Minggu, 30 Juli 2017

Zombie Style Generasi Muda Indonesia



Istilah zombie bukan hal yang baru namun sudah sangat di kenal. Banyak dari kita yang sudah pernah menonton film-film Hollywood tentang Zombie. Ada dua ciri-ciri zombie yang sangat mendasar yaitu berjalan tanpa gairah, tanpa arah dan ketika ada manusia hidup (makanan) mereka berebutan tak teratur. Entah disadari atau tidak generasi muda yang saat ini ada kehilangan semangat berkarya bahkan tanpa arah. Mereka yang ketika kecilnya bersemangat dan bangga atas cita-citanya ingin menjadi dokter, guru, presiden, pengusaha, dan lain-lain telah menghapus cita-citanya di SMA. Ketika ditanya kepada mereka yang melanjutkan studi dari SMP ke SMA misalnya alasan bukan lagi karena sekolah itu menunjang mereka mencapai cita-cita mereka tetapi lebih kepada terkenalnya sekolah, ada teman SMPnya di sekolah itu, atau alasan-alasan lainnya.
Tidak hanya di SMA bahkan di perguruan tinggi betapa banyak mahasiswa mengejar nilai namun ketika lulus hanya menjadi orang yang berbaris rapi meninggalkan masyarakatnya. Mengejar dan berebut pekerjaan bahkan sedikit yang menjadi solusi perbaikan di masyarakat. Jika kita tanyakan pada mahasiswa umumnya saat ini bagaimana pola belajarnya, klasiknya mengerjakan tugas sistem kebut semalam. Atau bahkan belajar hanya jika ada ujian saja. Demonstrasi tanpa mengajukan solusi. Efeknya setelah lulus menjadi lulusan tanpa arah hidup. Berdasarkan informasi Suara Pembaruan (27/3/2013) Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pencari kerja terbesar di Asia, yakni setiap tahun mencapai sekitar 30 juta pencari kerja (Jobseekers).  Jumlah angkatan kerja pun meningkat tiap tahunnya.
Setiap ada pameran bursa kerja (job fair) maka yang ramai adalah para pemuda yang berebut pekerjaan. Namun keluhan pun ada karena pekerja yang berkualitas sedikit jumlahnya sehingga tidak mengherankan permasalahan pengangguran masih menjadi masalah utama di negeri ini. Menjadi PNS seakan menjadi harapan yang menjanjikan masa depan. Jumlah pelamar CPNS sudah menembus 2.603.780 orang," menurut Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik (HKIP) KemenPAN-RB Herman Suryatman (Liputan6.com, 13/10/2014). Sedangkan lowongan yang tersedia hanya ada 100.000.
Tantangan semakin berat ketika generasi muda saat ini mengalami kendala komunikasi. Kehilangan teman di dunia nyata. Ditambah lagi berduyun-duyunnya warga Negara asing ke negeri ini seharusnya membangunkan diri kita untuk bangkit dan semangat dalam berkarya. Slogan kerja-kerja-kerja tidak cukup. Namun berkarya, bekerja dan bermanfaat lebih tepat bagi kita agar adanya kita bukanlah sekelompok zombie yang berebut makanan namun menjadi manusia yang paripurna dengan jiwa sosial yang tinggi.

Minggu, 16 Juli 2017

Aku memutuskan untuk mencintaimu

Betapa banyak kawan wanita di sekitar kita yang selalu kompak, solid, berjuang bersama dalam organisasi, komunitas, bisnis atau apapun itu tidak menjamin kenyamanan hidup bersama. Dalam organisasi kelak kita akan demisioner, dalam bisnis bisa saja pisah karena bangkrut. Tidak ada yang lebih lama dibanding sebuah komitmen pernikahan. Ada benarnya juga, jangan mengejek orang yang jomblo, karena kita tidak pernah tahu berapa lama dia berjuang, berapa kali dia gagal. Bayangin jika ada lelaki yang berkali-kali gagal mengajak wanita untuk mebikah lalu putus asa dan memilih menjadi gay, dosa siapa itu? Na'uzubillah.
Saya pernah nyaman dengan seseorang yang akhirnya mengikuti keinginan orangtuanya menikah dengan seniornya di pondok. Apalah daya saya hanya oramg awam bukan santri. Pernah juga nyaman dengan teman sekelas namun ditolak juga karena konsekuensi akan jauh dari ortunya. Saya pun pernah nyaman dengan kawan saya yang dari kota yang sama dengan saya. Saya melihat kegigihan berjuangnya saat kami mendaki gunung bersama. Ternyata pun bukan jaminan untuk mau berjuang hidup bersama seumur hidup.
Kali ini, ikhtiar lewat perantara orang yang lebih sholih dari saya. Saya dikenalkan dengan seorang wanita yang masya Allah shalihah. Malu saya. Kemarin saya pun menyampaikan niat saya pada orangtuanya dan Alhamdulillah. Duhai engkau. Yang aku tak pernah punya pengalaman berinteraksi intens denganmu. Tapi aku putuskan karena Allah. Aku mencintaimu.

Sabtu, 01 Juli 2017

Ketika aku tak sesuai keinginanmu

Dear calon istriku,

Terima kasih atas penilaianmu, saranmu. Aku meminta pada Allah seorang pendamping yang baik buat agamaku. Sungguh saya mungkin sama seperti lelaki pada umumnya. Rada ngasal. Seenaknya sendiri. Tapi sungguh. Saya tetap berusaha menjadi yang terbaik buatmu. Saya tahu saya tak sesholih yang kau kira, saya tak sedewasa yang kau kira, saya tak sehebat yang kau kira. Saya masih berproses untuk menjadi yang terbaik buatmu. Silahkan cerewetin saya, ngambekin saya, kesel sama saya. Tapi pliss, jangan pernah ada kata kecewa.

Ketika aku memilihmu, dalam benakku aku berkata kau yang terbaik untukku. Just it.

Kamis, 31 Maret 2016

HAL-HAL YANG MERAGUKAN



Cinta itu ada persentasenya. Gak mungkin kita bisa mencintai 100%. Sama seperti kita suka Sate dan Bakso gak mungkin kan sukanya 50% sate, 50% bakso. Nanti Nasi padangnya protes. Prioritas adalah kuncinya. Mengapa saya mencoba untuk menjaga agar tidak terlampau mencintai? Agar ketika saya mencintai namun ditolak gak menyebabkan saya sakit hati, putus asa, kecewa dan lan-lain. Jadi teringat kata saudara saya Akh Leswadi “jika kita berharapnya pada manusia, kita pasti kecewa. Karena tak ada manusia yang sempurna.”

Saya benar- benar ingin menikah. Namun ketika mengamati kemampuan financial saya, saya pun menjadi ragu. Saya hanyalah alumni yang ditugaskan untuk menimba ilmu di Jogja. Setelah lulus saya harus kembali ke Jayapura. Satu hal yang penting untuk diketahui. Saya tidak punya apa-apa di Jayapura. Ketika kembali saya harus memulai dari awal lagi. Mencari tempat tinggal, keperluan sehari-hari, motor. Untuk kost di Jayapura yang termurah Rp.800.000 per bulan. Motor bekas mungkin sekitar Rp. 6.000.000. Ongkos pulang ke Jayapura 2.500.000. Ongkos ngirim buku saya yang berkardus-kardus bisa sampai dua jutaan.

Saya tahu, kondisi saya saat ini sulit. Sulit sekali untuk menikah. Saya bukan orang yang berkecukupan. Tidak ada backup keluarga. Sulit bagi saya untuk menjelaskan kondisi orang tua saya. Saya pun juga punya kewajiban untuk membiayai sekolah adik saya. So… Saya jadi punya kekhawatiran. Saya tidak bisa membahagiakan istri. Saya takut nafkah yang saya berikan tidak mencukupi kebutuhan istri.

Jika ada wanita yang menolak karena laki-lakinya terlalu minder, gak papa. Saya memang apa adanya seperti ini. Saya mencari wanita yang bisa menjadi penyemangat saya, penentram hati saya, dan penguat saya dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Jika kita berjodoh, Allah pasti mempertemukan. Jika memang tidak berjodoh, kita akan menemukan kebahagiaan kita masing-masing. Tak ada jaminan karena saya mencintaimu hidup kita akan bahagia. Gak ada yang tahu seperti apa rencana Allah.

Kemungkinan 80% saya akan menikah setelah kembali ke Jayapura.

Senin, 21 Maret 2016

كُنْ أَنْتَ

لِأُجَارِيْهِمْ، قَلَّدْتُ ظَاهِرَ مَا فِيْهِمْ
فَبَدَوْتُ شَخْصاً آخَرْ، كَيْ أَتَّفَاخَر
وَ ظَنَنْتُ أَنَا، أَنِّي بِذَلِكَ حُزْتُ غِنَى
فَوَجَدْتُ أَنِّي خَاسِر، فَتِلْكَ مَظَاهِر
لَا لَا
لَا نَحْتَاجُ الْمَالَ، كَيْ نَزْدَادَ جَمَالًا، جَوْهَرْنَا هُنَا، فِي الْقَلْبِ تَلَالًا
لَا لَا
نُرْضِي النَّاسَ بِمَا لَا، نَرْضَاهُ لَنَا حَالًا، ذَاكَ جَمَالُنَا، يَسْمُو يَتَعَالَى
كُنْ أَنْتَ تَزْدَدْ جَمَالاً
أَتَقَبَّلْهُمْ، النَّاسُ لَسْتُ أُقَلِّدُهُمْ
إِلَّا بِمَا يُرْضِينِي، كَيْ أُرْضِينِي
سَأَكُوْنُ أَنَا، مِثْلِي تَمَامًا هَذَا أَنَا
فَقْنَاعَتِي تَكْفِينِي، ذَاكَ يَقِينِي

سَأَكُونُ أَنَا، مَنْ أَرْضَى أَنَا، لَنْ أَسْعَى لَا لِرِضَاهُمْ
وَأَكُونُ أَنَا، مَآ أَهْوَى أَنَا، مَالِي وَمَا لِرِضَاهُمْ
سَأَكُونُ أَنَا، مَنْ أَرْضَى أَنَا، لَنْ أَسْعَى لَا لِرِضَاهُمْ
وَأَكُونُ أَنَا، مَآ أَهْوَى أَنَا ، لَنْ أَرْضَى أَنَا بِرِضَاهُمْ

حمود الخضر

TIDAKKAH KITA RINDU



Rindu ….
Orang bilang rindu adalah karunia
Orang bilang rindu itu tanda cinta
Tidakkah kita rindu?

Cinta
Kasih Sayang
Tanggung jawab
Komitmen
Atau jangan-jangan sekedar menuntut kebebasan

Ataukah kita lupa bahwa tubuh kita terdiri dari jasad dan ruh
Lalu kita kita menjadi makhluk egois
Sedang ruh ini selalu rindu untuk kembali pada penciptanya
Hanya ia tertahan oleh tubuh kita

Kita bilang bahwa dunia ini hanya tempat mampir
Akhirat adalah tempat kembali
Lalu tidakkah kita rindu pada perjumpaan dengan Allah
Ataukah kita tak rindu berjumpa dengan manusia mulia
Yang di akhir nafasnya menyebut nama kita “ummati-ummati”

Mengapa kita menjadi egois, saling curiga, saling menuduh
Bisa jadi orang yang kita tuduh merasa paling benar hanyalah
Orang-orang yang meyakini bahwa yang dilakukannya adalah benar.
Kita katakan ia ahlul bid’ah. Padahal ia hanya berniat menyebar syi’ar

Kita katakan ia orang yang suka mengkafirkan.
Padahal tak ada kata kafirpun yang ia lontarkan pada saudaranya.
Ia hanya membagi apa yang baru ia ketahui.

Kita katakan ia membahayakan negara,
Padahal ia lebih banyak menebar manfaat pada masyarakat
Kita katakan ia mencuri uang negara.
Padahal ia menjaga agar kekayaan negara tidak dicuri.

Kita katakan ia riya’ dengan memamerkan amal. Padahal bisa jadi yang kita lihat hanya sebagian kecil amal mereka. Sedang kita menjadi manusia penghakim seakan tahu isi hati manusia.
Kita katakan ia haus kekuasaan. Sedangkan kita hanya menjadi pengkritik dan termakan fitnah. Sedang mereka jauh lebih menyiapkan segala kualitas untuk mengambil peran dalam mengurus negara.

Kita katakan ia perusak ideology negara. Padahal ia hanya mengingatkan bahwa dulu khilafah pernah ada. Jika tak ada mereka, kita tak pernah membuka lembaran sejarah.
Padahal kata Bung Karno Jangan Pernah Melupakan Sejarah

Tidakkah kita rindu?
Negeri yang adil, makmur
Tidakkah kita rindu?
Semua orang yang ada disekitar kita adalah saudara kita
Tidakkah kita rindu?
Keluarga yang qur’ani, cinta Illahi. Bukan penuntut kebutuhan duniawi
Tidakkah kita rindu?
Anak-anak yang selalu mendoakan kita setelah kita mati.

Andai jika hari ini kita ditanya
Jawaban apa yang sudah kita siapkan?

Tidakkah kita rindu???
Aku takut kita kehilangan cinta
Aku takut kita lupa bahwa kita pasti kembali.


                                                                                                                        Saif Zulfikar Ali

DUHAI TULANG RUSUKKU, AKU MASIH ANAK DARI IBU DAN AYAHKU






Ketika akad kuucapkan, akulah penanggung hidupmu
Akulah penjagamu wahai tulang rusukku
Akulah yang bertanggung jawab atas dunia dan akhiratmu
Akulah penerus tanggung jawab dari ayahmu

Duhai Tulang rusukku
Setelah kau jadi istriku
Semua kebutuhanmu adalah tanggung jawabku
Semua nafkah dariku itu untukmu

Namun istriku
Aku masih anak ayah dan ibuku
Aku masih bertanggung jawab pada mereka
Aku masih bertanggung jawab atas keperluan mereka

Ketika kau meminta baju baru
Disaat itu kulihat Ayahku memakai baju lusuh
Maafkan aku jika aku lebih mengutamakan ayahku
Ketika kau meminta jilbab baru
Disaat itu kulihat mukenah ibuku yang telah bolong
Maafkan aku jika aku lebih mengutamakan ibuku

Ketika kau meminta izin pulang ke rumah orang tuamu namun tidak kuizinkan
Bukan karena tidak mau
Aku butuh waktu untuk siap bertemu dengan orang tuamu
Untuk mengatakan aku telah membahagiakanmu
Bahwa aku telah menjadi penerus amanah ayahmu yang baik

Jika nafkahku tak memenuhi semua keinginanmu
Bersabarlah tulang rusukku
Lakukanlah apapun yang kau sukai
Kembangkanlah potensimu
Namun jaga marwahku sebagai Qowam bagi dirimu.

Karya : Saif Zulfikar Ali