Mungkin ia
bukan orang yang aku kenal sebelumnya. Mungkin ia orang yang tak pernah
kulihat. Mungkin ia bukan orang yang sempurna. Mungkin juga ia bukan orang yang
selalu kusebut namanya dalam doa. Mungkin ia juga bukan orang yang pernah aku
cintai sebelumnya. Hanya sebuah keyakinan bahwa semua diniatkan sebagai ibadah.
Gila. Mungkin
ada yang mengatakan bagaimana bisa menikah tanpa cinta. Jawabannya salah.
Karena menikah di awal cinta bukan menikah setelah mencinta. Cinta yang baru
direncanakan mulai ditanam disaat kalimat sakral itu selesai diucapkan. Maka
cinta itu tumbuh dalam keberkahan Allah. Cinta yang tumbuh disirami oleh
doa’-doa’ para sahabat dan kawan-kawan yang menghadiri momen bahagia itu.
Apakah mungkin
cinta yang tumbuh dalam keberkahan Allah itu bisa mati? Manusia mungkin bisa
mati tetapi cinta itu tak akan mati. Ingatkah kita pada Rasulullah SAW yang
tetap mencintai Khadijah walaupun jasad Khadijah telah menyatu dengan tanah.
Jodoh itu
sekufu. Maka aku bercermin diri. Siapa saya? Seberapa besar keyakinanku pada
Allah? Sudah baikkah aku? Sudah istiqomahkah ibadahku? Sudah cukupkah ilmuku?
Sudah cukupkah Ma’isyahku? Sudah beranikah aku menjadi saraf pusat dalam organ
tubuh keluarga? Sudah siapkah aku bila dihisab di akhirat memikul sebuah amanah
ditandai sebuah kalimat yang menggoncang arsy? Inilah jawaban yang harus
kujawab sebelum aku melangkah mengambil fase kehidupan yang begitu luar biasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar