Selasa, 16 Juni 2015

Ikhwatifillah….. Antum adalah keberkahan bagiku

Saya memahami kisah pembunuh 99 orang yang ingin bertaubat sebagai jalan menuju taubat. Ketika rahib pertama mengatakan taubatnya tidak akan diterima ia malah membunih rahib tersebut hingga genaplah 100 orang yang telah ia bunuh. Namun hatinya gundah. Ia bertemu dengan seorang alim yang menunjukkan suatu tempat jika ia ingin berubah.

Saya memahaminya tentang hijrah. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota ini sholat pertama yang saya lakukan adalah subuh berjamaah di masjid. Suatu hal yang jarang saya lakukan di kota asal saya. Ketika orang banyak memahami berkah dengan bertambahnya harta, dipanjangkannya umur, diberi kesehatan, atau kesuksesan. Saya merasa menjadi dekat dengan teman-teman yang sholeh adalah satu keberkahan yang tak ternilai. Dahulu saya termasuk orang yang kurang amanah, sering melalaikan tugas, bahkan kawan-kawan saya tahu seperti apa saya.

Tiba di Yogyakarta saya tidak ingin kehilangan nikmat ukhwah itu dalam lingkaran kecil itu. Bermodal nomor Hp ketua KAMMI komsat UMY yang sampai sekarang belum pernah bertemu saya diberi nomor Hp ketua KAMMI Daerah Yogyakarta Kota. Ide gila. Padahal saya sudah lama meninggalkan KAMMI, bukan Pengurus harian, bukan pimpinan bahkan saya justru tidak amanah di situ. Satu hal yang saya kedepankan. Saya berkhusnuzhon kepada Allah bahwa saudara saya akan menerima saya.

Setelah ujian seleksi masuk Pascasarjana di masjid kampus aku melihat sesosok laki-laki memakai jaket KAMMI UIN. Saya dekati dan minta alamat atau nomor Hp anggota KAMMI UIN. Alhamdulillah saya diberi nomor seorang mahasiswa semester akhir di UIN yang juga anggota KAMMI. Besoknya saya di antar ke sekretariat komsat UIN di Gowok. Disana saya berkenalan dengan salah satu pengurusnya yaitu Akh Sulaiman. Ternyata dua orang yang menjadi penunjuk jalan saya ke komsat yaitu yang memakai jaket KAMMI di masjid dan yang mengantar saya ke sekretariat komsat sudah tidak aktif di KAMMI. Namun saya berdoa semoga Allah memberkahi mereka dengan limpahan kebaikan karena telah menjadi penunjuk jalan bagi saya.

Dari perkenalan singkat, dan meminta bantuan untuk dicarikan kost akhirnya ada kost-kostan di daerah gowok. Saya memilih untuk tinggal di Minggir. Suatu hari saya bertemu dengan ketua KAMMDA Jogja namanya Akh Fadli. Ia adalah anshor bagi saya. Saya dikenalkan dengan Ust. Dudi di SMAIT Abu Bakar. Saya pun menjadi musyrif di situ. Di SMAIT ini bercengkrama dengan sesama musyrif yang lebih muda namun banyak pengalaman bahkan hafalan Qur’annya jauh lebih banyak. Ya Rabb.. Inilah keberkahan yang engkau berikan. Jazakallah Akh Wahid, Akh Fadli, Akh Arief, Akh Ilman, Akh Utsman. Bersama Akh Wahid aku bersamanya mengikuti kajian pekanan. Memulai tarbiyah yang sempat terhenti. Antum adalah saudara-saudaraku yang tulus. Begitu menghargaiku, menghormatiku, padahal antum lebih segalanya dariku. Kesempatan yang luas, tidak pantaskah aku bersyukur memiliki antum semua.

Saat ini aku tidak di SMAIT lagi. Namun aku tidak ingin kehilangan antum. Aku tinggal di Asrama Daarul Hikmah. Aku butuh bi’ah yang sama. Menikmati perjalanan tarbiyah bersama mahasiswa UIN sungguh lapis-lapis keberkahan buatku. Mukhoyam, Fun Camp, mendaki bareng, rihlah. Subhanallah sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Akhi….. Ingatkan aku jika aku khilaf.. Aku takut khilafku membuatku tidak bersyukur atas nikmat ini. Nikmat dalam dekapan ukhwah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar