Aku terlahir dari keluarga sederhana. Sangat sederhana. Keluarga yang bervisi sederhana, anak yang sholeh. Ya aku adalah visi dari keluarga ini. Impian dari bapak dan mamaku. Mamaku yang selalu mendokan semua harapannya yang semuanya untukku. Agar aku jadi anak yang sholeh, anak yang pintar, anak yang pemberani, anak yang berpendidikan. Mulailah aku mengenyam pendidikan Agama dari TPA. TPA yang berdiri dengan menumpang rumah warga yang dimulai sejak tahun 1995 berbuah sebuah masjid di tahun 2001. Ya tahun dimana mamaku meninggal di masjid itu juga.
Mamaku mengajarkanku untuk hidup hemat, terkadang pelit. Ternyata aku baru tahu jika selama ini mamaku yang membiayai adik bungsunya kuliah di Jogja. Setelah mamaku meninggal, bapakku menikah lagi di tahun 2004. Iya semua kondisinya berubah. Mendadak saya punya adik.
Di tahun 2006 setelah saya lulus SMA saya pun meninggalkan rumah dan mencoba hidup mandiri. Alasannya, saya tidak diizinkan kuliah. Saya bersikeras ingin kuliah, dan saya pun diusir dari rumah. Sampai sekarang saya tidak pernah menginap di rumah itu lagi. Karena bapakku tak pernah memintaku untuk tinggal di rumah. Tahun 2007 rumah itu dijual. Bapakku, ibu tiriku dan adik tiriku mengontrak rumah.
Sebagian hasil penjualannya dibelikan motor, Motor itu yang aku jaga dan aku pakai agar tidak lenyap begitu saja. Saya pakai kuliah, ngojek, ngajar privat dan juga pernah dipakai untuk pacaran.
Saya bekerja menjadi cleaning service selama kuliah dengan gaji 300.000. Di tahun 2010 saya menjadi guru honorer dengan gaji 600.000 sebulan. Hingga akhirnya saya tinggalkan semuanya dan mengabdi di SDIT dengan gaji 1.100.000. Pendapatan yang fluktuatif.
Karena pernah berbeda pendapat dengan yayasan, saya pun mengundurkan diri dari SDIT dan bekerja sebagai tukang ojek. Hingga saya menjadi staf di STAIN. Saya pun ditugaskan untuk kuliah di Jogja mengambil S2.
Hidup saya berliku-liku dan pendapatan saya fluktuatif. Saya hanya punya keyakinan jika saya menjalani dengan ikhlas karena Allah, Allah pasti ngasih rejeki.
Saya tahu, masih banyak hal yang saya ingin ceritakan namun rasanya blog ini tak cukup.
Saya ingin membangun keluarga apalagi umur saya menjelang 27 tahun. Jika menunggu saya kaya, entah kapan saya akan menikah. Saya tahu di awal-awal pernikahan hidup kita akan sedikit sulit. Namun jika ini karena niat ibadah, Allah gak akan menyia-nyiakan hambanya.
Saya percaya, hidup saya selama ini hanya bergantung pada pertolongan Allah. Maukah engkau menikah denganku? Maukah kau berjuang bersamaku?Maukah kau membentuk keluarga yang diberkahi Allah bersamaku?
Aku mungkin tidak bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi Allah akan memberi kebahagiaan itu.
Senin, 15 Februari 2016
Sabtu, 30 Januari 2016
Tidak ada alasan
Ada hal aneh yang terjadi dalam diriku. Aku tidak punya alasan mengapa aku tertarik padamu. Bukan karena cantiknya dirimu, spesialnya dirimu, cerdasnya dirimu, berbakatnya dirimu, sholihahnya dirimu. Aku tak tahu. Sejak pertama melihatmu di Stadium General Pascasarjana 2014 yang lalu aku tertarik padamu. Diam-diam mencari tahu. Stalker. Selama bisa diakses tidak ada salahnya kan. Banyak ide kita yang berbeda.
Dahulu, cukup lama aku terjerembab di dunia hitam dan mengetahui seperti apa pola pembusukannya. Dan aku akui juga pernah salah. Namun bukankah orang baik bukanlah orang yang tak pernah salah. Namun orang yang mau memperbaiki kesalahan. Dan Subhanallah. Berkumpul dengan anak-anak yang berhati bersih membuat diriku terasa disiram. Maaf, pengalaman masa laluku membuatmu terkejut. Namun aku sudah memutuskan jalan ini. Jalan kebenaran. Standarnya ya Al-Qur'an dan Hadis. Perbanyak mempelajari siroh. Dan saya bersyukur disaat hampanya diri ini atas rasa kekotoran yang menempel pada diri ada kitab yang memberiku semangat untuk bangkit. Buku usang yang pernah kebanjiran dengan kertas coklatnya. Kitab Riyadhus Sholihin. Bab 1 Niat, Bab 2 Taubat, bab 3 Sabar. Saya memulai hidup yang baru.
Tempat yang baru, yang saya harapkan juga adalah cinta yang baru. Maaf aku tak pernah mengatakan aku mencintaimu. Karena bukan haknya. Bagaimana mungkin saya mengatakan cinta kepada orang yang bukan istri saya. Tidak romantis, tidak pengertian, tidak perhatian. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Cerewet, suka bercanda. Saya tidak bisa berpura-pura kalem, sok cool. Saya tahu dimana tempatnya saya harus nampak berwibawa. Saya pun tahu dimana saya bisa berbicara dengan serius, tegas, santun dan meyakinkan. Semua berasal dari hati. Semua masalah waktu. Biarkan Allah yang mempertemukan kita jika berjodoh. Jika memang tidak, yakinlah Allah tahu yang terbaik buat kita. Maaf, atas sikapku selama ini.
Apapun kata-katamu, jawaban dari hal-hal yang tidak aku pernah tanyakan aku hargai. Belum waktunya aku berbicara. Biarkan berjalan dengan apa adanya. Fokus pada kuliahmu, bisnismu, orang tuamu. Kita akan lihat seperti apa jalan yang Allah beri.
Dahulu, cukup lama aku terjerembab di dunia hitam dan mengetahui seperti apa pola pembusukannya. Dan aku akui juga pernah salah. Namun bukankah orang baik bukanlah orang yang tak pernah salah. Namun orang yang mau memperbaiki kesalahan. Dan Subhanallah. Berkumpul dengan anak-anak yang berhati bersih membuat diriku terasa disiram. Maaf, pengalaman masa laluku membuatmu terkejut. Namun aku sudah memutuskan jalan ini. Jalan kebenaran. Standarnya ya Al-Qur'an dan Hadis. Perbanyak mempelajari siroh. Dan saya bersyukur disaat hampanya diri ini atas rasa kekotoran yang menempel pada diri ada kitab yang memberiku semangat untuk bangkit. Buku usang yang pernah kebanjiran dengan kertas coklatnya. Kitab Riyadhus Sholihin. Bab 1 Niat, Bab 2 Taubat, bab 3 Sabar. Saya memulai hidup yang baru.
Tempat yang baru, yang saya harapkan juga adalah cinta yang baru. Maaf aku tak pernah mengatakan aku mencintaimu. Karena bukan haknya. Bagaimana mungkin saya mengatakan cinta kepada orang yang bukan istri saya. Tidak romantis, tidak pengertian, tidak perhatian. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Cerewet, suka bercanda. Saya tidak bisa berpura-pura kalem, sok cool. Saya tahu dimana tempatnya saya harus nampak berwibawa. Saya pun tahu dimana saya bisa berbicara dengan serius, tegas, santun dan meyakinkan. Semua berasal dari hati. Semua masalah waktu. Biarkan Allah yang mempertemukan kita jika berjodoh. Jika memang tidak, yakinlah Allah tahu yang terbaik buat kita. Maaf, atas sikapku selama ini.
Apapun kata-katamu, jawaban dari hal-hal yang tidak aku pernah tanyakan aku hargai. Belum waktunya aku berbicara. Biarkan berjalan dengan apa adanya. Fokus pada kuliahmu, bisnismu, orang tuamu. Kita akan lihat seperti apa jalan yang Allah beri.
Selasa, 05 Januari 2016
Saya suka bercerita tetapi tidak pandai menulis cerita
Sejak kecil
saya punya kebiasaan khusus bersama teman-teman. Untuk orang-orang di
kalangan Papua atau daerah Indonesia timur pasti terbiasa dengan mop.
Biasanya kami berkumpul lalu satu persatu kawan akan bercerita
hal-hal yang lucu dan kami tertawa bersama. Saya pun juga suka
bercerita mop. Bahkan sekarang kumpulan cerita-cerita mop itu sudah
difilmkan oleh salah satu home production di Kota Merauke Papua.
Kita sering
lihat Arie Kriting atau Abdur di acara stand up comedy. Ada statemen
yang menarik dari Abdur yang mengutip kata Arie Kriting, “sebenarnya
kita yang dari timur itu punya bakat untuk mengungkapkan hal-hal yang
lucu namun tidak banyak yang bisa menjadi public speaker”. Artinya
hanya sedikit yang berani tampil di public menjadi pembicara yang
terstruktur. Karena stand up comedy sedikit berbeda dengan mop.
Bicara tentang
bercerita, bakat anak-anak Indonesia timur ini bisa dikembangkan
untuk menjadi pendongeng. Karena kemampuan dasarnya ada. Ini pula
yang saya rasakan. Saya bukan orang yang pandai bercerita. Saya pun
masih mencoba-coba. Kenangan saya ketika SD dan memiliki guru yang
pandai bercerita membuat semua dongeng-dongeng itu masih melekat erat
dalam benak saya. Bapak saya pun juga suka bercerita. Tapi jangan
kira saya punya buku cerita. Saya suka baca buku yang ada gambarnya.
Dan saya punya kebiasaan buruk, kalau lagi nonton rame-rame sama
teman dan ternyata filmnya saya sudah nonton kadang saya bercerita
alur ceritanya. Sering teman-teman bilang “E… Sigit ko diam! kalo
ko su nonton ko diam saja. Tong mau nonton bukan mau dengar ko pu
cerita.”
Bersyukurnya
berarti ingatan saya akan cerita lumayan kuat. Saya mulai membaca
buku cerita dari perpustakaan daerah. Buku yang menarik saya baca
adalah kisah 4 imam mazhab, kisah sahabat, Ada juga komik Boy Action,
Kungfu Boy, dan Doraemon. Namun saya melihat perkembangannya kini
sedikit guru yang melupakan pentingnya bercerita. Padahal jika guru
bisa bercerita dan itu tertanam dalam benak siswa itu akan lebih kuat
ketimbang pengaruh televisi. Saya tertarik ketika menonton Kak Bimo
di TVRI sedang mendongeng. Saya pun mulai semangat untuk bercerita.
Saya pun mengajar di SDIT Qurrota A’yun Abepura. Dan kesukaan saya
adalah duduk melingkar bersama anak-anak dan mulai bercerita. Saya
agak gak terima jika disebut mendongeng. Karena rata-rata yang saya
ceritakan adalah kisah para Nabi dan orang-orang sholih.
Namun aktivitas
saya di SDIT Qurrota A’yun tidak lama. Saya lama tidak bercerita
lagi. Tapi Ust. Sunardi membagi pengalamannya tentang dirinya yang
selalu bercerita sebelum anaknya tidur. Bersyukur saya sampai di
Yogyakarta. Pernah sekali melihat bagaimana Kak Bimo mendongeng.
Walaupun belum sempat beli bukunya kak Bimo. Tapi saya ingin bisa
membawa ilmu ini ke Jayapura. Saya pun kini mengajar di SDIT Khoiru
Ummah Sleman. Kemarin, 4 Desember 2015 untuk pertama kalinya saya
bercerita di depan 95 siswa-siswi. Alhamdulillah mereka antusias dan
senang sekali. Dan mulai semester ini juga saya memulai mengajar PAI.
Semoga barokah.
Satu kelemahan
saya yang perlu saya akui. Saya tidak pandai menulis cerita tapi saya
berharap bisa berdakwah dengan bercerita. Dan kini mulai banyak
membaca buku lagi. Ingin rasanya konsep Siroh Nabawiyah bisa menjadi
hal menarik ketika diceritakan pada anak-anak.
Rabu, 30 Desember 2015
Bukan Cinta Yang Tak Sampai, Aku Hanya Belum Menemukan Belahan Jiwaku
Sering di bully di kelas. Ya
sejak aku menginjakkan kaki di Yogyakarta dan kuliah di prodi PGMI S2
Konsentrasi PAI. Kami sekelas ada 16 orang. Namun satu kawan kami
harus pulang kampung untuk menikah. Ternyata setelah menikah ia lulus
CPNS dan hamil. Maka iapun tidak melanjutkan kuliah. Sampai saya
menuliskan ini kami ber-15 orang sekelas dengan jumlah laki-laki
hanya tiga orang.
Hampir semua teman-teman
sudah punya pujaan hati kecuali saya yang diam-diam hanya menjadi
pemuja rahasia. Ia yang diam-diam kusukai pun sudah punya pujaan
hati. Ia pun mengenalkan aku dengan seorang mahasiswa S1. Saya
mengikuti sarannya. Saya pun berkenalan dengan mahasiswa S1 itu. Ia
baik, perhatian namun pada satu titik ia bosan. Saya mengutarakan
bahwa saya menginginkan istri yang bisa diajak tinggal bersama saya
di Jayapura. Namun rupanya ibunya yang menolak. Entah mengapa ia
bosan.
Ada beberapa kata yang saya
sangat sensitif mendengarnya. Saya benci dengan anda, saya kecewa
dengan anda, saya bosan dengan anda. Jika ada yang mengatakan hal
ini, saya akan menghilang dari hadapannya dan jangan harap saya akan
muncul lagi di depan anda. Saya lebih mentoleran kalimat, kamu kok
gitu, jangan gitu, coba kamu gini, seharusnya begini kerena jika ada
kata benci, kecewa, bosan maka itu saya anggap statement terakhir
anda.
Saya selama di Jogja belum
pernah mengatakan saya suka kamu, saya cinta kamu, saya ingin
melamarmu, semua itu masih tersimpan rapi dalam hati. Walaupun kadang
perilakuku tidak. Saya berharap bisa mengajaknya ke Jayapura. Saya
Cuma ingin memberitahu bahwa Jayapura pun lebih gemerlap daripada
Jogja. SDMnya yang perlu dibangun. Bahkan saya bingung. Jika saya
ditolak karena Jayapura itu jauh. Lalu bagaimana caranya dakwah ini
bisa sampai merata, atau pendidikan ini bisa sama majunya namun tidak
ada yang mau ke Indonesia Timur. Mau bilang gerakan Indonesia
mengajar atau gerakan apapun kalau Cuma temporer apa manfaatnya.
Katanya ingin madrasah tidak
dipandang sebelah mata tapi ketika ada peluang untuk berjuang.
Mungkin bukannya tidak ingin berjuang namun tidak ingin berjuang
bersama saya. Saya lebih senang jika ada yang terus terang bilang
maaf saya tidak mencintai kamu ketimbang maaf saya gak bisa diajak ke
Papua. Terlalu naif. Saya terlahir di Jayapura. Saya terbiasa dengan
sifat orang timur yang tidak basa-basi.
Saya tidak tahu. Sampai
kapan dibully sama teman-teman yang dah nikah duluan. Bersabar
menerima banyak penolakan. Ah…… Saya hanya berharap ada hikmah
nantinya. Bukan saya yang gagal. Saya hanya belum menemukan orang
yang sesuai. Saya hanya belum menemukan pasangan yang tepat. Apalagi
untuk orang yang semesterius saya.
Pernah nonton Take me Out?
Orang yang mematikan lampunya tidak bisa menyalakan lampunya lagi.
Awalnya saya berharap dia
mau bertanya-tanya tentang saya, tentang papua, tentang perkembangan
pendidikan Islam disana. Apakah saya akan sering pulang ke Jawa atau
tidak. Padahal saya juga punya rumah di Jogja. Bagi saya mudah untuk
bisa bolak-balik Jayapura-Jawa. Allah pasti ngasih jalan. Tapi
terlalu cepat keputusan yang diambil. “Aku gak bisa dibawa ke
Jayapura” Padahal aku belum ngomong. Gak papalah.
Terimakasih untuk yang sudah
menolak, Saya tidak akan mencintai kalian lagi sampai kapanpun.
Saya hanya menganggap kalian
teman sekedarnya.
Membentuk Keluarga Romantis ?
Bagi kita yang hoby atau
sejak kecil kita diajarkan tentang kisah cinta jaman kerajaan dahulu.
Kisah tentang putri raja yang dipersuting oleh pangeran gagah mungkin
mempengaruhi kepala kita. Namun semua cerita itu memiliki akhir yang
sama. Keduanya menikah dan hidup bahagia selamanya. Semua orang ingin
bahagia. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan atau kekasih yang
amat sangat dicintainya? Siapa yang tidak menghendaki hidup bahagia
selamanya?
Nyatanya. Kita bukan anak
raja, bukan pengeran, bukan putri kerajaan. Kisah-kisah romantis
mempengaruhi diri kita bahwa kita menginginkan kisah cinta kita
bagaikan kisah film-film kolosal atau mungkin serial Korea. Nyatanya
hampir semua orang menginginkan hidup bersama dengan orang yang
dicintainya. Bahkan ada yang setia sampai mati.
Nyatanya. Kita orang biasa
yang tidak hanya berpikir tentang cinta. Kita juga berpikir tentang
kehidupan. Kita berpikir tentang kebutuhan primer baik sandang,
pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Kita berpikir tentang biaya
listrik, air dan lain-lain. Ini tentang kehidupan. Kita pun juga
bekerja. Maka jika kita membayangkan menikah itu membuat hidup kita
seperti pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya maka kita
salah.
Saya belum menikah. Ada
beberapa alasan. Secara ekonomi saya bukan anak orang kaya dan saya
memulai kehidupan nyata selepas SMA. Mengumpulkan biaya kuliah
sendiri. Berorientasi studi. Namun saya tidak berbakat dagang. Ayah
saya selalu menasehati saya bahwa menikah itu berat. Saya memahaminya
ini pasti tentang ekonomi. Bro. ini tentang mindset. Ini rahasia
lelaki. Lelaki kaya namun punya istri yang banyak tuntutan tentunya
akan berpikir tidak cukup. Apalagi jika lelakinya tidak kaya. Anehnya
bapak saya bilang ingin punya menantu seorang guru atau dosen, tapi
jangan guru ngaji atau guru TK.
Masalahnya apa yang dicari?
Kemakmuran atau keberkahan. Saya jadi teringat kata-kata Ust. Salim A
Fillah. “Jawab dulu buat apa antum punya istri sebelum antum
berpikir untuk punya istri”. Apa yang dicari dari menikah? Apakah
hubungan yang halal sehingga mau ngapa-ngapain sudah sah, dapat
pahala. Atauakah menikah itu sesederhana saya cinta sama kamu, kamu
cinta sama aku, terus ayo menikah.
Atau mungkin ada yang
berpikir ingin merasakan tahajud berdua dengan istri, lalu istri
mencium tangan suami setiap hari atau hal-hal lain yang telah
dicontohkan Rasulullah SAW pada istrinya. Iya benar. Siapapun
menginginkan hal ini. Romantis dalam berkeluarga memberi kekuatan
tersendiri. Tapi itu bukan tujuan. Itu harus menjadi sesuatu yang
perlu dilakukan untuk menunjang tugas-tugas keluarga yang berat.
Jika ada yang berpikir
mengapa saya belum menikah karena saya gak laku, mungkin juga. Tapi
jujur, sebagai laki-laki yang dahulu pernah pengalaman sebagai lelaki
brengsek dan tahu bagaimana cara merayu wanita, jika urusan untuk
mencari wanita yang hanya bisa diajak romantis-romantisan itu mudah.
Namun tidak untuk berkeluarga. Yang dibutuhkan dalam keluarga adalah
kesamaan visi. Apakah keluarga menjadi kendaraan menuju syurga atau
jalan menuju neraka. Maka berkeluarga, menikah itu bukan tujuan.
Saya tahu memikul amanah
sebagai kepala keluarga bukanlah hal mudah. Itulah sebabnya kepala
keluarga butuh istri sebagai motivator. Bukan hanya sebagai motivator
dunia namun juga motivator akhirat.
Robbana Hablana Min Azwajina
Wa Zurriyatina Qurrota a’yunin waj’alna lil muttaqina imama
Jumat, 25 Desember 2015
Mencintai berbatas waktu
Apakah
mencintai berarti harus selalu bersama?
Entahlah….
Aku teringat
tentang Pak Edwin yang ditugaskan di Palembang, Bu Edwin di Nabire
dan anak-anaknya ada yang di Bogor, Jayapura. Ada juga Pak Andik yang
di Jayapura sedangkan istrinya di Kebumen. Kadang hatiku mengatakan
andai aku di Jayapura dan kamu di Kediri apakah itu sulit. Tapi apa
yang membuat pasangan yang lain bisa ikhlas berpisah jauh. Kesamaan
visi. Ust. Cahyadi bilang jangan menikah ketika dalam kondisi
mencintai karena logika sedang tidak bekerja. Menikah bukan tentang
cinta tapi kehidupan yang panjang. Visi….
Ust. Salim A
Fillah juga pernah bilang untuk apa lebih penting daripada punya apa.
Namun
pertanyaannya mengapa aku mencintaimu? Aku tidak menemukan
jawabannya.
Aku tahu, untuk
menikah dan untuk bersama adalah hal yang sangat sulit. Mengajakmu ke
Jayapura adalah hal yang mustahil. Mungkin kamu bilang dirimu banyak
kekurangan, kekurangan fisik, Ingin dicintai dengan tulus.
Menginginkan orang yang tak malu berjalan denganmu. Aku tahu aku pun
demikian.
Kita sadar ada
hal-hal yang membuat kita tak mungkin bisa bersama. Bagiku ini adalah
sepotong episode yang bahagia bagiku setelah lebih dari setahun aku
mengenalmu.
Setelah kita
UAS di semester 3 kita akan berpisah dengan kehidupan masing-masing.
Asyik dengan tesisnya masing-masing. Entah kapan aku bisa melihatmu
lagi. Ngajak ketemuan. Itu bukan aku. Aku sudah cukup bahagia bertemu
denganmu di kelas.
Aku menargetkan
untuk wisuda bulan Mei. Aku tahu kita tidak mungkin bersama. Semoga
suatu saat kau menemukan pangeran yang akan menjadikanmu bidadari
dilangit hatinya. Melahirkan putra dan putri yang sholih dan
sholihah.
Orang yang akan
menjadi suamimu adalah orang yang mendapatkan perhiasan terindah di
dunia. Sebagaimana orang tuamu telah mencantumkan doa dalam namamu.
Terima kasih
bersedia mendengar ceritaku, aib masa laluku, sempat nyaris
mencintaiku. Bagiku itu setitik semangat bahwa aku masih pantas untuk
dicintai.
5 Bulan lagi
aku di kota ini. Izinkan aku mencintaimu berbatas waktu.
Aku masih ingin
mencintaimu 5 bulan lagi. Selepas itu, ketika aku terbang ke Jayapura
cinta itu akan tertiup angin, hilang lepas hingga ku injakkan kaki di
bumi cenderawasih semua itu tinggal menjadi kenangan.
Sahabatku Kaim
Djali bilang :
Jika kamu
sedang memperbaiki diri maka jodohmu pun juga sedang melakukan hal
yang sama
Terima kasih untuk semuanya.
Kamis, 24 Desember 2015
Afwan ane lagi futur
Saya ini sedang futur
Terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekanan
Dengan alasan klasik, kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah
Saya ini sedang futur
Jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran
Dulu tilawah tidak pernah ketinggalan, sekarang satu lembar udeh lumayan
Tilawah sudah tidak berkesan, nonton film ketagihan
Saya ini sedang futur
Mulai malas shalat malam, jarang bertafakur
Ba’da shubuh, kanan kiri salam, lantas kembali mendengkur
Apalagi waktu libur, bisa sampai menjelang dzuhur
Saya ini sedang futur
Lihat perut semakin buncit karena junkfood dan pangsit
Kalo infaq mulai sedikit dan mulai pelit
Apalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah
Saya ini sedang futur
Tak lagi pandai bersyukur
Senang disanjung dikritik murung
Saya ini sedang futur
Malas ngurusin dakwah, rajin bikin ortu marah-marah
Sedikit sekali muhasabah, seringkali meng-ghibah
Ya....saya memang sedang fitur
Mengapa saya futur.....?
Mengapa tidak ada satupun ikhwah yang menegur dan menghibur?
Kenapa batas-batas mulai mengendur?
Kepura-puraan, basa-basi dan kekakuan subur?
Kenapa diantara kita sudah tidak jujur?
Kenapa ukhuwah diantara kita sudah mulai luntur?
Kenapa diantara kita hanya pandai bertutur?
Ya Allah...berikan hamba-Mu ini pelipur
Agar saya tidak semakin futur
Apalagi sampai tersungkur
Ente tau ane lagi futur
Sedikit dzikir, banyakan tidur, belajar ngawur, IP pun hancur
Sohib-sohib kagak ada yang negur
Ente tau ane lagi futur
Hati beku, otak ngelantur mikirin orang sedulur
Diri sendiri kagak pernah ngukur
Ente taulah ane sekarang
Seneng duduk di kursi goyang, perut kenyang hati melayang
Mulut sibuk ngomongin orang, aib sendiri kagak kebayang
Ente tau ane bengal
Bangun malam sering ditinggal
Otak bebal banyak mengkhayal
Udeh lupa yang namanya ajal
Ente tau ane begini
Udah sok tau, seneng dipuji
Ngomong sok suci kayak murobbbi
Kagak ngaca diri sendiri
Ente tau ane gegabah
Petantang-petenteng merasa gagah,
ngaku-ngaku ikhwah kalo mo muhasabah
diri ini gak ada beda dengan sampah
ente tau ane sekarang
udah kalah di medan perang
ane pengen pulang kandang
ke tempat ane dulu datang
....
....
Buat semua saudaraku...
Kunjungilah saudaramu, tengokah dia barang sebentar. Mungkin keimanannya sedang berada di ujung tanduk. Raihlah dia, rengkuhlah dia, ajaklah dia bersama melihat terbitnya fajar kebangkitan Islam. Ajaklah dia bersama menuju cintaNya, menuju surgaNya, menuju ampunanNya...
(Saya memulung sajak ini entah dari mana asalnya..., saya lupa..)
Terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekanan
Dengan alasan klasik, kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah
Saya ini sedang futur
Jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran
Dulu tilawah tidak pernah ketinggalan, sekarang satu lembar udeh lumayan
Tilawah sudah tidak berkesan, nonton film ketagihan
Saya ini sedang futur
Mulai malas shalat malam, jarang bertafakur
Ba’da shubuh, kanan kiri salam, lantas kembali mendengkur
Apalagi waktu libur, bisa sampai menjelang dzuhur
Saya ini sedang futur
Lihat perut semakin buncit karena junkfood dan pangsit
Kalo infaq mulai sedikit dan mulai pelit
Apalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah
Saya ini sedang futur
Tak lagi pandai bersyukur
Senang disanjung dikritik murung
Saya ini sedang futur
Malas ngurusin dakwah, rajin bikin ortu marah-marah
Sedikit sekali muhasabah, seringkali meng-ghibah
Ya....saya memang sedang fitur
Mengapa saya futur.....?
Mengapa tidak ada satupun ikhwah yang menegur dan menghibur?
Kenapa batas-batas mulai mengendur?
Kepura-puraan, basa-basi dan kekakuan subur?
Kenapa diantara kita sudah tidak jujur?
Kenapa ukhuwah diantara kita sudah mulai luntur?
Kenapa diantara kita hanya pandai bertutur?
Ya Allah...berikan hamba-Mu ini pelipur
Agar saya tidak semakin futur
Apalagi sampai tersungkur
Ente tau ane lagi futur
Sedikit dzikir, banyakan tidur, belajar ngawur, IP pun hancur
Sohib-sohib kagak ada yang negur
Ente tau ane lagi futur
Hati beku, otak ngelantur mikirin orang sedulur
Diri sendiri kagak pernah ngukur
Ente taulah ane sekarang
Seneng duduk di kursi goyang, perut kenyang hati melayang
Mulut sibuk ngomongin orang, aib sendiri kagak kebayang
Ente tau ane bengal
Bangun malam sering ditinggal
Otak bebal banyak mengkhayal
Udeh lupa yang namanya ajal
Ente tau ane begini
Udah sok tau, seneng dipuji
Ngomong sok suci kayak murobbbi
Kagak ngaca diri sendiri
Ente tau ane gegabah
Petantang-petenteng merasa gagah,
ngaku-ngaku ikhwah kalo mo muhasabah
diri ini gak ada beda dengan sampah
ente tau ane sekarang
udah kalah di medan perang
ane pengen pulang kandang
ke tempat ane dulu datang
....
....
Buat semua saudaraku...
Kunjungilah saudaramu, tengokah dia barang sebentar. Mungkin keimanannya sedang berada di ujung tanduk. Raihlah dia, rengkuhlah dia, ajaklah dia bersama melihat terbitnya fajar kebangkitan Islam. Ajaklah dia bersama menuju cintaNya, menuju surgaNya, menuju ampunanNya...
(Saya memulung sajak ini entah dari mana asalnya..., saya lupa..)
Langganan:
Postingan (Atom)