Subhanallah….
Ungkapan pertama yang saya ucapkan ketika pertama kali masuk ke sebuah tempat
yang hanya dimasuki oleh orang-orang tertentu yang umumnya orang
mengatakannya”jahat”. Tapi mengapa ungkapan saya subhanallah. Karena dibalik
tembok yang tinggi ada sebuah lapangan luas yang dipinggirnya ada tanaman yang
sedang berbunga dengan indahnya. Sedikit merubah pandangan saya. Kalau di
film-film jeruji besi seperti kandang yang temboknya ialah kombinasi beton dan
besi. Ada memang. Kawan-kawan menyebutnya dengan istilah sel.
Di
Jayapura saya tinggal di Komplek perumahan BTN Kamkey Blok H. No. 148. Saya
berani nyebut aja alamat rumah saya karena rumah di alamat tersebut sudah
dijual Tahun 2007. Setiap berangkat ke sekolah ataupun bermain ke rumah teman
atau kabur main ke hutan di atas gunung, saya sering melewati sebuah bangunan
dengan tembok yang sangat tinggi. Terbersit dahulu seperti apa di dalamnya.
Saya dan teman-teman sering menyebutnya lembaga. Padahal lembaga itu maknanya
luas. Tapi saya dan orang-orang di sekitar itu biasa menyebutnya dengan sebutan
lembaga.
Tahun
2005 saat saya SMA kelas III saya baru tahu nama panjangnya tembok tinggi itu.
Namanya Lembaga Permasyarakatan Kelas I A Abepura. Disingkat Lapas Abepura.
Yang tinggal di sana di sebut napi alias narapidana itupun saya ketahui setelah
menonton acara di televise yang ada “bang napi”nya. Jadi teringat pesannya
“Ingat, kejahatan bisa terjadi bukan karena ada niat pelakunya namun juga
karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!.”
Apa
hubungannya saya dengan Lapas Abepura? Penasaran. Ini cerita bagaimana aku bisa
sering keluar masuk di sana. Pertama kali masuk tahun 2005 tapi gak lama
keluar, tahun 2006 masuk lagi itu juga gak lama keluar, tahun 2008 juga gak
lama, tahun 2009 pernah nyampe sebulan, dan terakhir tahun 2014 sempat pamitan
sama mereka di dalam sana.
Dari
mereka yang di dalam sana, saya termotivasi untuk memperbaiki diri, memahami
perasaan orang lain, memahami arti penyesalan, walaupun gak semua tobat beneran
setidaknya saya berkhusnuzhon ada cara-cara Allah untuk menunjukkan hidayah
kepada mereka juga saya. Ingat film dalam mihrab cinta kan. Copet yang niatnya
mencuri malah diminta jadi guru ngaji malah taubat jadi ustadz beneran. Inilah
jalan Allah. Intinya khusnuzhon dulu.
Kisah
ini dimulai ketika kelas III SMA semester 1 ketika pulang sekolah saya melihat
ada lingkaran kecil mahasiswa yang sedang asyik diskusi di Masjid di dekat
sekolah saya. Saya yang waktu itu sedang pakai seragam pramuka (karena disana
itu seragam hari sabtu) menghampiri dan mencoba bergabung dengan kakak-kakak
mahasiswa. Saya yang punya rasa ingin tahu sangat tinggi ingin banyak bertanya.
Diskusi pun terjadi, sesekali kami serius sesekali kami tertawa. Terasa teduh.
Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari dimana aku akan berkenalan dengan
orang-orang dibalik tembok derita itu.
(bersambung…..)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar