Di bulan Rajab
ini ada sebuah momen sejarah yang selalu kita peringati tiap
tahunnya. Momen itu ialah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah
peristiwa besar bahkan menjadi anugerah dan penghibur hati Rasulullah
SAW ketika dalam kedukaan yang teramat sangat karena dalam waktu yang
berdekatan beliau kehilangan dua orang yang paling dicintainya yaitu
Khadijah istrinya dan Abu Thalib pamannya. Dalam peristiwa Isra’dan
Mi’raj itu kita menerima perintah Sholat wajib 5 waktu sehari
semalam.
Sholat inilah
yang menjadi tiang agama ini. Sholat inilah yang menjadi pembeda
antara yang muslim dan bukan muslim. Sholat ialah rukun dalam
berislam. Sholat ialah amalan yang pertama kali di hisab. Sholat
ialah tanda kesyukuran atas segala nikmat yang Allah berikan. Maka
biasanya dalam ceramah tentang Isra’ Mi’raj paling sering
membahas tentang meningkatkan kualitas sholat. Banyak yang mencari
kekhusyu’an namun ia tidak menemukan Allah maka carilah Allah maka
kau akan temukan kekhusyu’an.
Adalah Khubain
bin Adi seorang penduduk asli Madinah yang dipuji Allah dalam QS. Al
Hasyr ayat 9.
“Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman
(Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor)
'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan
mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap
apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri,
sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”
Khubaib bin
Adi pun juga termasuk dalam sahabat yang ikut dalam perang badar.
Suatu hari beberapa orang dari Suku Khuzair menemui Rasulullah SAW
untuk meminta agar ada diantara sahabat yang mau mengajari suku
Huzair tentang Islam karena sudah mulai banyak yang memeluk Islam
dari suku Huzair. Maka Rasulullah SAW mengutus 6 orang sahabat untuk
menjadi da’i bagi suku Huzair. Dan Khubaib bin Adi termasuk dalam 6
orang da’i tersebut.
Berangkatlah
mereka menuju perkampungan suku Huzair di dekat Kota Makkah bersama
kafilah dagang dari suku ini. Namun di tengah perjalanan mereka
diserang oleh sekelompok orang bersenjata dari suku Huzair. Khubaib
bin Adi dan lima da’i lainnya tidak kuasa melawan dan akhirnya
empat da’i ini syahid sedangkan Khubaib bin Adi dan Zaid bin
Adusanah ditawan. Keduanya dibawa ke Makkah untuk di jual ke pasar
budak. Sesampainya di Makkah, kedua sahabat mulia ini di siksa dengan
siksa yang keras. Mereka berdua diserahkan kepada orang Quraisy yang
dendam atas kekalahannya di perang badar. Zaid di eksekusi mati
terlebih dahulu di hadapan Khubaib namun iman Khubaib tetap kokoh.
Dalam masa penyiksaannya dan dalam tawanan Khubaib bin Adi di kurung
dan tidak diberi makan. Namun di sinalah karomah Allah terjadi. Dalam
tahanan Khubaib memakan buah anggur yang entah darimana datangnya.
Padahal saat itu buah anggur adalah buah yang jarang ada di Makkah.
Dalam
penyiksaan yang teramat sangat Khubaib bin Adi tetap menjaga
keimanannya. Bahkan ketika ditanya oleh orang-orang Quraisy saat itu
“Wahai Khubaib bagaimana jika Muhammad yang berada di posisimu
untuk kami bunuh sedang engkau kami mulyakan?.” Maka Khubaib
menjawab “Demi Allah saya tidak rela. Lebih baik saya yang mati.”
Inilah keteguhan iman Khubaib bin Adi. Maka tibalah masa Khubaib bin
Adi menerima eksekusi mati.
Khubaib bin Adi
di seret hingga ke Tan’im di luar kota Makkah. Sebelum eksekusi
mati Khubaib meminta diberi kesempatan untuk sholat dua roka’at.
Tidak lama sholat yang dilakukan Khubaib. Ia berkata “kalau saja
aku tidak dikira takut mati, maka akan aku panjangkan sholatku.” Ia
juga berdoa “Ya Allah, aku telah menyampaikan pesan Rasul-Mu,
sampaikanlah kepada rasul-Mu apa yang mereka lakukan kepadaku.”
Maka inilah sholat terakhir Khubaib bin Adi. Sholat yang sangat
khusyu. Do’a inilah yang menyebabkan Rasulullah mengetahui
peristiwa yang dialami oleh Khubaib bin Adi karena sudah tidak ada
orang lain yang akan menyampaikan kabar ini.
Maka inilah
yang bukan merupakan syari’at namun menjadi hal yang ditiru oleh
para terdakwa yang mendapatkan hukuman mati untuk mendapatkan
kesempatan sholat terakhirnya sebelum mati. Lalu bagaimana dengan
kita yang tidak kita ketahui kapan matinya. Akankah kita masih terus
berpikir bahwa kita akan berumur panjang. Maka benarlah pesan
Rasulullah SAW kepada kita semua “Sholli
Sholatan Wadhi’”
Sholatlah seakan ini sholat perpisahan atau sholat yang terakhir.
Sebuah konsep
yang berasal dari peristiwa yang begitu menggugah tentang makna cinta
dan iman. Maka jagalah diri kita dengan ibadah yang paling utama dan
menyikapinya sebagai sholat yang terakhir maka sholat yang dilakukan
pasti penuh kesungguhan. Maka perlu kita galakkan kembali dalam diri
kita secara psikologi bahwa sholat ialah persembahan cinta kita
kepada Allah dan Katakan dalam diri kita “mungkin
ini sholat terakhir ku”.
Insya Allah kekhusyu’an akan kita peroleh. Wallahu
‘alam.
*Penulis adalah Alumni STAIN
Al-Fatah Jayapura Th. 2011
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar