Maka aku bercermin diri. Siapa saya? Seberapa besar keyakinanku pada Allah? Sudah baikkah aku? Sudah istiqomahkah ibadahku? Sudah cukupkah ilmuku? Sudah cukupkah Ma’isyahku? Sudah beranikah aku menjadi saraf pusat dalam organ tubuh keluarga? Sudah siapkah aku bila dihisab di akhirat memikul sebuah amanah ditandai sebuah kalimat yang menggoncang arsy? Inilah jawaban yang harus kujawab sebelum aku melangkah mengambil fase kehidupan yang begitu luar biasa.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar