Sabtu, 21 Maret 2015

MOTIVATOR HEBAT ITU ADALAH WANITA



Sering kali bapakku mengirim sms padaku agar aku tidak terburu-buru menikah. Bapakku menyuruhku belajar dari perjalanan pernikahan pertama bapak dan mamaku.

Aku memulai perjalananku ke tempat dimana bapakku tumbuh sebagai anak-anak dan remaja. Kota Bandung. Siapa bapakku dulu aku ketahui dari kerabat yang ada di Bandung. Saya mencoba memahami karakter kerabat-kerabat saya yang berdarah sunda ini. Hingga tahu sejarah bapak saya ke Bandung setelah wafatnya Eyang Abah di Kebumen. Bapak saya tidak menyelesaikan pendidikannya di IKIP Bandung. Bapak saya memilih merantau ke Jayapura. Pilihan yang jarang diambil orang sunda. Kecuali yang baru-baru ini terjadi di Jayapura ekspansi orang Sunda yang jualan batagor dan Siomay di Jayapura.

Kini aku sedang kuliah di tanah dimana mamaku dibesarkan. Kota yang berbudaya. Istimewa karena gubernurnya adalah raja. Yogyakarta. Aku buka lembaran demi lembaran album foto tua untuk melihat masa kecil mama saya. Mama yang luar biasa bertanggung jawab sebagai kakak. Mamaku anak pertama. Ia memutuskan untuk berhenti dari kuliahnya di APMD dan merantau ke Jayapura.

Mamaku diterima PNS duluan. Waktu bapakku wawancara penerimaan PNS yang menjadi panitia di ruang wawancara itu adalah mamaku. Setelah menjadi PNS bapakku nembak mamaku dan diterima. Bapakku berani ngapel ke rumah om dari mamaku. Hingga suatu saat om melihat bapakku mengimami sholat ibuku. Seusai sholat om (aku manggilnya Mbah zein) meminta bapakku untuk menikah dengan mamaku.

Dengan mahar seperangkat alat sholat tanpa cincin emas dan hanya dilakukan di KUA tanpa pelaminan apalagi resepsi. Sah juga pernikahan yang sederhana ini. Setelah menikah bapakku sangat rajin bekerja. Mengontrak rumah kecil di bantaran kali klofkamp keluarga kecil ini mulai menjalani kehidupannya.

Bapakku memiliki karir yang meningkat, banyak teman. Pernah menjadi kasubag. Ada motivator dibelakangnya. Ialah mamaku. Mamaku ialah ibu rumah tangga yang hebat, pegawai yang disiplin, entrepreneur yang dahsyat. Saat saya dewasa saya baru paham bahwa mamaku punya gaji, bapakku punya gaji, kok masih jualan gorengan. Ternyata untuk membiayai kuliah adiknya di Jogja.

Disiplinnya bapakku adalah atas motivasi dari mamaku. Apa yang saya dapatkan saat ini atas motivasi dari mamaku. Mungkin kita menyangka kata-kata motivasi itu seperti kata-kata penuh semangat seperti Mario Teguh. Cara mamaku memotivasi adalah dengan menepoki (maaf bingung mencari kosakata penggantinya) aku sebelum aku lelep tertidur sambil mengucapkan harapan-harapan. “Jadilah anak sholeh le, jadilah Sarjana le, jadilah guru le, jadilah orang besar le. Mama pengen melihatmu sukses dan menikah. Mama pengen disampingmu saat kamu menikah le.”

Cara lain mamaku memberikan motivasiku adalah dengan memperdengarkanku doa-doanya yang panjang sepanjang magrib sampai Isya yang isinya untukku. “Ya Rabb, berilah kesehatan buat anak hamba, lindungi anak hamba, jadikan anak hamba menjadi anak yang sholeh, yang pinter yang berbakti pada orang tua. Jadikan anak hamba satu-satunya ini menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Jika hamba tidak selalu mendampinginya, berilah petunjuk padanya jika ia salah dan bawalah ia kembali pada jalanMu.”

Wanita memang memiliki kemuliaan. Ia adalah sumber kekuatan dari laki-laki. Ia adalah penyubur potensi sekaligus bisa membunuh potensi dari seorang laki-laki. Wanita mencapai puncak kemuliaan itu ketika ia menjadi Ibu. Ialah motivator dalam keluarga. Mungkin ia tidak pandai bicara, tak pandai beretorika namun kata-katanya berasal dari hati.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar