Rabu, 05 Agustus 2015

TAMAN SYURGA DI BALIK JERUJI BESI

Subhanallah…. Ungkapan pertama yang saya ucapkan ketika pertama kali masuk ke sebuah tempat yang hanya dimasuki oleh orang-orang tertentu yang umumnya orang mengatakannya”jahat”. Tapi mengapa ungkapan saya subhanallah. Karena dibalik tembok yang tinggi ada sebuah lapangan luas yang dipinggirnya ada tanaman yang sedang berbunga dengan indahnya. Sedikit merubah pandangan saya. Kalau di film-film jeruji besi seperti kandang yang temboknya ialah kombinasi beton dan besi. Ada memang. Kawan-kawan menyebutnya dengan istilah sel.
Di Jayapura saya tinggal di Komplek perumahan BTN Kamkey Blok H. No. 148. Saya berani nyebut aja alamat rumah saya karena rumah di alamat tersebut sudah dijual Tahun 2007. Setiap berangkat ke sekolah ataupun bermain ke rumah teman atau kabur main ke hutan di atas gunung, saya sering melewati sebuah bangunan dengan tembok yang sangat tinggi. Terbersit dahulu seperti apa di dalamnya. Saya dan teman-teman sering menyebutnya lembaga. Padahal lembaga itu maknanya luas. Tapi saya dan orang-orang di sekitar itu biasa menyebutnya dengan sebutan lembaga.
Tahun 2005 saat saya SMA kelas III saya baru tahu nama panjangnya tembok tinggi itu. Namanya Lembaga Permasyarakatan Kelas I A Abepura. Disingkat Lapas Abepura. Yang tinggal di sana di sebut napi alias narapidana itupun saya ketahui setelah menonton acara di televise yang ada “bang napi”nya. Jadi teringat pesannya “Ingat, kejahatan bisa terjadi bukan karena ada niat pelakunya namun juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!.”
Apa hubungannya saya dengan Lapas Abepura? Penasaran. Ini cerita bagaimana aku bisa sering keluar masuk di sana. Pertama kali masuk tahun 2005 tapi gak lama keluar, tahun 2006 masuk lagi itu juga gak lama keluar, tahun 2008 juga gak lama, tahun 2009 pernah nyampe sebulan, dan terakhir tahun 2014 sempat pamitan sama mereka di dalam sana.
Dari mereka yang di dalam sana, saya termotivasi untuk memperbaiki diri, memahami perasaan orang lain, memahami arti penyesalan, walaupun gak semua tobat beneran setidaknya saya berkhusnuzhon ada cara-cara Allah untuk menunjukkan hidayah kepada mereka juga saya. Ingat film dalam mihrab cinta kan. Copet yang niatnya mencuri malah diminta jadi guru ngaji malah taubat jadi ustadz beneran. Inilah jalan Allah. Intinya khusnuzhon dulu.
Kisah ini dimulai ketika kelas III SMA semester 1 ketika pulang sekolah saya melihat ada lingkaran kecil mahasiswa yang sedang asyik diskusi di Masjid di dekat sekolah saya. Saya yang waktu itu sedang pakai seragam pramuka (karena disana itu seragam hari sabtu) menghampiri dan mencoba bergabung dengan kakak-kakak mahasiswa. Saya yang punya rasa ingin tahu sangat tinggi ingin banyak bertanya. Diskusi pun terjadi, sesekali kami serius sesekali kami tertawa. Terasa teduh. Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari dimana aku akan berkenalan dengan orang-orang dibalik tembok derita itu.

(bersambung…..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar