Sering kali bapakku mengirim sms padaku agar aku tidak terburu-buru
menikah. Bapakku menyuruhku belajar dari perjalanan pernikahan pertama bapak
dan mamaku.
Aku memulai perjalananku ke tempat dimana bapakku tumbuh sebagai
anak-anak dan remaja. Kota Bandung. Siapa bapakku dulu aku ketahui dari kerabat
yang ada di Bandung. Saya mencoba memahami karakter kerabat-kerabat saya yang
berdarah sunda ini. Hingga tahu sejarah bapak saya ke Bandung setelah wafatnya
Eyang Abah di Kebumen. Bapak saya tidak menyelesaikan pendidikannya di IKIP
Bandung. Bapak saya memilih merantau ke Jayapura. Pilihan yang jarang diambil
orang sunda. Kecuali yang baru-baru ini terjadi di Jayapura ekspansi orang
Sunda yang jualan batagor dan Siomay di Jayapura.
Kini aku sedang kuliah di tanah dimana mamaku dibesarkan. Kota yang
berbudaya. Istimewa karena gubernurnya adalah raja. Yogyakarta. Aku buka
lembaran demi lembaran album foto tua untuk melihat masa kecil mama saya. Mama
yang luar biasa bertanggung jawab sebagai kakak. Mamaku anak pertama. Ia
memutuskan untuk berhenti dari kuliahnya di APMD dan merantau ke Jayapura.
Mamaku diterima PNS duluan. Waktu bapakku wawancara penerimaan PNS
yang menjadi panitia di ruang wawancara itu adalah mamaku. Setelah menjadi PNS
bapakku nembak mamaku dan diterima. Bapakku berani ngapel ke rumah om dari
mamaku. Hingga suatu saat om melihat bapakku mengimami sholat ibuku. Seusai
sholat om (aku manggilnya Mbah zein) meminta bapakku untuk menikah dengan
mamaku.
Dengan mahar seperangkat alat sholat tanpa cincin emas dan hanya
dilakukan di KUA tanpa pelaminan apalagi resepsi. Sah juga pernikahan yang
sederhana ini. Setelah menikah bapakku sangat rajin bekerja. Mengontrak rumah
kecil di bantaran kali klofkamp keluarga kecil ini mulai menjalani
kehidupannya.
Bapakku memiliki karir yang meningkat, banyak teman. Pernah menjadi
kasubag. Ada motivator dibelakangnya. Ialah mamaku. Mamaku ialah ibu rumah
tangga yang hebat, pegawai yang disiplin, entrepreneur yang dahsyat. Saat saya
dewasa saya baru paham bahwa mamaku punya gaji, bapakku punya gaji, kok masih
jualan gorengan. Ternyata untuk membiayai kuliah adiknya di Jogja.
Disiplinnya bapakku adalah atas motivasi dari mamaku. Apa yang saya
dapatkan saat ini atas motivasi dari mamaku. Mungkin kita menyangka kata-kata
motivasi itu seperti kata-kata penuh semangat seperti Mario Teguh. Cara mamaku
memotivasi adalah dengan menepoki (maaf bingung mencari kosakata penggantinya)
aku sebelum aku lelep tertidur sambil mengucapkan harapan-harapan. “Jadilah
anak sholeh le, jadilah Sarjana le, jadilah guru le, jadilah orang besar le.
Mama pengen melihatmu sukses dan menikah. Mama pengen disampingmu saat kamu
menikah le.”
Cara lain mamaku memberikan motivasiku adalah dengan
memperdengarkanku doa-doanya yang panjang sepanjang magrib sampai Isya yang
isinya untukku. “Ya Rabb, berilah kesehatan buat anak hamba, lindungi anak
hamba, jadikan anak hamba menjadi anak yang sholeh, yang pinter yang berbakti
pada orang tua. Jadikan anak hamba satu-satunya ini menjadi orang yang
bermanfaat bagi banyak orang. Jika hamba tidak selalu mendampinginya, berilah
petunjuk padanya jika ia salah dan bawalah ia kembali pada jalanMu.”
Wanita memang memiliki kemuliaan. Ia adalah sumber kekuatan dari
laki-laki. Ia adalah penyubur potensi sekaligus bisa membunuh potensi dari
seorang laki-laki. Wanita mencapai puncak kemuliaan itu ketika ia menjadi Ibu.
Ialah motivator dalam keluarga. Mungkin ia tidak pandai bicara, tak pandai
beretorika namun kata-katanya berasal dari hati.
.jpg)

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar