Saya memahami
kisah pembunuh 99 orang yang ingin bertaubat sebagai jalan menuju
taubat. Ketika rahib pertama mengatakan taubatnya tidak akan diterima
ia malah membunih rahib tersebut hingga genaplah 100 orang yang telah
ia bunuh. Namun hatinya gundah. Ia bertemu dengan seorang alim yang
menunjukkan suatu tempat jika ia ingin berubah.
Saya
memahaminya tentang hijrah. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki
di Kota ini sholat pertama yang saya lakukan adalah subuh berjamaah
di masjid. Suatu hal yang jarang saya lakukan di kota asal saya.
Ketika orang banyak memahami berkah dengan bertambahnya harta,
dipanjangkannya umur, diberi kesehatan, atau kesuksesan. Saya merasa
menjadi dekat dengan teman-teman yang sholeh adalah satu keberkahan
yang tak ternilai. Dahulu saya termasuk orang yang kurang amanah,
sering melalaikan tugas, bahkan kawan-kawan saya tahu seperti apa
saya.
Tiba di
Yogyakarta saya tidak ingin kehilangan nikmat ukhwah itu dalam
lingkaran kecil itu. Bermodal nomor Hp ketua KAMMI komsat UMY yang
sampai sekarang belum pernah bertemu saya diberi nomor Hp ketua KAMMI
Daerah Yogyakarta Kota. Ide gila. Padahal saya sudah lama
meninggalkan KAMMI, bukan Pengurus harian, bukan pimpinan bahkan saya
justru tidak amanah di situ. Satu hal yang saya kedepankan. Saya
berkhusnuzhon kepada Allah bahwa saudara saya akan menerima saya.
Setelah ujian
seleksi masuk Pascasarjana di masjid kampus aku melihat sesosok
laki-laki memakai jaket KAMMI UIN. Saya dekati dan minta alamat atau
nomor Hp anggota KAMMI UIN. Alhamdulillah saya diberi nomor seorang
mahasiswa semester akhir di UIN yang juga anggota KAMMI. Besoknya
saya di antar ke sekretariat komsat UIN di Gowok. Disana saya
berkenalan dengan salah satu pengurusnya yaitu Akh Sulaiman.
Ternyata dua orang yang menjadi penunjuk jalan saya ke komsat yaitu
yang memakai jaket KAMMI di masjid dan yang mengantar saya ke
sekretariat komsat sudah tidak aktif di KAMMI. Namun saya berdoa
semoga Allah memberkahi mereka dengan limpahan kebaikan karena telah
menjadi penunjuk jalan bagi saya.
Dari perkenalan
singkat, dan meminta bantuan untuk dicarikan kost akhirnya ada
kost-kostan di daerah gowok. Saya memilih untuk tinggal di Minggir.
Suatu hari saya bertemu dengan ketua KAMMDA Jogja namanya Akh Fadli.
Ia adalah anshor bagi saya. Saya dikenalkan dengan Ust. Dudi di SMAIT
Abu Bakar. Saya pun menjadi musyrif di situ. Di SMAIT ini
bercengkrama dengan sesama musyrif yang lebih muda namun banyak
pengalaman bahkan hafalan Qur’annya jauh lebih banyak. Ya Rabb..
Inilah keberkahan yang engkau berikan. Jazakallah Akh Wahid, Akh
Fadli, Akh Arief, Akh Ilman, Akh Utsman. Bersama Akh Wahid aku
bersamanya mengikuti kajian pekanan. Memulai tarbiyah yang sempat
terhenti. Antum adalah saudara-saudaraku yang tulus. Begitu
menghargaiku, menghormatiku, padahal antum lebih segalanya dariku.
Kesempatan yang luas, tidak pantaskah aku bersyukur memiliki antum
semua.
Saat ini aku
tidak di SMAIT lagi. Namun aku tidak ingin kehilangan antum. Aku
tinggal di Asrama Daarul Hikmah. Aku butuh bi’ah yang sama.
Menikmati perjalanan tarbiyah bersama mahasiswa UIN sungguh
lapis-lapis keberkahan buatku. Mukhoyam, Fun Camp, mendaki bareng,
rihlah. Subhanallah sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
Akhi…..
Ingatkan aku jika aku khilaf.. Aku takut khilafku membuatku tidak
bersyukur atas nikmat ini. Nikmat dalam dekapan ukhwah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar