Selasa, 16 Juni 2015

MUNGKIN INI SHOLAT TERAKHIRKU

Di bulan Rajab ini ada sebuah momen sejarah yang selalu kita peringati tiap tahunnya. Momen itu ialah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah peristiwa besar bahkan menjadi anugerah dan penghibur hati Rasulullah SAW ketika dalam kedukaan yang teramat sangat karena dalam waktu yang berdekatan beliau kehilangan dua orang yang paling dicintainya yaitu Khadijah istrinya dan Abu Thalib pamannya. Dalam peristiwa Isra’dan Mi’raj itu kita menerima perintah Sholat wajib 5 waktu sehari semalam.
Sholat inilah yang menjadi tiang agama ini. Sholat inilah yang menjadi pembeda antara yang muslim dan bukan muslim. Sholat ialah rukun dalam berislam. Sholat ialah amalan yang pertama kali di hisab. Sholat ialah tanda kesyukuran atas segala nikmat yang Allah berikan. Maka biasanya dalam ceramah tentang Isra’ Mi’raj paling sering membahas tentang meningkatkan kualitas sholat. Banyak yang mencari kekhusyu’an namun ia tidak menemukan Allah maka carilah Allah maka kau akan temukan kekhusyu’an.
Adalah Khubain bin Adi seorang penduduk asli Madinah yang dipuji Allah dalam QS. Al Hasyr ayat 9.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”

Khubaib bin Adi pun juga termasuk dalam sahabat yang ikut dalam perang badar. Suatu hari beberapa orang dari Suku Khuzair menemui Rasulullah SAW untuk meminta agar ada diantara sahabat yang mau mengajari suku Huzair tentang Islam karena sudah mulai banyak yang memeluk Islam dari suku Huzair. Maka Rasulullah SAW mengutus 6 orang sahabat untuk menjadi da’i bagi suku Huzair. Dan Khubaib bin Adi termasuk dalam 6 orang da’i tersebut.
Berangkatlah mereka menuju perkampungan suku Huzair di dekat Kota Makkah bersama kafilah dagang dari suku ini. Namun di tengah perjalanan mereka diserang oleh sekelompok orang bersenjata dari suku Huzair. Khubaib bin Adi dan lima da’i lainnya tidak kuasa melawan dan akhirnya empat da’i ini syahid sedangkan Khubaib bin Adi dan Zaid bin Adusanah ditawan. Keduanya dibawa ke Makkah untuk di jual ke pasar budak. Sesampainya di Makkah, kedua sahabat mulia ini di siksa dengan siksa yang keras. Mereka berdua diserahkan kepada orang Quraisy yang dendam atas kekalahannya di perang badar. Zaid di eksekusi mati terlebih dahulu di hadapan Khubaib namun iman Khubaib tetap kokoh. Dalam masa penyiksaannya dan dalam tawanan Khubaib bin Adi di kurung dan tidak diberi makan. Namun di sinalah karomah Allah terjadi. Dalam tahanan Khubaib memakan buah anggur yang entah darimana datangnya. Padahal saat itu buah anggur adalah buah yang jarang ada di Makkah.
Dalam penyiksaan yang teramat sangat Khubaib bin Adi tetap menjaga keimanannya. Bahkan ketika ditanya oleh orang-orang Quraisy saat itu “Wahai Khubaib bagaimana jika Muhammad yang berada di posisimu untuk kami bunuh sedang engkau kami mulyakan?.” Maka Khubaib menjawab “Demi Allah saya tidak rela. Lebih baik saya yang mati.” Inilah keteguhan iman Khubaib bin Adi. Maka tibalah masa Khubaib bin Adi menerima eksekusi mati.
Khubaib bin Adi di seret hingga ke Tan’im di luar kota Makkah. Sebelum eksekusi mati Khubaib meminta diberi kesempatan untuk sholat dua roka’at. Tidak lama sholat yang dilakukan Khubaib. Ia berkata “kalau saja aku tidak dikira takut mati, maka akan aku panjangkan sholatku.” Ia juga berdoa “Ya Allah, aku telah menyampaikan pesan Rasul-Mu, sampaikanlah kepada rasul-Mu apa yang mereka lakukan kepadaku.” Maka inilah sholat terakhir Khubaib bin Adi. Sholat yang sangat khusyu. Do’a inilah yang menyebabkan Rasulullah mengetahui peristiwa yang dialami oleh Khubaib bin Adi karena sudah tidak ada orang lain yang akan menyampaikan kabar ini.
Maka inilah yang bukan merupakan syari’at namun menjadi hal yang ditiru oleh para terdakwa yang mendapatkan hukuman mati untuk mendapatkan kesempatan sholat terakhirnya sebelum mati. Lalu bagaimana dengan kita yang tidak kita ketahui kapan matinya. Akankah kita masih terus berpikir bahwa kita akan berumur panjang. Maka benarlah pesan Rasulullah SAW kepada kita semua “Sholli Sholatan Wadhi’” Sholatlah seakan ini sholat perpisahan atau sholat yang terakhir.
Sebuah konsep yang berasal dari peristiwa yang begitu menggugah tentang makna cinta dan iman. Maka jagalah diri kita dengan ibadah yang paling utama dan menyikapinya sebagai sholat yang terakhir maka sholat yang dilakukan pasti penuh kesungguhan. Maka perlu kita galakkan kembali dalam diri kita secara psikologi bahwa sholat ialah persembahan cinta kita kepada Allah dan Katakan dalam diri kita “mungkin ini sholat terakhir ku”. Insya Allah kekhusyu’an akan kita peroleh. Wallahu ‘alam.


*Penulis adalah Alumni STAIN Al-Fatah Jayapura Th. 2011

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar